Menit arloji telah tepat menunjuk angka dua, menunjukkan kepada diriku bahwa sudah dua jam aku berada di tempat ini. Makanan cepat saji yang kupesan baru termakan setengahnya saja, menyisakan separuh lagi sisa gigitan dan tiga perempat gelas minuman bersoda. Lalu lalang kendaraan di jalan yang terlihat dari tempatku duduk masih menunjukkan kerapatan yang tak jauh berbeda. Balapan orang-orang pulang kerja yang segera menantikan satu kehangatan yang ada di rumah mereka. Sudah sekian jam sejak dia mengatakannya padaku, namun tetap tak kupahami seluruh rasa yang menyergapku bersamaan saat ini. Kita ini apa? Apa salahku jika menjawab kita ini manusia? Memang manusia, bukan? Apa aku salah karena sebenarnya selama ini dia adalah alien yang berbeda kehidupan denganku? Atau aku salah karena… tidak peka? Ya, begitu tadi dia menyebutnya. Aku ingin menyangkal. Aku seratus persen peka. Aku hanya… ah. Tapi, kita memang benar-benar manusia, bukan? Kenapa dia sebegitu kesal ketika kujawab demikia...
Aku ingin kau menikmatinya serenyah kudapan di kala senja