Langsung ke konten utama

[SEBULAT DONAT] #5 - Hangat dan Donat


Ada satu dan beberapa hal yang belum kuceritakan sebelum kisah yang ini, yaitu alasan pendukung mengapa aku akhirnya menyukai donat. Meski didominasi oleh rasa pertama berdasarkan donat kampung, alasan pendukung ini tidak bisa diremehkan begitu saja. Alasan itu terkait lagi dengan cerita soal keluarga. Yaitu, bahwa budhe-ku adalah mantan seorang pembuat kue.

Sebentar, sebelum bergerak lebih lanjut, sepertinya aku ingin menceritakan soal kata budhe di situ dulu. Budhe di bahasa Jawa merupakan gabungan dari kata “ibu” dan “gedhe”. Artinya adalah beliau merupakan kakak perempuan dari ibu atau ayahku. Kalau di bahasa Indonesia sebutannya apa sih? Tante ya? Ya sudah sebut tante saja, nanti kalau ada revisi, di tulisan selanjutnya.

Jadi, masterpiece dari tante selain kue tartnya adalah donat. Eh, sebenarnya kurang tahu juga. Kejadian ini terjadi ketika aku masih berusia di bawah sepuluh tahun, sekarang sudah … (sebut tidak, ya~). Intinya, sudah cukup lama dan memori masa kecil seseorang tidak akan menangkap sesuatu hal yang menurutnya kurang bermakna. Eh, soal rasa donatnya, aku masih ingat. Jangan remehkan!

Setahuku, tante membuat donat berdasarkan resep yang dimulai dengan kentang. Enak. Teksturnya juga berada di tengah-tengah antara donat kampung alot dan donat modern. Tapi, ada satu yang tidak kusukai sebenarnya. Mmm… ini terkait preferensi pribadi kok hehe. Yaitu, menteganya mentega putih, dan aku suka eneg sama jenis makanan itu. Jadinya yaaa, kurang puas. Tapi keseluruhan donatnya enak, makanya dibahas di sini sebagai alasan pendukung.

Selain itu, punya seorang tante yang suka bikin donat mempunyai keuntungan. Keuntungan tersebut adalah bisa memakan donat yang hangat. Dan, pendapatku, donat hangat yang baru kelar dimasak adalah yang terbaik! Rotinya hangat ditambah coklat yang saling bertinju adalah perpaduan yang sempurna. Hal ini mungkin hanya suatu kenorakan belaka bahwa memang sangat jarang dapat dirasakan donat seperti ini jika membeli di pedagang keliling ataupun toko donat modern.

Donat hangat ini juga berhasil menerbitkan keinginan untuk menyuap lagi, lagi, dan lagi. Tak ada yang memaksa. Segalanya terlaksana secara tiba-tiba. Mengagumkan. Kenyang pun tak dapat terhindarkan lagi.

Dapatkah Saudara sebutkan macam-macam kenikmatan lain, selain dari sebuah donat yang hangat? Ah, mungkin kalian akan menyebutkan daftar yang banyak, aku tak peduli. Yang jelas, donat yang hangat akan selalu mendapat peringkat atas untuk salah satu kenikmatan dunia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu