Segala hal di dunia ini umumnya berlaku kontradiktif dan/atau saling
berlawanan. Allah pun telah menciptakan segalanya secara berpasang-pasangan.
Langit dan bumi, gelap dan terang, suka dan sedih. Lalu, muncul rasa lain,
manis dan pahit. Dua rasa yang saling bertentangan. Akhirnya, kedua rasa
bertentangan itu bertemu. Mungkin karena jodoh, mungkin terseret takdir.
Keduanya bertemu dalam tempat yang sering tersebut dalam cerita ini.
Ya, toko donat modern. Kafe donat modern? Ah, entah, aku terlalu bingung harus
menamainya apa. Sepakat menamainya kafe saja? Baiklah. Mungkin terinspirasi
dari roti tawar dicelup kopi yang rasanya jadi makin enak nggak ketulungan, akhirnya
perusahaan-perusahaan itu menggabungkan dua unsur yang kontradiktif. Manis dan
pahit. Donat dan kopi.
Bicara soal kopi, tenang, aku takkan menjelaskan panjang lebar soal
minuman pahit-namun-pantas-dinikmati itu. Sudah terlalu banyak dibahas, bukan?
Mulai dari Filosofi Kopi milik Dee Lestari, hingga bahasan kopi turut
menyusup dalam karya Cinta di Dalam Gelas atas nama Andrea Hirata.
Filosofi Kopi pun bahkan akhirnya masuk ke layar lebar dan mempunyai sekuel.
Salut, sebegitunya orang mencintai minuman pahit penuh inspirasi ini.
Sampai-sampai ramai di media sosial bahwa kopi itu digiling, bukan digunting.
Haha. Maaf, tapi saya sedang tidak ingin membalasnya dengan perdebatan.
Dan, pembicaraan ini semakin tak tentu arah menuju kopi. Baiklah,
terkait donat dan kopi, kuakui keduanya merupakan favoritku. Sehingga, bagiku
tak masalah jika akhirnya keduanya dipertemukan dalam pertemuan syahdu yang
melahirkan kenikmatan tiada tara. Namun, apakah Saudara sekalian setuju pada
pendapatku itu? Ataukah kalian tidak peduli karena tidak menyukai baik donat maupun
kopi? Kalau begitu bagus, aku bisa lebih leluasa menceritakan bahwa mereka
adalah pasangan yang klop, barangkali suatu saat kalian tertarik.
Mengapa kedua menjadi klop, adalah apa yang kutemukan ketika pertama
berkunjung ke kafe donat modern itu. Tujuanku bukan donat, karena aku tahu
membeli donat di sana hanya membuang jatah makan bulananku. Namun, donat itu
akhirnya dipertemukan denganku sebagai barang gratisan untuk menemani latte yang
kupesan. Donat gula putri salju. Hanya saja, lebih manis. Sangat manis, hingga
rasanya mencekam gigi. Untunglah, yang kupesan adalah kopi. Perpaduan sangat
manis dan rasa pahit dengan sedikit manis itu akhirnya bisa menetralkan
suasana. Keduanya pun mendadak cocok dipadukan dalam lidah yang daritadi
memprotes kehadiran rasa sangat manis itu. Terima kasih orang penemu ide
terkait.
Semakin ke sini, semakin terasa banyak gerai
donat yang juga menjual kopi. Dan, setiap kali aku melihatnya tak lagi protes
akan kehadirannya. Biarkan mereka, mereka memang seharusnya berdua. Tak ada
yang salah untuk memadupadankan mereka, selama kalian tahu seberapa cocok
komposisi yang tepat.
Komentar
Posting Komentar