Pria itu berpakaian hitam. Kelam. Dalam gelapnya malam.
Tak ada bintang dalam malam kali ini, seperti tak ada harapan dalam
mimpi tergelapmu.
Pria itu menyatu dengan bayangannya. Dengan bayangan malam. Dengan
bayangan bulan yang hilang. Dengan cahaya bintang yang tak sudi tampak.
Dan dia terus berjalan seorang diri. Tidak ada apa pun di
sekitarnya selain kesunyian dan keheningan yang membunuh. Tidak ada. Namun dia
tak menghentikan langkah. Melaju tanpa mengenal lelah.
Nyawa-nyawa di sekitarnya mulai berdesus.
Dia tentu orang
jahat.
Di balik jaket hitamnya mungkin tersimpan selongsong peluru, sebuah
pistol, sebilah pisau, segenggam granat, dan segepok uang yang berhasil
dirampok dari bank.
Di saku celananya mungkin berisi ponsel mutakhir curian. Dan juga
dompet berisi uang hasil copet. Atau masker untuk menutupi kedok.
Nyawa-nyawa lain mulai menyahut.
Jangan nilai orang dari luarnya.
Di balik jaket hitamnya mungkin tersimpan kitab suci yang dibaca
seusai ibadah, pisau dapur hadiah untuk ibunya yang ulang tahun, segenggam obat
yang baru saja ditebus untuk ayahnya, dan segepok uang yang ia tabung sejak
bocah.
Di saku celananya mungkin berisi posel hasil kerja kerasnya. Dan
dompet yang berisi uang untuk sebuah panti yayasan. Atau sebungkus masker untuk
korban kabut asap.
Nyawa-nyawa itu terus berceloteh, tak ingin mengakhirkan debat
mereka.
Sang pria berpakaian hitam berhenti ketika ia melewati satu kotak
amal. Lipatan-lipatan uang kontan ia masukkan. Lalu beranjak pergi.
Sang pria berpakaian hitam berhenti ketika melihat kucing kecil
berusia dua bulan. Sebilah pisau terlempar keluar dari jaketnya, mengarah ke si
kucing. Cepat. Dan, tepat. Berkuranglah sebuah nyawa.
Namun pria itu tak bergeming. Dia terus berjalan meninggalkan apa
yang dilaluinya. Dia menyatu dalam bayangannya. Pria itu berpakaian serba
hitam, dan dalam malam kelam dia menghilang.
Komentar
Posting Komentar