Langsung ke konten utama

[Diary of PKL 55] – Listing Dusun Orong


Cerita di Lombok Barat masih berlanjut. Hari kedua, listing atau pendaftaran rumah tangga yang memungkinkan untuk jadi eligible sample dilanjutkan. Berhubung kemarin Senggigiku 003B masih belum berakhir, jadi paginya aku masih melanjutkan listing di kost pojok di jalan Arjuna 3. Singkat saja, karena memang cuma tinggal itu jatahku (plus satu BF homestay). Seusai dari 003B, kami lanjut ke blok-blok sensus lainnya. Diawali dengan blok sensus Yogie di Teluke Lauq (ya ampun pakai Q), yang bikin aku dan Amin terpaksa menunggu sekian menit di gerbang selamat jalan dan digonggongi anjing. Setelahnya, kami lanjut ke BS Amin yang duh, anjing bertebaran. Lihat anjing lalu lalang di sini udah kayak lihat kucing lari-larian di Jawa. Biasa banget. Bedanya, anjing lebih agresif menggonggong dan sekaligus lebih menyeramkan. Nice. Untung bukan BSku. Apalagi, BSnya Amin ini batasnya belum jelas, kami bahkan sempat naik naik ke puncak gunung (yah meskipun lewat jalan aspal) sampai akhirnya menemukan ujungnya.
Tibalah saatnya memasuki BSku, 012B, dusun Orong desa Batu Layar. Pertama masuk, kesan yang melintas sebagai kesan awal adalah … asri. Selanjutnya diikuti dengan sejuk, dan suasana kampung yang masih sangat kental. Saat itu, aku yang diantar Hans berhenti di sebuah warung. Dengan dalih beli minum marimas, kami istirahat dan aku meratapi nasib. Ya Allah, apa dosaku. Ibu-ibu yang jualan di warung masih kental sekali logatnya, bisa bahasa Indonesia sih, tapi rasanya di telinga masih asing. Nah, ini yang berada di ujung luar dusun aja bahasanya masih daerah, apalagi nanti? Tapi ya sudahlah, mari berpikir positif.
Listing pun dimulai dari ujung barat daya. Tampak ibu-ibu yang bersiap mandi dan anak lelakinya yang masih kecil sedang tanpa mengenakan atasan. Kesan pertama. BF pertama, ruta pertama di dusun Orong. Ibu itu seperti ketakutan melihatku. Mungkin dikira pegawai pajak tanah? Atau pegawai pemerintah yang mau menyita tanah? Bahkan setelah kujelaskan aku “hanya” ingin kerja praktik dan mau mendaftar rumah saja, ibu itu masih ketakutan hingga meminta tetangganya yang masih muda (mungkin seumuran atau lebih tua dariku sedikit) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan listingku. Alhamdulillah, informasi terkumpul cukup dan aku bisa melanjutkan ke BF lainnya. Yang menarik dari dusun Orong adalah, di sini 3-6 BF biasa digunakan untuk satu ruta saja. Benar-benar 180 derajat dengan Senggigi yang 1 BF biasa diisi tiga sampai banyak rumah tangga. Pas aku akan melanjutkan perjalanan, Hans sudah tidak berada di tempat. Belakangan aku tahu kalau dia ke tempat Amin karena Amin butuh mitra untuk menemaninya ‘mengusir’ anjing yang seringkali nakal. Perjalanan listing berlanjut menyenangkan yang terpaksa harus kunikmati. Jarak antara satu ruta ke ruta lainnya tidak jarang harus ditempuh dengan naik motor. Terlalu banyak pekarangan yang memisahkan. Di dusun Orong ini masih kental sekali Lombok-nya. Beruga bertebaran dimana-mana. Beruga ini sejenis saung yang biasa digunakan untuk menerima tamu ataupun hanya sekadar beristirahat. Orang di sini ramah, pada dasarnya. Sayangnya, karena mungkin bahasaku yang agak kurang luwes atau tujuanku datang yang terlalu sulit dimengerti, membuat masyarakat sini kebanyakan takut ketika ditanya-tanya. Berkali-kali aku ingin menyerah (ya, tepat seperti di Senggigi) ketika merasa terlalu banyak BF dan ruta yang mesti dilisting. Tapi sekali lagi, dengan dalih integritas, aku melanjutkan. Sampai di daerah sekitar masjid ketika memasuki waktu Ashar. Lanjut ke daerah naik, aku kembali terdiam. Ingin menyerah. Sebatas bukit yang di dalamnya terbangun rumah menghampar di hadapan. Calon responden. BF dan BS kesekian yang harus masuk ke dalam daftar ruta di listingku. Aku menanyakan pada kortim, apa ini sudah batas akhir atau belum. Ternyata belum. I have to go, inside the forest of the hill. Ya tapi mau gimana lagi? masuklah aku akhirnya. Jauh ke dalam. Sekian menit, BF pertama sekaligus kedua sebagai satu ruta muncul. Mbak-mbak yang aku tanyai seperti miris melihat keadaanku. Tissue yang aku bawa tiba-tiba saja langsung habis di tempat itu oleh keringat yang tak berhenti mengucur. Aku berkata dengan napas ngos-ngosan, yang untung saja mbaknya rela menungguku selesai beristirahat. Sempat ditawari istirahat, namun aku jelaskan bahwa tujuanku masih panjang dan aku harus segera menyelesaikan. Perjalanan berlanjut ke rumah kedua, 10 menit berlalu dan aku baru menemukan ruta selanjutnya. Ya Allah, mohon ampun. Untung bapaknya baik hati, sehingga aku kembali diberi kesempatan untuk istirahat sebelum dibolehkan untuk bicara.

Aku kembali ke bendungan luar bukit selanjutnya, merasa tidak kuat jika harus melanjutkan. Hubungi kortim dan katanya memang bukit itu masih batas. Aku ingin menyerah, apalagi mengingat tadi orang-orang yang kutemui selalu menjawab “masih banyak” setiap kutanya apakah di dalam sana masih ada rumah. Tapi ya sudah, aku masuk lagi, menemukan ruta ketiga dan mendapat jawaban “masih banyak” yang sama yang akhirnya membuatku bertanya dimana rumah Pak RT. Aku akhirnya diantar anak gadis yang usianya mungkin 9 atau 10 tahun kie rumah Pak RT. Dan, spesialnya lagi, rumah pak RT berada di seberang yang mengharuskanku turun lewat sungai dan kembali naik untuk mencapai bangunan fisiknya. Tepat ketika aku sampai, SMS masuk dari Hans yang menyuruhku untuk segera turun bukit karena perintah Intama menyarankan untuk listing di daerah bawah gunung yang lebih memungkinkan untuk diselesaikan hari ini. Yah… tapi yeay juga. Setelah berbincang dengan Pak RT dan istirahat sejenak, akhirnya aku turun kembali ke luar bukit dengan diantar Pak RT. Mau mengucapkan terima kasih ke dua anak kecil tadi, namun gagal karena mereka tiba-tiba hilang, mungkin sudah pulang.
Selepasnya dari gunung (sepertinya cuma bukit, tapi gunung lebih pas jika melihat kondisinya), aku lanjut ke daerah sisi seberang yang masih juga melelahkan. Apalagi pundak dan punggungku rasanya sudah lecet karena naik turun keluar masuk gunung dua kali. Hingga maghrib akhirnya tiba, masih ada sekitar 20 BF yang belum dilisting, namun harus segera aku kembali karena batas waktu. Waktu listing dua hari harusnya selesai hari itu. Besok adalah masa pencacahan, namun karena Orong 012B belum selesai listing, maka besoknya aku harus kembali. Dan kau tahu, aku harus mengikutsertakan ruta dalam gunung untuk listing kali ini. Aku mau nyerah. Jelas. Tapi ya sudahlah, untungnya ada Yogie yang akan menemani listing dengan keluar-masuk gunung.

Hari ketiga, mulai pencacahan di 016B Senggigi, namun ceritanya ditahan dulu karena postingan ini khusus untuk Orong hehe. Siangnya, kami lanjut listing di Orong. Dari sekolah SDN 4 Batu Layar hingga gerbang masuk/keluar Orong kami dahulukan. Sebelum Ashar, karena kami lapar akhirnya kami makan dulu di warung yang jualan pop ice. Mie instan sih, tapi rasanya enak banget. Lagi laper kali ya, apalagi cuma disitu sepertinya yang jualan makanan se-dusun. Sedih. The best pleasure in Orong. Seusai sholat, kami masuk gunung. Lanjut listing. Alhamdulillah… ternyata hanya ada tambahan satu ruta (dengan beberapa BF dan satunya lagi BS Bukan Tempat Tinggal) dan rumah Pak RT saja yang belum terlisting. Kami masih menggunakan jasa ‘anak kecil’ untuk sampai ke rumah Pak RT dan gagal bertemu beliau. Untung anaknya tahu menahu soal kondisi keluarga, amanlaaah. Daaaaaan rumah kecil di seberang bendungan setelah keluar gunung akhirnya berhasil menandai bahwa listing kami di daerah Orong, SE-LE-SAI!!! Rasanya bahagia, meski masih ada pencacahan, tapi listing yang selesai ini seperti mengangkat beban ke arah langit~


Ada beberapa special mention nih buat dusun Orong, soal banyak orang-orang yang tidak biasa yang kutemui di sana. Pertama buat anaknya Pak Haji Subhat (yang tertulis Adi Suhat di listingku, maaf ya, Pak) yang terlihat lebih dewasa dari aku padahal umurnya masih 18 tahun dan masih sekolah. Ada juga dua cewek di beruga seberang masjid yang semua orang kecuali aku tahu mereka cantik, tapi aku malah nggak sadar. Oke, mungkin karena aku sedang mengemudi pas itu *sigh*. Secara keseluruhan, big thanks buat dusun Orong yang benar-benar sebenar-benarnya memberi pelajaran yang sama sekali susah dilupakan buat kedepannya! You’re my favorite!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu