Ada satu dan beberapa hal yang belum kuceritakan sebelum kisah yang
ini, yaitu alasan pendukung mengapa aku akhirnya menyukai donat. Meski
didominasi oleh rasa pertama berdasarkan donat kampung, alasan pendukung ini
tidak bisa diremehkan begitu saja. Alasan itu terkait lagi dengan cerita soal
keluarga. Yaitu, bahwa budhe-ku adalah mantan seorang pembuat kue.
Sebentar, sebelum bergerak lebih lanjut, sepertinya aku ingin
menceritakan soal kata budhe di situ dulu. Budhe di bahasa Jawa
merupakan gabungan dari kata “ibu” dan “gedhe”. Artinya adalah beliau merupakan
kakak perempuan dari ibu atau ayahku. Kalau di bahasa Indonesia sebutannya apa
sih? Tante ya? Ya sudah sebut tante saja, nanti kalau ada revisi, di tulisan
selanjutnya.
Jadi, masterpiece dari tante selain kue tartnya adalah donat.
Eh, sebenarnya kurang tahu juga. Kejadian ini terjadi ketika aku masih berusia
di bawah sepuluh tahun, sekarang sudah … (sebut tidak, ya~). Intinya, sudah cukup
lama dan memori masa kecil seseorang tidak akan menangkap sesuatu hal yang
menurutnya kurang bermakna. Eh, soal rasa donatnya, aku masih ingat. Jangan
remehkan!
Setahuku, tante membuat donat berdasarkan resep yang dimulai dengan
kentang. Enak. Teksturnya juga berada di tengah-tengah antara donat kampung
alot dan donat modern. Tapi, ada satu yang tidak kusukai sebenarnya. Mmm… ini
terkait preferensi pribadi kok hehe. Yaitu, menteganya mentega putih, dan aku
suka eneg sama jenis makanan itu. Jadinya yaaa, kurang puas. Tapi keseluruhan
donatnya enak, makanya dibahas di sini sebagai alasan pendukung.
Selain itu, punya seorang tante yang suka bikin donat mempunyai
keuntungan. Keuntungan tersebut adalah bisa memakan donat yang hangat. Dan,
pendapatku, donat hangat yang baru kelar dimasak adalah yang terbaik! Rotinya
hangat ditambah coklat yang saling bertinju adalah perpaduan yang sempurna. Hal
ini mungkin hanya suatu kenorakan belaka bahwa memang sangat jarang dapat
dirasakan donat seperti ini jika membeli di pedagang keliling ataupun toko
donat modern.
Donat hangat ini juga berhasil menerbitkan keinginan untuk menyuap
lagi, lagi, dan lagi. Tak ada yang memaksa. Segalanya terlaksana secara
tiba-tiba. Mengagumkan. Kenyang pun tak dapat terhindarkan lagi.
Dapatkah Saudara sebutkan macam-macam kenikmatan lain, selain dari
sebuah donat yang hangat? Ah, mungkin kalian akan menyebutkan daftar yang
banyak, aku tak peduli. Yang jelas, donat yang hangat akan selalu mendapat
peringkat atas untuk salah satu kenikmatan dunia.
Komentar
Posting Komentar