Langsung ke konten utama

Setapak Kita Berbeda

Setapak kita berbeda.
Aku berjalan di sebelah kanan. Berada pada Timur tempat matahari terbit. Berjalan lurus dengan sedikit melenggok di beberapa bagian.
Kau melangkah di sebelah kiri. Bersama Barat tempat matahari menghilang sejenak. Berjalan menyilang dan lurus jika telah tiba waktunya.
Sesekali aku menoleh. Ke arahmu. Ke arah seseorang yang telah begitu lama menjadi kawan berjalan sekian lama. Ke arah manusia yang paling kuharapkan akan menjadi tempat mengaduku.
Namun, kau tak lakukan hal yang sama. Matamu lurus menatap ke depan. Langkahmu tak terhenti barang sedetik pun. Satu-satu namun pasti. Satu-satu namun mantap.
Dan aku selalu ingat waktu dimana kita berjalan pada satu jalan yang sama.
Berjalan dengan cara yang sama.
Berjalan dengan rintangan yang sama.
Persis.
Namun, kini setapak kita berbeda. Kau memilih kiri, aku memilih kanan. Tak ada yang salah. Tujuan kita sama. Begitu katamu, bukan?
Ya, tak ada yang salah. Hanya saja aku merasa sepi. Tak terhitung seberapa banyak orang yang menapaki jalan ini bersamaku, namun aku harap kau di sini. Tapi, tidak. Kau bahkan tak menoleh ke arahku.
Ya, tak ada yang salah. Lalu, mengapa aku tak bergabung di jalanmu? Tentu, karena aku lebih menyukai jalan lurus yang menyimpan banyak batu runcing ini. Tentu, karena aku tak menyukai jalanmu yang meski nyaman, namun begitu curam. Aku tak sanggup, dan aku tak ingin.
Maka, jika akhirnya kau memutuskan untuk menoleh ke arahku, aku akan siap membalas senyummu. Jangan takut, kau boleh ikut berjalan bersamaku. Jangan pula takut, aku takkan mencoba menarikmu dengan kuat agar kau mengikuti alurku. Aku tidak seperti itu.
Yang ingin kukatakan hanya, bahwa ketika kau menoleh ke arahku, lihatlah telapak yang terentang ke arahmu. Genggam erat. Jangan lepaskan. Dan, percayalah bahwa kita akan sampai pada akhir yang sama.

Meski setapak kita berbeda…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu