Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

[SEBULAT DONAT] #10 - Filosofi Donat

Ah, malu aku jika harus disuruh berulang-ulang membaca judul. Terlalu menyontek kata-katanya Mbak Dee. Terlalu melankolis. Dan, aku yakin Saudara sekalian akan berpikir, “Palingan hanya kalimat-kalimat super maksa untuk menghubungkan antara donat dan risalah kehidupan.” Namun, Kawan, kalian tak sepenuhnya salah. Itu pula yang aku pikirkan ketika pertama kali membuat tulisan itu. Gampang, tinggal buat filosofi kehidupan yang maksa disambungkan ke kata-kata donat. Tapi, jangan khawatir. Mungkin aku akan mengecewakan kalian, mungkin tulisan ini takkan semenakjubkan yang terbayangkan. Namun aku ingin mendedikasikan sesuatu untuk tulisan ini. Biarlah jika tulisan ini super maksa, hanya saja izinkan aku untuk membuatnya sedikit lebih bermakna. Saudara, mari kita ingat-ingat kembali. Apakah kalian ingat segala jenis cerita tentang donat, yang akhirnya bisa kalian tarik kesimpulan dari sana? Maaf, mungkin kalian ingin protes karena, bagaimana mungkin kalian bisa mendapatkan kesim...

[SEBULAT DONAT] #9 - Overseas Donut

Memasuki masa-masa mahasiswa adalah hal yang menegangkan sekaligus menyenangkan. Bagiku, waktu untuk mengenal donat secara lebih mendalam dan sentimental bisa terfokus di masa kuliah ini. Tentunya salah satu alasan adalah karena keuangan sepenuhnya diatur olehku sendiri. Jadi, untuk memilih mau jajan donat (dengan risiko hemat uang makan siang) bisa kulakukan sepuasnya. Meskipun pada kenyataannya aku masih tidak bisa bebas jajan donat, terutama karena harga donat modern yang semakin mahal. Pun, harga donat abal-abal yang mengecewakan, mengingat diriku yang susah move on dari donat kampung. Tak hanya itu, alasanku menjadikan cerita masa kuliah sebagai satu hal yang penting adalah karena di masa ini akhirnya aku bepergian jauh. Dalam rangka Praktik Kerja Lapangan memang, namun bagiku ini menyenangkan. Ah, tidak, hanya karena PKL itu sudah selesai makanya kubilang menyenangkan. Beberapa hari mendekati PKL membuatku deg-degan setengah hidup. Apa hubungannya PKL, bepergian jauh,...

[SEBULAT DONAT] #8 - Predator Alami

Dari segala ceritaku tentang donat, segala tentang kelembutan-kenikmatan-kelumeran dan segalanya, akhirnya aku tahu tentang sebuah fakta yang mencengangkan dari seorang teman. Dia. Tidak. Suka. Donat. Maksudnya, bagaimana bisa gitu? Bagaimana mungkin ada seseorang yang tidak menyukai makanan manis-manis nan mengetarkan hati seperti itu? Bagaimana bisa ada seseorang yang dapat menolak keindahan rasa ketika donat tercerna oleh sistem? Namun, jika Saudara sekalian beranggapan aku akan berlaku seperti Spongebob yang berusaha mencekoki Squidward dengan Krabby Patty akan dia merasakan kenikmatannya dan akhirnya doyan, Saudara salah besar. Sedikit-banyak, aku tak peduli. Hanya saja rasanya aneh ketika tahu ada seseorang yang tidak menyukai favoritmu, padahal kamu begitu tergila-gila pada hal itu. Berkali-kali menjelaskan seberapa enak donat juga tak berpengaruh signifikan. Roti yang padat dan empuk, topping -nya yang beraneka ragam dan kreatif, hingga paduan semuanya yang berp...

[SEBULAT DONAT] #7 - Dua Kontradiktif

Segala hal di dunia ini umumnya berlaku kontradiktif dan/atau saling berlawanan. Allah pun telah menciptakan segalanya secara berpasang-pasangan. Langit dan bumi, gelap dan terang, suka dan sedih. Lalu, muncul rasa lain, manis dan pahit. Dua rasa yang saling bertentangan. Akhirnya, kedua rasa bertentangan itu bertemu. Mungkin karena jodoh, mungkin terseret takdir. Keduanya bertemu dalam tempat yang sering tersebut dalam cerita ini. Ya, toko donat modern. Kafe donat modern? Ah, entah, aku terlalu bingung harus menamainya apa. Sepakat menamainya kafe saja? Baiklah. Mungkin terinspirasi dari roti tawar dicelup kopi yang rasanya jadi makin enak nggak ketulungan, akhirnya perusahaan-perusahaan itu menggabungkan dua unsur yang kontradiktif. Manis dan pahit. Donat dan kopi. Bicara soal kopi, tenang, aku takkan menjelaskan panjang lebar soal minuman pahit-namun-pantas-dinikmati itu. Sudah terlalu banyak dibahas, bukan? Mulai dari Filosofi Kopi milik Dee Lestari, hingga bahasan kop...

[SEBULAT DONAT] #6 - Saingan Dari Kota

Berapa tahun kalian mengalami masa sekolah menengah? Empat? Lima? Enam? Apakah cukup menyenangkan seperti yang dikatakan orang-orang? Untukku sendiri, ya. Tahun-tahun itu cukup menyenangkan. Tentu tak hanya diisi tawa, bahkan mungkin lebih didominasi luka. Tapi tak mengapa, karenanya diriku berkembang. Tak ingin kuceritakan perihal sekolah menengah itu lebih jauh. Karena, lokasi SMA-ku tak berbeda jauh dengan lokasi SMP. Hanya selisih maksimal satu kilometer, kurasa kurang. Oleh karenanya, tak ada hal lain mengenai donat yang bisa kuceritakan pada Saudara sekalian. Melanjutkan pendidikan dari sekolah menengah itu, akhirnya aku sampai pada kota ini. Kota yang diagung-agungkan para pencari kerja. Kota yang diminati warga segala penjuru desa. Kota yang dihindari mereka, yang sedikit-banyak mengerti. Ibukota negara, Jakarta. Aku kuliah untuk jurusan yang banyak dianggap orang-orang susah. Padahal … memang. Aku pun tak tahu kenapa bisa sampai di sini. Namun, empat tahun di sini, ...

[SEBULAT DONAT] #5 - Hangat dan Donat

Ada satu dan beberapa hal yang belum kuceritakan sebelum kisah yang ini, yaitu alasan pendukung mengapa aku akhirnya menyukai donat. Meski didominasi oleh rasa pertama berdasarkan donat kampung, alasan pendukung ini tidak bisa diremehkan begitu saja. Alasan itu terkait lagi dengan cerita soal keluarga. Yaitu, bahwa budhe- ku adalah mantan seorang pembuat kue. Sebentar, sebelum bergerak lebih lanjut, sepertinya aku ingin menceritakan soal kata budhe di situ dulu. Budhe di bahasa Jawa merupakan gabungan dari kata “ibu” dan “gedhe”. Artinya adalah beliau merupakan kakak perempuan dari ibu atau ayahku. Kalau di bahasa Indonesia sebutannya apa sih? Tante ya? Ya sudah sebut tante saja, nanti kalau ada revisi, di tulisan selanjutnya. Jadi, masterpiece dari tante selain kue tartnya adalah donat. Eh, sebenarnya kurang tahu juga. Kejadian ini terjadi ketika aku masih berusia di bawah sepuluh tahun, sekarang sudah … (sebut tidak, ya~). Intinya, sudah cukup lama dan memori masa kecil s...

[SEBULAT DONAT] #4 - Turut Berjalan Seiring Zaman

Waktu yang terus berjalan dan tren yang selalu berkembang membuat pengrajin donat harus memutar otak agar bisnisnya lancar. Semakin ke sini, taburan-taburan di atas donat semakin bermacam-macam. Aku tentu tak mengikuti perkembangan perusahaan manakah yang pertama kali memiliki ide ini. Kuduga, mereka berpikir dengan menambah varian taburan donat agar tak kalah dengan macam-macam roti yang mulai merebak. Ah, mereka tak tahu saja, ada seseorang yang benar-benar menyukai donat tak peduli dengan segala hal dan rasa yang ditawarkan roti itu. Untungnya, mereka tak mengerti. Karena, seseorang itu tak pernah terpikir untuk membeli donat yang dijajakan perusahaan-perusahaan itu. Maklum saja, anak itu masih murid sekolah menengah. Pertama kali kurasakan donat modern itu adalah ketika … maaf, aku lupa. Ada dua memori yang saling bertabrakan di otakku sekarang. Apakah momen itu dimulai oleh tanteku yang memang sering membawakan macam-macam makanan mahal? Ataukah, dari sepupuku yang tinggal ...

Istana Ini Milik Kita

Istana ini milik kita Dan kau berlarian Kebun mawar telah kau putari ratusan kali Taman anyelir sudah muak kau kelilingi Suara aduh yang keluar dari mulutmu tak terhitung berapa kali Sekali dan lagi Duri-duri mulai lelah mencium bau kaki Yang telanjang Dan tak mau melengang Tapi kau terus berlari Menyapa katak dan rerumputan Menepuk jari dalam gesekan bara dan bata Cengkerik mulai berisik Burung-burung mulai mengukung Ular linggis terus berdesis Tapi kau tak peduli Kau terus berlari Tertawa Pelan Lalu Pergi Menjauh Aku tersenyum dari sini Melihat bayangmu yang semakin jauh tak terperi Istana ini milik kita Meski ternyata kau tak menginginkannya

[SEBULAT DONAT] #3 - Bersama Donat

Bersama Donat          Menginjak sekolah menengah, hidupku tak lagi sama. Ah, tidak, sebenarnya masih sama. Masih hidup yang gitu-gitu saja. Tinggalku masih di sebuah kampung besar yang tidak jauh dari kota. Makananku juga masih itu-itu saja. Penjual donat keliling? Masih ada, meski mungkin bukan orang yang sama. Orang sepertiku memang tidak terlalu peduli dan menghapalkan wajah-wajah penjual donat itu. Lalu, mengapa kuceritakan masa dimana hidupku beranjak ke sekolah menengah? Tak lain dan tak bukan adalah karena aku akhirnya bersekolah di kota. SMP itu terletak di dekat kantor walikota, hanya berbeda dua (atau tiga) gedung dengan kantor itu. Jika Saudara membaca tulisan sebelumnya, tentu kalian tahu seberapa jauh jarak rumah ke sekolah. Masih adakah pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Saudara itu? Ah, aku tahu. Tentu tentang hubungan antara sekolah menengah dengan donat, bukan? Sebenarnya, tidak penting. Dan, entahlah, sepertinya ini agak t...

[SEBULAT DONAT] #2 - Warna-warni

Warna-warni           Saudara, di sini aku bercerita, namun aku tak segan apabila engkau ingin mengingatkanku. Ya, aku terlalu tenggelam pada donat sehingga lupa akan diri sendiri. Tapi ya sudah, toh hal itu bukan satu hal yang terlalu perlu untuk terungkapkan. Kuharap Saudara sekalian tidak mendebatnya di akun media sosial masing-masing. Tempat asal dimana aku hidup selama tujuh belas tahun adalah sebuah kampung yang terletak di Jawa Timur. Sayangnya, kalian harus siap kecewa jika beranggapan ‘kampung’ di sini adalah desa tertinggal yang akan membuat kisah ini semakin dramatis. Kampungku nun jauh di sana adalah sebuah desa yang berbatasan langsung dengan kelurahan. Jarak ke pusat kota pun tak begitu jauh. Sekitar empat kilo untuk ke kantor walikota dan enam kilo untuk menuju Alun-alun. Namun sekali lagi, apakah kalian peduli? Wah, sepertinya di sini aku terlalu banyak bicara! Tapi tak mengapa, hal ini akan relevan dengan cerita yang akan s...

[SEBULAT DONAT] #1 - Suka Saja

Sebulat Donat Suka Saja Alasan mengapa seseorang menyukai sesuatu bisa menjadi bermacam. Macam hal itu jika dibeberkan secara panjang mungkin akan membuat mata Saudara sekalian kelelahan. Capek. Tak sanggup lagi mengikuti irama. Tapi ada satu alasan yang sering tersebut meskipun harusnya tidak. Mengapa? Karena alasan itu terdengar klise. “Suka saja,” Ah, setiap kali aku mendengar kalimat itu dari jawaban pertanyaan, “Mengapa kamu suka ini?” rasanya ada yang bergejolak dalam hati. Gejolak yang menolak untuk dipaksakan ada. Tahukah kalian? Jawaban itu sama klisenya dengan kutipan anak muda zaman sekarang yang mengatakan bahwa cinta tak butuh alasan. Haha. Maaf, tapi di sini aku tak ingin memperpanjang debat dengan menyatakan alasanku menyebutnya klise. Tapi, Saudara, yang ingin kuceritakan di sini adalah sebuah alasan. Alasan yang membawa rasa suka dalam perasaan ini berpapasan jalan dengan donat. Dan, ya, awalnya aku ingin menjelaskan bahwa alasan suka itu ada...

[CERPEN] - Cilok Dalam Kotak Kaca

Hai, aku cilok. Kalian tentu sudah mengenal siapa diriku. Tak perlu berkelit tidak tahu hanya karena aku tidak memiliki kelas. Jangan salah, sekarang teman-temanku sudah ada di mana-mana! Pun,  di pusat perbelanjaan yang kalian agung-agungkan demi memenuhi gaya hidup itu. Tapi itu teman-temanku. Berbeda denganku. Aku dan saudara-saudaraku berada di sebuah kotak kaca. Kubus itu terletak di atas gerobak, Cak Imam yang mendorongnya. Ah, sebelum lupa, aku harus menyebutkan tempat tinggal. Aku diproduksi di Surabaya. Sebenarnya, nama asliku penthol. Hanya saja aku tahu kalian lebih mengenalku dengan sebutan cilok, meski aku tahu keduanya berbeda. Dari pengetahuan yang kudengar dari bisik-bisik saudaraku, teman-temanku di Jogja sana tidak disebut penthol. Orang-orang menyebut cilok. Aneh, karena kurasa lazimnya orang Jawa akan menyebut penthol . Oh iya, soal penthol dan cilok menurutku sangat jauh berbeda. Entahlah, coba makan cilok di Puncak, Bogor, lalu bandingkan dengan penthol y...

Lagi

Kembali berjumpa Dalam wujud berbeda Tak perlu waktu lama untuk kembali berpaham Denganmu yang masih selanggam Ceria Jenaka Bahagia Obsesi terhadap senandung dan kidung Berdentum bagi pelaut yang ulung Gurat abu dan gores warna terserak Mereka tak pernah berarak Senyum dan tawa Dekap yang hangat Dan dekat yang lengkap Lagi, kau kembali menemui Mimpi-mimpi yang selama ini kurangkai Menjadi tak bermakna lagi Ada langkahmu dalam ruang yang kulalui Lagi, kau pergi dan kita tak bersua lagi Kenangan tentangmu masih tak mau lari Dan kau memang orang yang sama Sebuah entitas yang berbeda

Jangan Pergi

“Jangan pergi!” Katamu Kemarin Rel-rel kereta berselimut basah Denting jam mengalun lemah Tik Tik Engkau mengeratkan jaket Kado dariku dua tahun lalu Saat kau menangis dan aku hanya sanggup meringis Sebuah amplop merah keluar Kukira sudah tumpah Ruah Segala tangisan Semua amarah Aku tak jadi pergi Kau tak jadi peduli

Dan Aku

Burung berguguran Lapis es beterbangan Cemara berserakan Dan kau Mengubah keinginan Dingin mencekam Panas mendekam Anak-anak kecil telanjang berlarian Dan kau Sekali lagi diam Dasi terlepas santai Kancing kemeja berderak capai Kucing kuning menggeletak di lantai Dan aku Sadar Kau selalu abai

Selamanya Di Sini

Gelap merengkuh malam Remang memeluk kelam Ruas-ruas cahaya perlahan berjatuhan berdebam Bias sinar temaram menyorot dan meregang Daun-daun bergesekan membentuk suara cenggang Berdiri tegak di sana Kau dalam balutan hangat kemeja Tetes hujan tak lagi jadi perhatian Lalu lalang orang Bagimu hanyalah belalang Mampir sebentar Lalu hilang Angin malam merasuk menembus Segala batas yang menghalangi perasaan dan rindu Kau terdiam di sana Aku ingin selamanya di sini

[CERPEN] - Lucu

Kali ini, membukanya terasa begitu berat. Pintu kayu yang terpasang sebagai garda terdepan keamanan rumah. Sebuah kertas terlipat berwarna keemasan tampak terserak. Sumber decitan ketika persegi panjang tadi terbuka. Aku menundukkan tubuh dan perlahan mengambilnya. Sebuah undangan. Segenap perasaan aneh menyembul tiba-tiba tanpa kutahu asalnya. Undangan tersebut tidak mencantumkan nama di depan. Pun, untuk acara apa benda itu disebar. Aku sama sekali tak tahu apa dan mengapa, hanya saja ada kabut yang menyelimut. Kulepaskan ransel di kursi tamu. Lelahnya kerja hari ini dan beragam masalah yang menghadang tak lagi kurasa jelas. Semuanya digantikan segala rasa penasaran yang menendangi semua pegal dan linu. Sambil bersandar, mulai kubuka pelan plastik undangan itu. Tidak terlalu rekat. Warnanya bening seperti plastik pada umumnya. Garis merah di pelekatnya masih jelas. Kukeluarkan kertas keemasan itu. Jantungku semakin bergerak tak keruan. Halaman sampul hanya berisi nama da...

Biru

Aku kembali jatuh terulang dan berulang lagi tepat seperti kali pertama berbalik dan menukik lagi Biru langit Biru laut Tak lagi terlihat indah bagiku Ada warna lain yang memancar darimu

[RANDOM THOUGHT] - Memilih

Menjadi dewasa itu berat, butuh banyak persiapan sebelum akhirnya mampu.  Malam ini saya lihat  instagram stories  dari beberapa temen SMA yang temanya sama, melepas temen SMA lainnya yang akan pergi ke luar negeri. Tak terhitung berapa emosi yang ditampilkan. Terus, apa hubungannya dengan menjadi dewasa? Sederhananya, hal itu memicu sebuah ruang di pikiran saya untuk memikirkan banyak hal. Bahwa di usia dua puluhan ini sudah waktu menjadi dewasa dan bertanggung jawab pada pilihan-pilihan hidup yang sudah ditentukan entah sejak kapan. Entah pilihan untuk mengabdi kepada negara. Entah pilihan untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Pilihan untuk mencapai derajat keilmuan yang menakjubkan. Atau bahkan mungkin pilihan untuk menambah populasi peradaban.                      Alias, menikah Dan tentu masih banyak lagi pilihan lainnya. Satu pilihan itu akan memiliki konsekuensi ke depannya. Ap...

[RANDOM THOUGHT] - Ternyata Aku Rindu

Sudah lebih dari empat bulan aku meninggalkan Jakarta. Bohong rasanya jika aku bilang "tidak terasa", karena bagiku segala waktu selalu kurasakan dengan jelas. Baik, buruk, seram, indah, semuanya selalu terpatri dalam pikiran. Meninggalkan Jakarta. Awalnya kukira itu adalah hal yang biasa. Aku kuliah di sana selama empat tahun, lengkap dengan keringat dan air mata yang melengkapi. Darah? Kurasa itu juga bisa dimasukkan. Tapi, tidak seperti kebanyakan teman yang memiliki " love-hate relationship " dengan Jakarta, hubungan yang aku miliki kebanyakan adalah " love ", meski masih memiliki beberapa " hate ". Tapi, secara keseluruhan, aku (sangat) menyukai Jakarta. Dulu, setiap waktu untuk pulang kampung adalah salah satu yang sangat kuinginkan. Sangat ditunggu-tunggu oleh kami, aku dan mayoritas teman kuliahku. Maklum, kebanyakan dari kami adalah perantau. Aku sendiri berasal dari Kabupaten Mojokerto, tak jauh dari Kota Surabaya. Tempatku tin...

Gunungan Lumpur

Manusia-manusia berlari dalam hujan yang tak kian berhenti satu-dua mulai menari tak sanggup lagi dan akhirnya berhenti dalam sebuah lelah tak terperi Aku di sini dikeliling lumpur yang menggenang bau-bau busuk tak berhenti menyerang orang-orang yang terlihat di sekitar hanya tidur dan mendengkur tak peduli pada segala keliling dalam genangan lumpur Rasa sesak menyelimuti, tak sanggup berdiri, ingin ikut berhenti, tapi aku belum ingin mati Untuk apa? Aku masih bisa Aku sanggup menyingkirkan lumpur-lumpur ini Aku kuat mewangikan busuk-busuk ini Tapi mengapa dengan begitu mudahnya kau menyerah? Ah, aku harus bergegas sebelum segala hal ini segera berubah menjadi gunungan lumpur

Lanjut

Warna merah telah memudar Bekas airmata telah mengering Pening kepala mulailah datang Mari lanjutkan kerja Noda hitam telah memudar Bulir keringat telah mengering Nyeri otot mulailah datang Mari lanjutkan kerja

Kali Ini Aku Tak Mau Senja

Mentari, jangan kau pergi Kali ini kuingin kau untuk tetap di sini Hadir dan temani Hancurkan gelisah dalam hati Mentari, jangan kau hilang Kali ini kunyatakan aku membenci malam Hitam kelam yang menyeruk legam Tak ingin ku berteman malam Mentari, kau di sini saja Kali ini aku tak mau senja Mega terlalu bingar bagiku yang remaja Jingga terlalu dingin untuk mengantar seorang raja dan raja, tak kan sanggup bertahan dalam rona Mentari, jangan kau pergi Aku tahu selama ini kubenci Aku ingat tak pernah kurelakan malam Aku paham dahulu senja adalah cinta Tapi kali ini aku tak mau semua Aku mau kau, mentari Setidaknya jangan pergi Hingga tlah sampai raga ini pada satu yang sempurna

[RANDOM STORY] - Welaus: Tantangan dalam Kehati-hatian

Jalanan berpuluh kilometer itu seringkali disebut Welaus. Tak berbeda dengan nama daerah dimana jalan tersebut merangsek. Orang-orang sini lebih sering menyebutnya dengan Welaos, entah karena penyebutannya memang begitu, entah karena telinga yang sedikit tidak sinkron. Jalan ini terbentang setelah batas Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka sudah ditemui, untuk setelahnya harus terlewat jika ingin ke pusat kota Malaka di Betun. Ah, apa nama kabupaten tersebut asing? Ngomong-ngomong, kedua kabupaten itu terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Aku yakin seorang penyair akan bisa melahirkan ratusan karya hanya dengan berdiam di Welaus. Alamnya terlampau indah untuk dilihat dari atas motor. Seandainya tak diburu waktu, akan sangat menyenangkan untuk menyempatkan diri menikmati keindahannya.  Dari atas jalanan tersebut dalam terlihat laut, yang entah laut itu apakah Laut Timor atau Laut Selatan (atau mungkin sebenarnya keduanya sama?), biru yang bercampur hijau begitu menyejukka...