Langsung ke konten utama

[CERPEN] - Manusia


Menit arloji telah tepat menunjuk angka dua, menunjukkan kepada diriku bahwa sudah dua jam aku berada di tempat ini. Makanan cepat saji yang kupesan baru termakan setengahnya saja, menyisakan separuh lagi sisa gigitan dan tiga perempat gelas minuman bersoda. Lalu lalang kendaraan di jalan yang terlihat dari tempatku duduk masih menunjukkan kerapatan yang tak jauh berbeda. Balapan orang-orang pulang kerja yang segera menantikan satu kehangatan yang ada di rumah mereka.
Sudah sekian jam sejak dia mengatakannya padaku, namun tetap tak kupahami seluruh rasa yang menyergapku bersamaan saat ini. Kita ini apa? Apa salahku jika menjawab kita ini manusia? Memang manusia, bukan? Apa aku salah karena sebenarnya selama ini dia adalah alien yang berbeda kehidupan denganku? Atau aku salah karena… tidak peka? Ya, begitu tadi dia menyebutnya. Aku ingin menyangkal. Aku seratus persen peka. Aku hanya… ah. Tapi, kita memang benar-benar manusia, bukan? Kenapa dia sebegitu kesal ketika kujawab demikian? Kenapa mesti lari dengan air mata terurai sesaat setelah mendengar kata jawabanku?
Kita memang manusia, kan?
***
Gerah siang ini terasa sangat memilukan bagiku yang lupa memakai segala jenis penyegar sementara tadi pagi telah kuniatkan untuk tidak menyentuh air di bak mandi. Parfum saja cukup, begitu pikirku. Namun, ternyata gerah milik ibukota tak bisa tersamarkan hanya dengan menyemprot parfum beberapa kali. Matahari terik di luar sana membuatku, untuk pertama kalinya, menyukai kehadiran beberapa pohon besar di sekitaran kantin. Selama enam bulan kuliah di sini aku hanya berpikir bahwa pohon-pohon itu cuma berfungsi untuk menambah kesan seram dari kantin kampus yang sebenarnya cukup ramai. Pertama kali? Ya, karena ini kali kedua aku mengunjungi kantin. Kali pertama aku hanya menghadiri rapat malam di kantin demi perekrutan anggota baru suatu Unit Kegiatan Mahasiswa, tentu saat itu aku mengutuk keberadaan semua pohon di sini.
“Hai, Don,” sapa seorang wanita yang memang sudah kutunggu kehadirannya. “Udah lama di sini?”
“Cukup lama,” kataku sambil melirik jam. “Jadi, habis ini kita mau ke mana?”
“Ke toko buku, kan?” Tanyanya memastikan. “Katanya lo mau beli sesuatu? Kebetulan biar gue sekalian mau beli pensil warna sama cat air.”
Aku menganggukkan kepala mantap. Satu novel detektif terbaru dari penulis favoritku kabarnya rilis lebih cepat menjadi hari ini. Sebagai penggemar gadungan yang selama ini hanya meminjam dari teman tapi selalu jatuh cinta pada setiap katanya, maka kali ini kuputuskan untuk membelinya dengan uang yang kutabung sejak beberapa minggu lalu.
“Tapi, lo aneh, Rif,” kataku. “Beli cat air sama pensil warna malah di toko buku, ya mahallah pasti. Kenapa nggak di toko yang seharusnya?”
Rifa hanya tersenyum samar seakan menyembunyikan sesuatu, lalu menjawab pertanyaanku dengan alasan ingin saja. Tapi, sedikitnya aku tahu apa alasannya. Rasa tahu itu sayangnya bertolak belakang dengan getar yang tiba-tiba menyergap tubuh, tentang satu rasa dan alasan yang selama ini gagal kudeskripsikan.
Buku novel detektif itu berhasil kudapatkan tanpa diskon dan harganya yang memang selangit. Kulihat Rifa juga sudah menenteng bungkungan kantong plastik yang dari luar tampak sedikit kuas mencuat melewati batas.
“Udah dapat, kan?” Tanyaku memastikan. Aku ingin segera bertemu kasur yang sudah kutinggalkan sedikitnya lima jam. “Pulang, yuk?”
“Sebentar, Don,” kata Rifa gugup, lalu meraih hp di tas kecilnya. “Gue laper, kita makan dulu aja gimana?”
Tentu tawaran ini akan kusambut dengan hati gembira andai aku masih Doni yang selama ini. Namun sayangnya novel barusan telah membuat kantongku menipis. Kini bahkan aku bisa memastikan eksistensi uang dalam dompetku telah dikalahkan oleh kertas nota.
“Aduh, gimana, ya, sebenarnya gue pengin pulang cepet…”
“Gue traktir, deh!” Sambar Rifa cepat. Entah dia tiba-tiba bisa membaca pikiran atau memang muka bokekku terlihat terlalu mencolok baginya.
“Nggak usah, deh,” kataku bergegas mengingat saldo di ATM. “Gue ke ATM dulu, ya.”
Yah mungkin besok makan mie nggak masalah kali, ya.
Bunyi piring beradu sendok terdengar sepanjang waktu kami yang memaksakan diri mengonsumsi nasi goreng di sore yang masih terasa seperti siang ini. Tak begitu pedas, untungnya. Namun panas alami dari sajian nasi goreng tentu tak pantas untuk masuk ke dalam mulut di waktu-waktu seperti ini. Dan, anehnya daritadi Rifa nampak menikmati saja makanan di depannya. Entah karena dia siap sedia es teh tarik, atau karena alasan lain yang kuterka-terka sejak tadi.
Sebenarnya aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Rifa versi hari ini. Sudah dua bulan sejak kami kenal dan mulai sering jalan bareng, namun baru hari ini Rifa versi agak pendiam muncul di hadapanku. Biasanya, dalam masa-masa berburu foto atau tempat makan baru selalu dihiasi dengan tawa khasnya yang mungkin akan membuat seribu orang yang mendekatinya seketika mundur. Atau malah semakin maju karena kuakui tawa itu seakan memiliki magnet pemikat. Hari ini tak seperti beberapa hari lainnya. Rifa hanya berkata seperlunya dan seringkali mendadak. Waktu beberapa menit di toko buku pun kami lebih sering terpisah, atau lebih tepatnya dia menghilang. Sangat aneh terutama jika mengingat dia biasanya selalu riang jika sudah berada di rak buku-buku fiksi. Hari ini bahkan tak kutemukan dia sekali pun di rak buku fiksi. Entah itu semua aneh, atau memang karena dia telah memiliki satu tujuan.
“Don, gue mau tanya sesuatu,” sekali lagi, Rifa berkata secara tiba-tiba.
Aku tersenyum berusaha menanggapi seperlunya, seakan dia hanya akan tanya apakah ada kuis atau tidak esok hari.
“Sebenarnya… kita ini apa?” kembali, satu pertanyaan yang terlalu tiba-tiba.
Pertanyaan itu adalah salah satu yang kuantisipasi sejak kita mulai kenal dan sering jalan beberapa waktu yang lalu. Terdengar mudah jika memang niat awalku adalah mendekatinya, lalu berusaha menjadikan pacar beberapa saatu selanjutnya. Namun, sayangnya tidak. Semua terjadi begitu saja. Kami berteman dan aku merasa nyaman. Semua kemungkinan tentang lanjut sebagai rekan atau berubah menjadi pacar sudah berulang kali kupikirkan, dan pilihan pertama adalah pilihan yang menjadi favoritku selama ini. Namun, tak semudah itu pula. Karena ada rasa yang menghambur dalam batin yang tak mungkin kucopot begitu saja. Aku tak tahu itu apa. Lebih kuat dari hubungan teman, lebih renggang dari hubungan pacar.
“Kita ini… manusia, bukan?” aku yakin saat itu wajahku terlihat sangat bodoh. Tolol. Bego. Atau, entah apapun yang mungkin level keburukannya di atas itu semua.
“Bukan, bukan itu maksud gue,” Rifa sibuk meralat meski sebenarnya tak perlu. “Kita… hubungan kita ini gimana? Kita ini apa?”
Satu pertanyaannya yang diulang tetap membuatku tak bergeming dari perang batin yang sejak sekian waktu lalu mengurung jiwaku. Kita ini manusia, Rif. Kamu ingat kan? Atau sebenarnya kamu alien dari kehidupan lain? Dari planet lain? Itu yang ingin kau akui?
“Tapi… kita memang manusia, kan? Apa gue salah, Rif?” aku masih kukuh dengan pendapatku, demi menutupi segala perasaan yang masih tak dapat kupastikan.
“Doni, maksud gue…” kata-kata Rifa mendadak terhenti ketika melihat mukaku. Entah apa yang dia baca dari raut itu, tapi kurasa dia telah menemukan satu hal yang kusembunyikan selama ini. Atau sebaliknya, dia gagal menangkap pesan bahwa selama ini aku nyaman berteman dengannya. “Lo memang nggak peka, Don!”
Rifa segera bangkit dari kursinya, mengambil tas tentengnya dan segera bersiap lari ke arah pintu keluar. Aku mencoba mengejarnya tepat ketika kulihat air mata mulai menitik diantara matanya. Namun, dia menghentikanku. Tanpa sedikit pun melihat ke arahku, tangan mengindikasikan dia memintaku berhenti.
“Gue cuma mau setelah ini kita jalan masing-masing,” katanya, semakin membuatku merasa bodoh. “Selamat tinggal, Doni…”
Langkah sepatunya terdengar berat dan penuh kekesalan meninggalkanku yang terpaku diam di tempat tanpa bisa melakukan apa-apa. Butuh beberapa menit sampai akhirnya aku kembali ke tempat duduk kami. Mengambil piring dan gelas minuman, lalu memindahkannya ke tempat luar yang bisa melihat jalanan.

Masih meratapi segala nasib yang entah akan bertahan lama atau tidak, aku mulai memikirkan masa depan. Tapi, yah, semuanya sudah berakhir. Mungkin suatu saat nanti kami bisa kembali berbaikan, namun pasti tak akan lagi sama rasanya seperti selama ini. Hanya satu hal bodoh yang tiba-tiba kembali mencuat dalam otakku yang menggila. 
Kita ini memang manusia, bukan?
x

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu