Cerita di Lombok Barat masih berlanjut.
Hari kedua, listing atau pendaftaran rumah tangga yang memungkinkan untuk jadi eligible
sample dilanjutkan. Berhubung kemarin Senggigiku 003B masih belum berakhir,
jadi paginya aku masih melanjutkan listing di kost pojok di jalan Arjuna 3.
Singkat saja, karena memang cuma tinggal itu jatahku (plus satu BF homestay).
Seusai dari 003B, kami lanjut ke blok-blok sensus lainnya. Diawali dengan blok
sensus Yogie di Teluke Lauq (ya ampun pakai Q), yang bikin aku dan Amin
terpaksa menunggu sekian menit di gerbang selamat jalan dan digonggongi anjing.
Setelahnya, kami lanjut ke BS Amin yang duh, anjing bertebaran. Lihat anjing
lalu lalang di sini udah kayak lihat kucing lari-larian di Jawa. Biasa banget.
Bedanya, anjing lebih agresif menggonggong dan sekaligus lebih menyeramkan. Nice.
Untung bukan BSku. Apalagi, BSnya Amin ini batasnya belum jelas, kami bahkan
sempat naik naik ke puncak gunung (yah meskipun lewat jalan aspal) sampai
akhirnya menemukan ujungnya.
Tibalah saatnya memasuki BSku, 012B,
dusun Orong desa Batu Layar. Pertama masuk, kesan yang melintas sebagai kesan
awal adalah … asri. Selanjutnya diikuti dengan sejuk, dan suasana kampung yang
masih sangat kental. Saat itu, aku yang diantar Hans berhenti di sebuah warung.
Dengan dalih beli minum marimas, kami istirahat dan aku meratapi nasib. Ya
Allah, apa dosaku. Ibu-ibu yang jualan di warung masih kental sekali
logatnya, bisa bahasa Indonesia sih, tapi rasanya di telinga masih asing. Nah,
ini yang berada di ujung luar dusun aja bahasanya masih daerah, apalagi nanti?
Tapi ya sudahlah, mari berpikir positif.
Listing pun dimulai dari ujung barat
daya. Tampak ibu-ibu yang bersiap mandi dan anak lelakinya yang masih kecil
sedang tanpa mengenakan atasan. Kesan pertama. BF pertama, ruta pertama di
dusun Orong. Ibu itu seperti ketakutan melihatku. Mungkin dikira pegawai pajak
tanah? Atau pegawai pemerintah yang mau menyita tanah? Bahkan setelah
kujelaskan aku “hanya” ingin kerja praktik dan mau mendaftar rumah saja, ibu
itu masih ketakutan hingga meminta tetangganya yang masih muda (mungkin
seumuran atau lebih tua dariku sedikit) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
listingku. Alhamdulillah, informasi terkumpul cukup dan aku bisa melanjutkan ke
BF lainnya. Yang menarik dari dusun Orong adalah, di sini 3-6 BF biasa
digunakan untuk satu ruta saja. Benar-benar 180 derajat dengan Senggigi yang 1
BF biasa diisi tiga sampai banyak rumah tangga. Pas aku akan melanjutkan
perjalanan, Hans sudah tidak berada di tempat. Belakangan aku tahu kalau dia ke
tempat Amin karena Amin butuh mitra untuk menemaninya ‘mengusir’ anjing yang
seringkali nakal. Perjalanan listing berlanjut menyenangkan yang
terpaksa harus kunikmati. Jarak antara satu ruta ke ruta lainnya tidak jarang
harus ditempuh dengan naik motor. Terlalu banyak pekarangan yang memisahkan. Di
dusun Orong ini masih kental sekali Lombok-nya. Beruga bertebaran dimana-mana.
Beruga ini sejenis saung yang biasa digunakan untuk menerima tamu ataupun hanya
sekadar beristirahat. Orang di sini ramah, pada dasarnya. Sayangnya, karena
mungkin bahasaku yang agak kurang luwes atau tujuanku datang yang terlalu sulit
dimengerti, membuat masyarakat sini kebanyakan takut ketika ditanya-tanya.
Berkali-kali aku ingin menyerah (ya, tepat seperti di Senggigi) ketika merasa
terlalu banyak BF dan ruta yang mesti dilisting. Tapi sekali lagi, dengan dalih
integritas, aku melanjutkan. Sampai di daerah sekitar masjid ketika memasuki
waktu Ashar. Lanjut ke daerah naik, aku kembali terdiam. Ingin menyerah.
Sebatas bukit yang di dalamnya terbangun rumah menghampar di hadapan. Calon
responden. BF dan BS kesekian yang harus masuk ke dalam daftar ruta di
listingku. Aku menanyakan pada kortim, apa ini sudah batas akhir atau belum.
Ternyata belum. I have to go, inside the forest of the hill. Ya tapi mau
gimana lagi? masuklah aku akhirnya. Jauh ke dalam. Sekian menit, BF pertama
sekaligus kedua sebagai satu ruta muncul. Mbak-mbak yang aku tanyai seperti
miris melihat keadaanku. Tissue yang aku bawa tiba-tiba saja langsung habis di
tempat itu oleh keringat yang tak berhenti mengucur. Aku berkata dengan napas
ngos-ngosan, yang untung saja mbaknya rela menungguku selesai beristirahat.
Sempat ditawari istirahat, namun aku jelaskan bahwa tujuanku masih panjang dan
aku harus segera menyelesaikan. Perjalanan berlanjut ke rumah kedua, 10 menit
berlalu dan aku baru menemukan ruta selanjutnya. Ya Allah, mohon ampun. Untung
bapaknya baik hati, sehingga aku kembali diberi kesempatan untuk istirahat
sebelum dibolehkan untuk bicara.
Aku kembali ke bendungan luar bukit
selanjutnya, merasa tidak kuat jika harus melanjutkan. Hubungi kortim dan
katanya memang bukit itu masih batas. Aku ingin menyerah, apalagi mengingat
tadi orang-orang yang kutemui selalu menjawab “masih banyak” setiap kutanya
apakah di dalam sana masih ada rumah. Tapi ya sudah, aku masuk lagi, menemukan
ruta ketiga dan mendapat jawaban “masih banyak” yang sama yang akhirnya
membuatku bertanya dimana rumah Pak RT. Aku akhirnya diantar anak gadis yang
usianya mungkin 9 atau 10 tahun kie rumah Pak RT. Dan, spesialnya lagi, rumah
pak RT berada di seberang yang mengharuskanku turun lewat sungai dan kembali
naik untuk mencapai bangunan fisiknya. Tepat ketika aku sampai, SMS masuk dari
Hans yang menyuruhku untuk segera turun bukit karena perintah Intama
menyarankan untuk listing di daerah bawah gunung yang lebih memungkinkan untuk
diselesaikan hari ini. Yah… tapi yeay juga. Setelah berbincang dengan Pak RT
dan istirahat sejenak, akhirnya aku turun kembali ke luar bukit dengan diantar
Pak RT. Mau mengucapkan terima kasih ke dua anak kecil tadi, namun gagal karena
mereka tiba-tiba hilang, mungkin sudah pulang.
Selepasnya dari gunung (sepertinya cuma
bukit, tapi gunung lebih pas jika melihat kondisinya), aku lanjut ke daerah
sisi seberang yang masih juga melelahkan. Apalagi pundak dan punggungku rasanya
sudah lecet karena naik turun keluar masuk gunung dua kali. Hingga maghrib
akhirnya tiba, masih ada sekitar 20 BF yang belum dilisting, namun harus segera
aku kembali karena batas waktu. Waktu listing dua hari harusnya selesai hari
itu. Besok adalah masa pencacahan, namun karena Orong 012B belum selesai
listing, maka besoknya aku harus kembali. Dan kau tahu, aku harus
mengikutsertakan ruta dalam gunung untuk listing kali ini. Aku mau nyerah.
Jelas. Tapi ya sudahlah, untungnya ada Yogie yang akan menemani listing dengan
keluar-masuk gunung.
Hari ketiga, mulai pencacahan di 016B
Senggigi, namun ceritanya ditahan dulu karena postingan ini khusus untuk Orong
hehe. Siangnya, kami lanjut listing di Orong. Dari sekolah SDN 4 Batu Layar
hingga gerbang masuk/keluar Orong kami dahulukan. Sebelum Ashar, karena kami
lapar akhirnya kami makan dulu di warung yang jualan pop ice. Mie instan sih,
tapi rasanya enak banget. Lagi laper kali ya, apalagi cuma disitu sepertinya
yang jualan makanan se-dusun. Sedih. The best pleasure in Orong. Seusai
sholat, kami masuk gunung. Lanjut listing. Alhamdulillah… ternyata hanya ada
tambahan satu ruta (dengan beberapa BF dan satunya lagi BS Bukan Tempat
Tinggal) dan rumah Pak RT saja yang belum terlisting. Kami masih menggunakan
jasa ‘anak kecil’ untuk sampai ke rumah Pak RT dan gagal bertemu beliau. Untung
anaknya tahu menahu soal kondisi keluarga, amanlaaah. Daaaaaan rumah kecil di
seberang bendungan setelah keluar gunung akhirnya berhasil menandai bahwa
listing kami di daerah Orong, SE-LE-SAI!!! Rasanya bahagia, meski masih ada
pencacahan, tapi listing yang selesai ini seperti mengangkat beban ke arah
langit~
Ada beberapa special mention nih buat
dusun Orong, soal banyak orang-orang yang tidak biasa yang kutemui di sana.
Pertama buat anaknya Pak Haji Subhat (yang tertulis Adi Suhat di listingku,
maaf ya, Pak) yang terlihat lebih dewasa dari aku padahal umurnya masih 18
tahun dan masih sekolah. Ada juga dua cewek di beruga seberang masjid yang
semua orang kecuali aku tahu mereka cantik, tapi aku malah nggak sadar. Oke,
mungkin karena aku sedang mengemudi pas itu *sigh*. Secara keseluruhan, big
thanks buat dusun Orong yang benar-benar sebenar-benarnya memberi pelajaran
yang sama sekali susah dilupakan buat kedepannya! You’re my favorite!



Komentar
Posting Komentar