“Metode analisis ini termasuk jarang digunakan di kampus kita, sepertinya kamu harus cari referensi ke orang lain,” Bu Mutia akhirnya berbicara setelah kurang lebih setengah jam berkutat dengan tugas di depannya. Dini menatap dosen pembimbing skripsinya itu dengan tidak percaya. Gimana sih? Bukannya dulu Ibu yang mengusulkan metode itu untuk skripsi saya?” “Kira-kira saya harus cari referensi dimana, Bu?” tanya Dini, memutuskan untuk tidak menyuarakan pikirannya. Bu Mutia terdiam sejenak. Pulpen di tangannya diketuk-ketukkan ke meja yang ada di hadapannya, menunjukkan gelagat sedang berpikir. “Coba kamu yang orang yang namanya Antony,” kata dosen berusia empat puluhan itu. “setahu saya, di Indonesia, untuk metode ini dia yang paling paham.” “Nama lengkapnya siapa, Bu? Gelarnya?” tanya Dini. “Oh iya, kalau boleh tahu, beliau siapa?” “Namanya hanya Antony, pakai ‘y’, soal gelar dan sebagainya, kamu cari tahu sendiri, ya,” Bu Mutia mulai beranjak dari kursinya. “saya mau ada ...
Aku ingin kau menikmatinya serenyah kudapan di kala senja