Cerita dan kisah penuh pengalaman dan
pelajaran di Lombok Barat terus berlanjut. Setelah sebelumnya mengunjungi BS-BS
hasil listing orang lain, kali ini cerita akan datang dari BSku, Senggigi 003B
dan Orong 012B! Wah sebenarnya dalam hati pas mau mulai agak ketar-ketir sih,
takut kali-kali ada responden yang sebenarnya bukan rumah tangga tapi malah aku
cacah (maklum suka mikir negatif akunya, apalagi di Senggigi banyak kost). Tapi
untungnya semua responden bisa ditemui semua, meskipun ada yang nonrespon. Hah?
Nonrespon?
Cantik sekali, kan?
Oke, mulai dari Senggigi 003B. BS
pertama dan yang aku kira bakal ‘mengasyikkan’ tapi malah berubah seratus
delapan puluh derajat pas tahu kalau aku harus panas-panasan di kala listing.
Dimulai dari Arjuna 3, responden terbaik selama listing malah dicacah oleh Amin
dan Yogie. Pak Pawardi yang orang Jawa dan menerimaku dengan senang hati
(sampai disuruh masuk, padahal cuma listing bentar) dicacah Amin, dan Pak Haji
Mardan dicacah Yogie. Selanjutnya ada Pak Haji Mustapa, yang cuma didapatkan
data rumah tangga dan bangunan sensusnya saja (tanpa pendapat), itupun dari
informasi cucunya. Kebetulan Pak Haji Mustapa dengan usianya yang 90, ada
gangguan pendengaran sehingga kurang mengerti interaksi dengan orang. Istrinya
pun usianya cukup tua yaitu 70 tahun, sehingga tidak mampu menjawab pernyataan
self-enumeration. Lanjut ke Arjuna 2A yang harus ke Pak RT karena jadi
responden, itupun harus revisit karena Pak RT yang super duper sibuk. Terus ada
juga Mas Usman (kenapa mas? soalnya masih 23) yang aku kira bakal nggak ketemu,
eh malah ketemu ketika dia satu-satunya orang di kost yang ada 6 kamar itu.
Terus ada juga… Pak Edi Sumedi, yang baik banget pas listing tapi nolak kami
(2x) pas pencacahan :’) apa dosa kami, Pak? Yah mungkin ada sesuatu aja kali
ya, atau mungkin pengantar kami salah, yang jelas kami minta maaf ya, Pak. Lalu
ada juga responden yang relatif susah ditemui tapi pas udah ketemu langsung
dapat clean satu kuesioner. Pak Sana, Bu Ani, makasih ya. Pak Atar juga, yang
meskipun harus revisit karena istrinya kerja di toko depan gang, tapi keduanya
baik badai pas diwawancarai. Enak ngobrolnya (pengakuan Yogie dan Hans). Jeng
jeng jeeeng, responden kesepuluh, PETER. Oke, sempat pesimis kalau ini salah listing.
Peter, bule yang tinggal dekat gerbang masuk Senggigi Beach. Tapi setelah
tanya-tanya ternyata benar dia tergolong rumah tangga. Peter yang termasuk ruta
pertama, namun dari sistematiknya malah kena sampel dan bikin aku stress sampai
harus nyacah beliau di hari terakhir. Untuuung banget pas kita ke sana ada
pembantu dan istrinya, meski akhirnya dijawab Mbak Puspa (istrinya) dengan
memburu-buru. “Mas kalau mau PKL nyari rumah tangga ke (nyebut suatu perumahan)
aja, lebih cocok daripada di sini.” Duh, iya, Mbak, maaf ya ganggu waktunya :’)
. Dan, oleh respon yang didapatkan, kami hanya sempat tanya-tanya sekilas
sampai dapat semua keterangan rumah tangga tanpa self-enumeration, itu
juga sudah untung kami nggak diusir. Tapi ngomong-ngomong, fyi mbak Puspa ini
kerasa banget aura cerdasnya, efek udah lama tinggal sama bule kali ya.
Naaah, seusai di Senggigi 003B,
selanjutnya cerita datang dari my favorite experience, dusun Orong!
Rasanya nostalgia banget bisa balik ke sini bareng yang lain. Yah, meskipun nggak
inget semua yang jadi responden, tapi memang nggak bisa lupa sama pengalaman di
sini. Dusun sejuta pengalaman. Responden pertama diambil Yogie, yaitu Pak Sahli
yang kebetulan rumahnya adalah rumah bule, beliau hanya menjaga dengan
meninggalinya. Banyak anjing begitu kami masuk pekarangan, untung Pak Sahlinya
di luar, jadi wawancaranya nggak perlu takut anjing. Lalu ada Pak Salihin yang
beberapa keluarganya tinggal sekompleks beda BF tapi satu ruta, sementara aku
pergi ke Pak Husni yang itungannya beliau tangan kanan pengganti kepala dusun
jika berhalangan. Pak Husni ngasih tes manis anget yang enak banget sebenarnya,
namun karena waktu terbatas dan tehnya masih panas jadi aku cuma minum beberapa
teguk. Maaf ya, Pak, bukan maksud saya nggak menghargai :( . Sebenarnya hanya
tiga itu yang masih kuingat dengan jelas, soalnya karena daerah yang jaraknya
berjauhan jadi tidak begitu jelas pengalamannya. Apalagi kami terpisah cukup
jauh karena harus pergi kemana-mana. Yang masih gak bisa lupa adalah di rumah
Pak Amirudin, soalnya disuguhi kopi XD. Well, this was my first. Denger
anak-anak lain pada disuguhi kopi tiap nyacah, dan aku baru merasakan pertama
kali… ya iyalah keinget wkwk. Orong kami kunjungi beberapa kali, karena Pak
Haji Subhat yang istrinya sedang tidak di rumah dan Pak Muhali yang rumah “di
dalam gunung”. Perjalanan pulang di hari pertama Orong, setim pada lihat dua
cewek cantik duduk-duduk di beruga. Dan, plis, aku yang tiga hari listing dari
satu hari nyacah malah kelewat dari pandangan itu demi apa. Ah, mungkin
pandanganku sedang dijaga eaaak (apa sih). Oke lanjut ke hari terakhir, hari
pencacahan terakhir. MASUK GUNUNG. Kami terpisah. Aku sama Yogi eke Pak Muhali,
Hans sama Amin ke Bu/Pak Ipah yang juga di gunung (lokasi 024B). Setelah masuk
dan beristirahat sebentar, kami bertemu rumah Pak Muhali dengan Kepala Ruta Bu
Pataryah, karena Pak Muhali jadi TKI. Bu Pataryah ini usianya 27 tapi anaknya
14 tahun, pas ditanya, ternyata itu anak tiri dan Pak Muhali sudah pernah nikah
empat kali *slow clap*, semoga sama Bu Pataryah langgeng ya, Pak. Tanyanya
relatif mudah sih, cuma susahnya ketika mereka (ada orang tua atau mertua Bu
Pataryah) ngomong dengan bahasa Sasak. Untungnya, untuk bilangan angka agak
mirip dengan bahasa Jawa, jadi memudahkan penerjemahan. Seusainya wawancara,
kami disuguhi pisah. Masak dari kebun sepertinya. Seger banget. Pisang paling
dingin yang pernah aku rasakan. Enaklah pokoknya~
Dan itu adalah sepenggal kisah dan
pengalaman selama di Senggigi 003B dan Orong 012B, yang memberikan rasa rindu
yang teramat sangat ketika kami sudah berjauhan, terutama Orong. Benar kata
orang, PKL adalah ajang untuk cinlok, dan aku jatuh cinta dengan Orong, dengan
Lombok. Pengalaman susah listing malah membuat Orong selalu mencuat di kepala
tiap kali orang tanya pengalaman PKL. Senggigi pun tak kalah, meski tidak
se-mengena Orong, tapi panas-panasan di jalan raya benar-benar mematri sebuah
memori baru (dan kulit gosong baru) untukku. Rasanya seperti mimpi pas tahu PKL
sudah berakhir. Rasanya masih campur aduk, antara senang dan sedih. Gak rela
kisah ini berakhir di sini. Tapi, ya, we’ve gotta move on. Lombok, tiang
meleq side, ijinkan aku balik lagi ke sana ya kapan-kapan :)


Komentar
Posting Komentar