Setapak kita berbeda.
Aku berjalan di sebelah kanan. Berada pada Timur tempat matahari
terbit. Berjalan lurus dengan sedikit melenggok di beberapa bagian.
Kau melangkah di sebelah kiri. Bersama Barat tempat matahari
menghilang sejenak. Berjalan menyilang dan lurus jika telah tiba waktunya.
Sesekali aku menoleh. Ke arahmu. Ke arah seseorang yang telah
begitu lama menjadi kawan berjalan sekian lama. Ke arah manusia yang paling
kuharapkan akan menjadi tempat mengaduku.
Namun, kau tak lakukan hal yang sama. Matamu lurus menatap ke
depan. Langkahmu tak terhenti barang sedetik pun. Satu-satu namun pasti.
Satu-satu namun mantap.
Dan aku selalu ingat waktu dimana kita berjalan pada satu jalan
yang sama.
Berjalan dengan cara yang sama.
Berjalan dengan rintangan yang sama.
Persis.
Namun, kini setapak kita berbeda. Kau memilih kiri, aku memilih
kanan. Tak ada yang salah. Tujuan kita sama. Begitu katamu, bukan?
Ya, tak ada yang salah. Hanya saja aku merasa sepi. Tak terhitung
seberapa banyak orang yang menapaki jalan ini bersamaku, namun aku harap kau di
sini. Tapi, tidak. Kau bahkan tak menoleh ke arahku.
Ya, tak ada yang salah. Lalu, mengapa aku tak bergabung di jalanmu?
Tentu, karena aku lebih menyukai jalan lurus yang menyimpan banyak batu runcing
ini. Tentu, karena aku tak menyukai jalanmu yang meski nyaman, namun begitu
curam. Aku tak sanggup, dan aku tak ingin.
Maka, jika akhirnya kau memutuskan untuk menoleh ke arahku, aku
akan siap membalas senyummu. Jangan takut, kau boleh ikut berjalan bersamaku.
Jangan pula takut, aku takkan mencoba menarikmu dengan kuat agar kau mengikuti
alurku. Aku tidak seperti itu.
Yang ingin kukatakan hanya, bahwa ketika kau menoleh ke arahku,
lihatlah telapak yang terentang ke arahmu. Genggam erat. Jangan lepaskan. Dan,
percayalah bahwa kita akan sampai pada akhir yang sama.
Meski setapak kita berbeda…
Komentar
Posting Komentar