Langsung ke konten utama

[Diary of PKL 55] – Pencacahan #2


Cerita dan kisah penuh pengalaman dan pelajaran di Lombok Barat terus berlanjut. Setelah sebelumnya mengunjungi BS-BS hasil listing orang lain, kali ini cerita akan datang dari BSku, Senggigi 003B dan Orong 012B! Wah sebenarnya dalam hati pas mau mulai agak ketar-ketir sih, takut kali-kali ada responden yang sebenarnya bukan rumah tangga tapi malah aku cacah (maklum suka mikir negatif akunya, apalagi di Senggigi banyak kost). Tapi untungnya semua responden bisa ditemui semua, meskipun ada yang nonrespon. Hah? Nonrespon?

Cantik sekali, kan?

Oke, mulai dari Senggigi 003B. BS pertama dan yang aku kira bakal ‘mengasyikkan’ tapi malah berubah seratus delapan puluh derajat pas tahu kalau aku harus panas-panasan di kala listing. Dimulai dari Arjuna 3, responden terbaik selama listing malah dicacah oleh Amin dan Yogie. Pak Pawardi yang orang Jawa dan menerimaku dengan senang hati (sampai disuruh masuk, padahal cuma listing bentar) dicacah Amin, dan Pak Haji Mardan dicacah Yogie. Selanjutnya ada Pak Haji Mustapa, yang cuma didapatkan data rumah tangga dan bangunan sensusnya saja (tanpa pendapat), itupun dari informasi cucunya. Kebetulan Pak Haji Mustapa dengan usianya yang 90, ada gangguan pendengaran sehingga kurang mengerti interaksi dengan orang. Istrinya pun usianya cukup tua yaitu 70 tahun, sehingga tidak mampu menjawab pernyataan self-enumeration. Lanjut ke Arjuna 2A yang harus ke Pak RT karena jadi responden, itupun harus revisit karena Pak RT yang super duper sibuk. Terus ada juga Mas Usman (kenapa mas? soalnya masih 23) yang aku kira bakal nggak ketemu, eh malah ketemu ketika dia satu-satunya orang di kost yang ada 6 kamar itu. Terus ada juga… Pak Edi Sumedi, yang baik banget pas listing tapi nolak kami (2x) pas pencacahan :’) apa dosa kami, Pak? Yah mungkin ada sesuatu aja kali ya, atau mungkin pengantar kami salah, yang jelas kami minta maaf ya, Pak. Lalu ada juga responden yang relatif susah ditemui tapi pas udah ketemu langsung dapat clean satu kuesioner. Pak Sana, Bu Ani, makasih ya. Pak Atar juga, yang meskipun harus revisit karena istrinya kerja di toko depan gang, tapi keduanya baik badai pas diwawancarai. Enak ngobrolnya (pengakuan Yogie dan Hans). Jeng jeng jeeeng, responden kesepuluh, PETER. Oke, sempat pesimis kalau ini salah listing. Peter, bule yang tinggal dekat gerbang masuk Senggigi Beach. Tapi setelah tanya-tanya ternyata benar dia tergolong rumah tangga. Peter yang termasuk ruta pertama, namun dari sistematiknya malah kena sampel dan bikin aku stress sampai harus nyacah beliau di hari terakhir. Untuuung banget pas kita ke sana ada pembantu dan istrinya, meski akhirnya dijawab Mbak Puspa (istrinya) dengan memburu-buru. “Mas kalau mau PKL nyari rumah tangga ke (nyebut suatu perumahan) aja, lebih cocok daripada di sini.” Duh, iya, Mbak, maaf ya ganggu waktunya :’) . Dan, oleh respon yang didapatkan, kami hanya sempat tanya-tanya sekilas sampai dapat semua keterangan rumah tangga tanpa self-enumeration, itu juga sudah untung kami nggak diusir. Tapi ngomong-ngomong, fyi mbak Puspa ini kerasa banget aura cerdasnya, efek udah lama tinggal sama bule kali ya.


Naaah, seusai di Senggigi 003B, selanjutnya cerita datang dari my favorite experience, dusun Orong! Rasanya nostalgia banget bisa balik ke sini bareng yang lain. Yah, meskipun nggak inget semua yang jadi responden, tapi memang nggak bisa lupa sama pengalaman di sini. Dusun sejuta pengalaman. Responden pertama diambil Yogie, yaitu Pak Sahli yang kebetulan rumahnya adalah rumah bule, beliau hanya menjaga dengan meninggalinya. Banyak anjing begitu kami masuk pekarangan, untung Pak Sahlinya di luar, jadi wawancaranya nggak perlu takut anjing. Lalu ada Pak Salihin yang beberapa keluarganya tinggal sekompleks beda BF tapi satu ruta, sementara aku pergi ke Pak Husni yang itungannya beliau tangan kanan pengganti kepala dusun jika berhalangan. Pak Husni ngasih tes manis anget yang enak banget sebenarnya, namun karena waktu terbatas dan tehnya masih panas jadi aku cuma minum beberapa teguk. Maaf ya, Pak, bukan maksud saya nggak menghargai :( . Sebenarnya hanya tiga itu yang masih kuingat dengan jelas, soalnya karena daerah yang jaraknya berjauhan jadi tidak begitu jelas pengalamannya. Apalagi kami terpisah cukup jauh karena harus pergi kemana-mana. Yang masih gak bisa lupa adalah di rumah Pak Amirudin, soalnya disuguhi kopi XD. Well, this was my first. Denger anak-anak lain pada disuguhi kopi tiap nyacah, dan aku baru merasakan pertama kali… ya iyalah keinget wkwk. Orong kami kunjungi beberapa kali, karena Pak Haji Subhat yang istrinya sedang tidak di rumah dan Pak Muhali yang rumah “di dalam gunung”. Perjalanan pulang di hari pertama Orong, setim pada lihat dua cewek cantik duduk-duduk di beruga. Dan, plis, aku yang tiga hari listing dari satu hari nyacah malah kelewat dari pandangan itu demi apa. Ah, mungkin pandanganku sedang dijaga eaaak (apa sih). Oke lanjut ke hari terakhir, hari pencacahan terakhir. MASUK GUNUNG. Kami terpisah. Aku sama Yogi eke Pak Muhali, Hans sama Amin ke Bu/Pak Ipah yang juga di gunung (lokasi 024B). Setelah masuk dan beristirahat sebentar, kami bertemu rumah Pak Muhali dengan Kepala Ruta Bu Pataryah, karena Pak Muhali jadi TKI. Bu Pataryah ini usianya 27 tapi anaknya 14 tahun, pas ditanya, ternyata itu anak tiri dan Pak Muhali sudah pernah nikah empat kali *slow clap*, semoga sama Bu Pataryah langgeng ya, Pak. Tanyanya relatif mudah sih, cuma susahnya ketika mereka (ada orang tua atau mertua Bu Pataryah) ngomong dengan bahasa Sasak. Untungnya, untuk bilangan angka agak mirip dengan bahasa Jawa, jadi memudahkan penerjemahan. Seusainya wawancara, kami disuguhi pisah. Masak dari kebun sepertinya. Seger banget. Pisang paling dingin yang pernah aku rasakan. Enaklah pokoknya~

Dan itu adalah sepenggal kisah dan pengalaman selama di Senggigi 003B dan Orong 012B, yang memberikan rasa rindu yang teramat sangat ketika kami sudah berjauhan, terutama Orong. Benar kata orang, PKL adalah ajang untuk cinlok, dan aku jatuh cinta dengan Orong, dengan Lombok. Pengalaman susah listing malah membuat Orong selalu mencuat di kepala tiap kali orang tanya pengalaman PKL. Senggigi pun tak kalah, meski tidak se-mengena Orong, tapi panas-panasan di jalan raya benar-benar mematri sebuah memori baru (dan kulit gosong baru) untukku. Rasanya seperti mimpi pas tahu PKL sudah berakhir. Rasanya masih campur aduk, antara senang dan sedih. Gak rela kisah ini berakhir di sini. Tapi, ya, we’ve gotta move on. Lombok, tiang meleq side, ijinkan aku balik lagi ke sana ya kapan-kapan :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu