Langsung ke konten utama

[FLASH FICTION] - Hitam dan Malam Kelam

Pria itu berpakaian hitam. Kelam. Dalam gelapnya malam.
Tak ada bintang dalam malam kali ini, seperti tak ada harapan dalam mimpi tergelapmu.
Pria itu menyatu dengan bayangannya. Dengan bayangan malam. Dengan bayangan bulan yang hilang. Dengan cahaya bintang yang tak sudi tampak.
Dan dia terus berjalan seorang diri. Tidak ada apa pun di sekitarnya selain kesunyian dan keheningan yang membunuh. Tidak ada. Namun dia tak menghentikan langkah. Melaju tanpa mengenal lelah.
Nyawa-nyawa di sekitarnya mulai berdesus.
Dia tentu orang jahat.                     
Di balik jaket hitamnya mungkin tersimpan selongsong peluru, sebuah pistol, sebilah pisau, segenggam granat, dan segepok uang yang berhasil dirampok dari bank.
Di saku celananya mungkin berisi ponsel mutakhir curian. Dan juga dompet berisi uang hasil copet. Atau masker untuk menutupi kedok.
Nyawa-nyawa lain mulai menyahut.
Jangan nilai orang dari luarnya.
Di balik jaket hitamnya mungkin tersimpan kitab suci yang dibaca seusai ibadah, pisau dapur hadiah untuk ibunya yang ulang tahun, segenggam obat yang baru saja ditebus untuk ayahnya, dan segepok uang yang ia tabung sejak bocah.
Di saku celananya mungkin berisi posel hasil kerja kerasnya. Dan dompet yang berisi uang untuk sebuah panti yayasan. Atau sebungkus masker untuk korban kabut asap.
Nyawa-nyawa itu terus berceloteh, tak ingin mengakhirkan debat mereka.
Sang pria berpakaian hitam berhenti ketika ia melewati satu kotak amal. Lipatan-lipatan uang kontan ia masukkan. Lalu beranjak pergi.
Sang pria berpakaian hitam berhenti ketika melihat kucing kecil berusia dua bulan. Sebilah pisau terlempar keluar dari jaketnya, mengarah ke si kucing. Cepat. Dan, tepat. Berkuranglah sebuah nyawa.

Namun pria itu tak bergeming. Dia terus berjalan meninggalkan apa yang dilaluinya. Dia menyatu dalam bayangannya. Pria itu berpakaian serba hitam, dan dalam malam kelam dia menghilang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu