Langsung ke konten utama

[CERPEN] - Jin Dalam Botol

“Metode analisis ini termasuk jarang digunakan di kampus kita, sepertinya kamu harus cari referensi ke orang lain,” Bu Mutia akhirnya berbicara setelah kurang lebih setengah jam berkutat dengan tugas di depannya.
Dini menatap dosen pembimbing skripsinya itu dengan tidak percaya. Gimana sih? Bukannya dulu Ibu yang mengusulkan metode itu untuk skripsi saya?”
“Kira-kira saya harus cari referensi dimana, Bu?” tanya Dini, memutuskan untuk tidak menyuarakan pikirannya.
Bu Mutia terdiam sejenak. Pulpen di tangannya diketuk-ketukkan ke meja yang ada di hadapannya, menunjukkan gelagat sedang berpikir.
“Coba kamu yang orang yang namanya Antony,” kata dosen berusia empat puluhan itu. “setahu saya, di Indonesia, untuk metode ini dia yang paling paham.”
“Nama lengkapnya siapa, Bu? Gelarnya?” tanya Dini. “Oh iya, kalau boleh tahu, beliau siapa?”
“Namanya hanya Antony, pakai ‘y’, soal gelar dan sebagainya, kamu cari tahu sendiri, ya,” Bu Mutia mulai beranjak dari kursinya. “saya mau ada urusan. Semoga berhasil.”
Dini termangu di kursinya dalam beberapa detik. Detik selanjutnya dia hanya berteriak kecil sambil tak henti-hentinya mengeluhkan perihal dosbingnya itu.
***
Pencarian di internet soal siapa Antony sebenarnya sudah membuahkan hasil. Dini tercengan melihat hasil pencarian yang tertulis di layar laptopnya.
Dr. Antony, M.Sc. Tidak salah lagi. Di informasi itu juga tertulis bahwa beliau merupakan salah satu ahli yang memang menangani metode analisis yang dibutuhkan Dini. Dan, Pak Antony merupakan seorang rektor dari sebuah universitas swasta terkenal yang letaknya terpisah tiga provinsi dari tempat Dini berada. TIGA PROVINSI. Sementara, skripsinya hanya membutuhkan beberapa bulan saja sebelum semester ini berakhir.
Dini mencoba mecari segala kontak yang berhubungan dengan Pak Antony. Beruntung salah seorang temannya yang kuliah di universitas tersebut punya kontak dari sekretaris Pak Antony. Tak menunggu lama, dia segera menghubunginya.
Dini yang mulai bosan menunggu kepastian balasan dari pihak Pak Antony, mulai membuka tab lain di browser-nya. Sebuah blog yang sudah berusia tahunan. Memang isinya hanya cerita pribadi, tapi dia sangat menyukai isi blog tersebut.
Your genie in a bottle.
Tagline blog itu hanya sederhana, mengindikasikan bahwa sang penulis cukup kreatif dalam memilih kata. Hal itu mungkin membingungkan bagi sebagian orang ketika pertama kali melihat blog ini. Namun, bagi mereka yang sudah sampai pada cerita yang diterbitkan beberapa waktu lalu, tentu tahu maksud dari kata-kata jin dalam botol itu.
Dini yang memang lagi stress dan bosan, membaca-baca lagi cerita-cerita sebelumnya. Seorang author yang dia juluki ‘jin’.
Masa SMA.
Kala itu kami masih belum saling mengenal. Bukan, bukan kami. Tepatnya, dia. Dia tidak mengenalku. Oh, ayolah, siapa juga yang bisa mengenal seorang gadis kutu buku yang tidak pernah mengikuti kegiatan ekskul? Tapi tentu, aku mengenalnya. Siapa murid di SMA kami yang tidak mengenalnya? Dia pintar, berprestasi, dan sering menang lomba. Sewaktu kelas 11 dia masuk kelas IPA, tapi anehnya, pernah sekali dia berhasil memenangkan perlombaan ekonomi kecil-kecilan yang diadakan sekolah kami. Tentu hal itu semakin membawa namanya melambung.
Sebenarnya, dulu aku sering penasaran. Kami pernah bertemu dalam sebuah lomba ketika SMP (cerita yang pernah diterbitkan di blog ini bagian masa SMP), tapi kenapa dia seperti tidak pernah tahu siapa aku? Namun sering aku sadar. Tidak semua orang seperti diriku yang suka memperhatikan hal-hal detail. Apalagi kalau dipikir-pikir, ketika itu kan aku hanya juara harapan 3, terpaut jauh sama dia yang memperoleh juara 1.
Ah, tapi aku masih tetap mengaguminya semenjak itu. Sampai SMA. Hanya saja, aku tak peduli. Karena aku tahu dia pun tak peduli. Aku tak punya waktu untuk itu. Aku tak punya waktu untuk patah hati dan galau seharian. Aku tidak peduli. Biarlah dia bahagia dan berprestasi, dan biarlah pula aku berkutik dengan mata pelajaran sosial yang semakin membuatku terlena.
Dini senyum-senyum sendiri ketika membaca bagian tersebut. Bukan karena dia pernah mengalaminya, hanya saja dia salut dengan ‘jin’ yang bisa menolak agar perasaannya tak berkembang lebih jauh. Hal yang selalu gagal dilakukannya.
Masa kuliah, semester 5.
Ini masa-masa yang paling menjadi favoritku. Setelah cukup dekat selama awal-awal kuliah, akhirnya dia mengatakan hal itu. Hal termanis yang pernah aku dengar darinya. Dia mencintaiku. Dan tentu, aku jujur bahwa aku juga mencintainya. Bahkan sejak lama. Sejak pertama kita bertemu. Kalau diingat-ingat gimana awalnya dia bisa tahu aku, lucu juga sih. Coba dulu dia uangnya nggak kurang pas mau fotokopi materi tugas, dia pasti nggak pernah sadar kalau selama ini kami sejurusan, meski jarang berada pada kelas yang sama. Sejak itu, dia seakan menganggapku sebagai malaikat penolongnya. Hahaha. Kalau bagiku sih, itu terbalik. Malah dia yang menurutku menjadi perantara Tuhan dalam menolongku. Dia yang pertama kali membangkitkan semangatku dalam hal akademik (ini diceritakan di bagian masa SMP ya, pas bagian lomba hehe). Kalau bukan karenanya, mungkin perlombaan ketika SMP itu adalah yang terakhir kuikuti.
Mungkin karena hal itu juga, akhirnya aku memutuskan untuk selalu menolongnya sebisaku. Meskipun sejujurnya, apa yang kulakukan sama sekali tidak menandingi perlakuannya dalam membangkitkan semangatku. Dia orang yang selalu bisa diandalkan. Aku selalu percaya pada apapun kemampuan dan yang dilakukannya. Dan kini, ketika kami sudah sama-sama tahu perasaan masing-masing, aku ingin selalu memberinya apa yang dia ingingkan. Aku ingin mejadi seperti jin dalam botol untuknya, yang telah dia bebaskan dengan segala kebaikannya untuk membakar semangatku kembali…
Dini masih senyum-senyum ketika membaca postingan terakhir itu. Melihat dari urutan postingnya, si ‘jin’ ini susah ditebak kapan akan melakukan penerbitan karyanya. Ah, tapi sudahlah. Toh dia juga hanya buka blog itu ketika iseng.
Notifikasi e-mail di ponselnya membuat Dini tersentak, apalagi ketika melihat nama sekretaris Pak Antony yang mengirimkannya. E-mail itu memberitahukan bahwa Pak Antony kebetulan akan berkujung ke kota Dini akhir pekan esok, dan beliau tidak merasa keberatan untuk ditemui di waktu senggangnya, meskipun itu berarti hanya sekitar satu jam.
***
Dini mengetuk pintu ruangan Bu Mutia, lalu segera masuk begitu mendapatkan perintah dari beliau. Sekilas sebelumnya, dari luar Dini melihat laptop yang dihadapi Bu Mutia menampilkan browser dengan laman milik si jin dalam botol. Dia tertawa geli dalam pikirannya. Ternyata dosbingnya yang cukup terlihat seram itu suka cerita pribadi anak muda juga.
“Permisi, Bu, saya sudah bertemu Pak Antony akhir pekan kemarin dan beliau juga sudah menjelaskan tentang metode analisis yang dibutuhkan,” kata Dini memulai pembicaraan.
“Bagus, saya turut bahagia mendengarnya,” kata Bu Mutia. “lalu soal referensinya, apa beliau sudah memberikan gambaran?”
“Sudah, Bu, kebetulan Pak Antony ngasih saya beberapa jurnal dari luar yang berkaitan dengan metode ini,” jawab Dini.
“Dia memang selalu bisa diandalkan…” gumam Bu Mutia lirih, hampir tidak bisa didengar Dini. “Oh, iya, kalau begitu langsung kerjakan aja, ya. Saya tunggu paling lambat lusa di sini.”
“Iya, Bu, saya pamit dulu,” kata Dini bergegas, sebelum akhirnya dia ingat ada yang perlu disampaikan. “Oh, iya, Bu, kemarin Pak Antony sempat tanya kabar Bu Mutia.”
Bu Mutia tersenyum manis di tempatnya duduk, untuk kemudian segera mengucapkan terima kasih pada Dini.
***
Masa sekarang.
Seseorang yang sedang dekat denganku, hari ini bilang bahwa dia bertemu dengannya, dengan seseorang yang selalu berhasil membuatku jatuh cinta. Dia masih tidak berubah, masih tetap baik dan selalu menawan. Dan bisa diandalkan. Tidak berubah. Lalu, bagaimana mungkin aku bisa berhenti mencintaimu?
Ah, mungkin kalian bertanya-tanya, ada apa dengan kami? Ya, kami berpisah. Hal itu terjadi ketika semester 7 di perkuliahan. Dia sudah berkutat dengan tugas akhir skripsinya, sementara aku masih menyelesaikan beberapa beban mata kuliah. Dia mulai terlihat sibuk dan sangat sibuk, meski aku merasa sebaliknya. Dia tidak sibuk. Hal semacam skripsi, baginya kurasa hanya sebuah penelitian. Ah entahlah, aku juga bingung. Yang jelas, dia semakin menjauhiku. Aku pun tak tahu kenapa. Aku hanya menarik kesimpulan bahwa dia sudah tidak lagi mencintaiku. Tapi, apa itu benar? Apa itu bukan hanya perasaanku? Lalu kalau itu hanya perasaanku, kenapa dia selalu menolak bertemu dengan dalih sibuk skripsi? Apa dia tidak merindukanku?
Sampai akhirnya kuputuskan satu hari untuk menemuinya, dan dia tidak memiliki alasan apapun. Aku menanyakan apa dia masih mencintaiku, dan dia mejawab dengan jujur bahwa rasa cinta dan sayangnya sudah tak lagi sama. Tanpa alasan yang jelas. Karena dia sendiri juga tak mengerti. Yah, perasaan seseorang memang sesusah itu untuk ditebak, bukan?

Aku memutuskan untuk tetap menjadi jin dalam botolnya. Aku akan tetap mengabulkan apapun permintaannya, tak peduli bahkan jika itu harus menyiksaku seumur hidup sekalipun…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu