Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

Setapak Kita Berbeda

Setapak kita berbeda. Aku berjalan di sebelah kanan. Berada pada Timur tempat matahari terbit. Berjalan lurus dengan sedikit melenggok di beberapa bagian. Kau melangkah di sebelah kiri. Bersama Barat tempat matahari menghilang sejenak. Berjalan menyilang dan lurus jika telah tiba waktunya. Sesekali aku menoleh. Ke arahmu. Ke arah seseorang yang telah begitu lama menjadi kawan berjalan sekian lama. Ke arah manusia yang paling kuharapkan akan menjadi tempat mengaduku. Namun, kau tak lakukan hal yang sama. Matamu lurus menatap ke depan. Langkahmu tak terhenti barang sedetik pun. Satu-satu namun pasti. Satu-satu namun mantap. Dan aku selalu ingat waktu dimana kita berjalan pada satu jalan yang sama. Berjalan dengan cara yang sama. Berjalan dengan rintangan yang sama. Persis. Namun, kini setapak kita berbeda. Kau memilih kiri, aku memilih kanan. Tak ada yang salah. Tujuan kita sama. Begitu katamu, bukan? Ya, tak ada yang salah. Hanya saja aku merasa sepi. Tak terhitung ...

Salam Dariku, Bangga

Halo, Sombong Masih ingatkah kau tentangku? Ah, maaf, aku bercanda. Tentu kau tahu. Tentu kau tak mungkin lupa akan waktu yang selalu kita lalui bersama. Tak terpisah. Hingga satu waktu. Aku masih di sini, dan selalu miris melihatmu. Orang-orang baik tak menyukaimu. Hina menganggapmu. Mereka menjauhimu. Pergi, berusaha tak kembali mendekatimu. Namun, aku juga selalu iri melihatmu. Orang-orang baik tak menyukaimu. Hina menganggapmu. Mereka menjauhimu. Pergi, berusaha tak kembali mendekatimu. Orang-orang itu telah tahu kau buruk. Orang-orang telah sadar bahwa kau tak pantas didekati. Orang-orang melangkahkan kaki sejauh langkah yang tercipta, khusus agar tidak bersinggung denganmu. Dan mereka masih tidak sadar aku sama buruknya denganmu. Akulah satu dari sekian banyak penyebabmu. Tapi mereka tidak sadar. Mereka masih mendekatiku. Mereka berusaha mencari ketika tak menemukanku. Mereka mencintaiku sebesar mereka membencimu. Mereka hanya tak sadar. Akulah satu dari sekian banyak ...

[FLASH FICTION] - Hitam dan Malam Kelam

Pria itu berpakaian hitam. Kelam. Dalam gelapnya malam. Tak ada bintang dalam malam kali ini, seperti tak ada harapan dalam mimpi tergelapmu. Pria itu menyatu dengan bayangannya. Dengan bayangan malam. Dengan bayangan bulan yang hilang. Dengan cahaya bintang yang tak sudi tampak. Dan dia terus berjalan seorang diri. Tidak ada apa pun di sekitarnya selain kesunyian dan keheningan yang membunuh. Tidak ada. Namun dia tak menghentikan langkah. Melaju tanpa mengenal lelah. Nyawa-nyawa di sekitarnya mulai berdesus. Dia tentu orang jahat.                      Di balik jaket hitamnya mungkin tersimpan selongsong peluru, sebuah pistol, sebilah pisau, segenggam granat, dan segepok uang yang berhasil dirampok dari bank. Di saku celananya mungkin berisi ponsel mutakhir curian. Dan juga dompet berisi uang hasil copet. Atau masker untuk menutupi kedok. Nyawa-nyawa lain mulai menya...