Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

[SEBULAT DONAT] #10 - Filosofi Donat

Ah, malu aku jika harus disuruh berulang-ulang membaca judul. Terlalu menyontek kata-katanya Mbak Dee. Terlalu melankolis. Dan, aku yakin Saudara sekalian akan berpikir, “Palingan hanya kalimat-kalimat super maksa untuk menghubungkan antara donat dan risalah kehidupan.” Namun, Kawan, kalian tak sepenuhnya salah. Itu pula yang aku pikirkan ketika pertama kali membuat tulisan itu. Gampang, tinggal buat filosofi kehidupan yang maksa disambungkan ke kata-kata donat. Tapi, jangan khawatir. Mungkin aku akan mengecewakan kalian, mungkin tulisan ini takkan semenakjubkan yang terbayangkan. Namun aku ingin mendedikasikan sesuatu untuk tulisan ini. Biarlah jika tulisan ini super maksa, hanya saja izinkan aku untuk membuatnya sedikit lebih bermakna. Saudara, mari kita ingat-ingat kembali. Apakah kalian ingat segala jenis cerita tentang donat, yang akhirnya bisa kalian tarik kesimpulan dari sana? Maaf, mungkin kalian ingin protes karena, bagaimana mungkin kalian bisa mendapatkan kesim...

[SEBULAT DONAT] #9 - Overseas Donut

Memasuki masa-masa mahasiswa adalah hal yang menegangkan sekaligus menyenangkan. Bagiku, waktu untuk mengenal donat secara lebih mendalam dan sentimental bisa terfokus di masa kuliah ini. Tentunya salah satu alasan adalah karena keuangan sepenuhnya diatur olehku sendiri. Jadi, untuk memilih mau jajan donat (dengan risiko hemat uang makan siang) bisa kulakukan sepuasnya. Meskipun pada kenyataannya aku masih tidak bisa bebas jajan donat, terutama karena harga donat modern yang semakin mahal. Pun, harga donat abal-abal yang mengecewakan, mengingat diriku yang susah move on dari donat kampung. Tak hanya itu, alasanku menjadikan cerita masa kuliah sebagai satu hal yang penting adalah karena di masa ini akhirnya aku bepergian jauh. Dalam rangka Praktik Kerja Lapangan memang, namun bagiku ini menyenangkan. Ah, tidak, hanya karena PKL itu sudah selesai makanya kubilang menyenangkan. Beberapa hari mendekati PKL membuatku deg-degan setengah hidup. Apa hubungannya PKL, bepergian jauh,...

[SEBULAT DONAT] #8 - Predator Alami

Dari segala ceritaku tentang donat, segala tentang kelembutan-kenikmatan-kelumeran dan segalanya, akhirnya aku tahu tentang sebuah fakta yang mencengangkan dari seorang teman. Dia. Tidak. Suka. Donat. Maksudnya, bagaimana bisa gitu? Bagaimana mungkin ada seseorang yang tidak menyukai makanan manis-manis nan mengetarkan hati seperti itu? Bagaimana bisa ada seseorang yang dapat menolak keindahan rasa ketika donat tercerna oleh sistem? Namun, jika Saudara sekalian beranggapan aku akan berlaku seperti Spongebob yang berusaha mencekoki Squidward dengan Krabby Patty akan dia merasakan kenikmatannya dan akhirnya doyan, Saudara salah besar. Sedikit-banyak, aku tak peduli. Hanya saja rasanya aneh ketika tahu ada seseorang yang tidak menyukai favoritmu, padahal kamu begitu tergila-gila pada hal itu. Berkali-kali menjelaskan seberapa enak donat juga tak berpengaruh signifikan. Roti yang padat dan empuk, topping -nya yang beraneka ragam dan kreatif, hingga paduan semuanya yang berp...

[SEBULAT DONAT] #7 - Dua Kontradiktif

Segala hal di dunia ini umumnya berlaku kontradiktif dan/atau saling berlawanan. Allah pun telah menciptakan segalanya secara berpasang-pasangan. Langit dan bumi, gelap dan terang, suka dan sedih. Lalu, muncul rasa lain, manis dan pahit. Dua rasa yang saling bertentangan. Akhirnya, kedua rasa bertentangan itu bertemu. Mungkin karena jodoh, mungkin terseret takdir. Keduanya bertemu dalam tempat yang sering tersebut dalam cerita ini. Ya, toko donat modern. Kafe donat modern? Ah, entah, aku terlalu bingung harus menamainya apa. Sepakat menamainya kafe saja? Baiklah. Mungkin terinspirasi dari roti tawar dicelup kopi yang rasanya jadi makin enak nggak ketulungan, akhirnya perusahaan-perusahaan itu menggabungkan dua unsur yang kontradiktif. Manis dan pahit. Donat dan kopi. Bicara soal kopi, tenang, aku takkan menjelaskan panjang lebar soal minuman pahit-namun-pantas-dinikmati itu. Sudah terlalu banyak dibahas, bukan? Mulai dari Filosofi Kopi milik Dee Lestari, hingga bahasan kop...

[SEBULAT DONAT] #6 - Saingan Dari Kota

Berapa tahun kalian mengalami masa sekolah menengah? Empat? Lima? Enam? Apakah cukup menyenangkan seperti yang dikatakan orang-orang? Untukku sendiri, ya. Tahun-tahun itu cukup menyenangkan. Tentu tak hanya diisi tawa, bahkan mungkin lebih didominasi luka. Tapi tak mengapa, karenanya diriku berkembang. Tak ingin kuceritakan perihal sekolah menengah itu lebih jauh. Karena, lokasi SMA-ku tak berbeda jauh dengan lokasi SMP. Hanya selisih maksimal satu kilometer, kurasa kurang. Oleh karenanya, tak ada hal lain mengenai donat yang bisa kuceritakan pada Saudara sekalian. Melanjutkan pendidikan dari sekolah menengah itu, akhirnya aku sampai pada kota ini. Kota yang diagung-agungkan para pencari kerja. Kota yang diminati warga segala penjuru desa. Kota yang dihindari mereka, yang sedikit-banyak mengerti. Ibukota negara, Jakarta. Aku kuliah untuk jurusan yang banyak dianggap orang-orang susah. Padahal … memang. Aku pun tak tahu kenapa bisa sampai di sini. Namun, empat tahun di sini, ...

[SEBULAT DONAT] #5 - Hangat dan Donat

Ada satu dan beberapa hal yang belum kuceritakan sebelum kisah yang ini, yaitu alasan pendukung mengapa aku akhirnya menyukai donat. Meski didominasi oleh rasa pertama berdasarkan donat kampung, alasan pendukung ini tidak bisa diremehkan begitu saja. Alasan itu terkait lagi dengan cerita soal keluarga. Yaitu, bahwa budhe- ku adalah mantan seorang pembuat kue. Sebentar, sebelum bergerak lebih lanjut, sepertinya aku ingin menceritakan soal kata budhe di situ dulu. Budhe di bahasa Jawa merupakan gabungan dari kata “ibu” dan “gedhe”. Artinya adalah beliau merupakan kakak perempuan dari ibu atau ayahku. Kalau di bahasa Indonesia sebutannya apa sih? Tante ya? Ya sudah sebut tante saja, nanti kalau ada revisi, di tulisan selanjutnya. Jadi, masterpiece dari tante selain kue tartnya adalah donat. Eh, sebenarnya kurang tahu juga. Kejadian ini terjadi ketika aku masih berusia di bawah sepuluh tahun, sekarang sudah … (sebut tidak, ya~). Intinya, sudah cukup lama dan memori masa kecil s...

[SEBULAT DONAT] #4 - Turut Berjalan Seiring Zaman

Waktu yang terus berjalan dan tren yang selalu berkembang membuat pengrajin donat harus memutar otak agar bisnisnya lancar. Semakin ke sini, taburan-taburan di atas donat semakin bermacam-macam. Aku tentu tak mengikuti perkembangan perusahaan manakah yang pertama kali memiliki ide ini. Kuduga, mereka berpikir dengan menambah varian taburan donat agar tak kalah dengan macam-macam roti yang mulai merebak. Ah, mereka tak tahu saja, ada seseorang yang benar-benar menyukai donat tak peduli dengan segala hal dan rasa yang ditawarkan roti itu. Untungnya, mereka tak mengerti. Karena, seseorang itu tak pernah terpikir untuk membeli donat yang dijajakan perusahaan-perusahaan itu. Maklum saja, anak itu masih murid sekolah menengah. Pertama kali kurasakan donat modern itu adalah ketika … maaf, aku lupa. Ada dua memori yang saling bertabrakan di otakku sekarang. Apakah momen itu dimulai oleh tanteku yang memang sering membawakan macam-macam makanan mahal? Ataukah, dari sepupuku yang tinggal ...