Langsung ke konten utama

[SEBULAT DONAT] #7 - Dua Kontradiktif

Segala hal di dunia ini umumnya berlaku kontradiktif dan/atau saling berlawanan. Allah pun telah menciptakan segalanya secara berpasang-pasangan. Langit dan bumi, gelap dan terang, suka dan sedih. Lalu, muncul rasa lain, manis dan pahit. Dua rasa yang saling bertentangan. Akhirnya, kedua rasa bertentangan itu bertemu. Mungkin karena jodoh, mungkin terseret takdir.


Keduanya bertemu dalam tempat yang sering tersebut dalam cerita ini. Ya, toko donat modern. Kafe donat modern? Ah, entah, aku terlalu bingung harus menamainya apa. Sepakat menamainya kafe saja? Baiklah. Mungkin terinspirasi dari roti tawar dicelup kopi yang rasanya jadi makin enak nggak ketulungan, akhirnya perusahaan-perusahaan itu menggabungkan dua unsur yang kontradiktif. Manis dan pahit. Donat dan kopi.

Bicara soal kopi, tenang, aku takkan menjelaskan panjang lebar soal minuman pahit-namun-pantas-dinikmati itu. Sudah terlalu banyak dibahas, bukan? Mulai dari Filosofi Kopi milik Dee Lestari, hingga bahasan kopi turut menyusup dalam karya Cinta di Dalam Gelas atas nama Andrea Hirata. Filosofi Kopi pun bahkan akhirnya masuk ke layar lebar dan mempunyai sekuel. Salut, sebegitunya orang mencintai minuman pahit penuh inspirasi ini. Sampai-sampai ramai di media sosial bahwa kopi itu digiling, bukan digunting. Haha. Maaf, tapi saya sedang tidak ingin membalasnya dengan perdebatan.

Dan, pembicaraan ini semakin tak tentu arah menuju kopi. Baiklah, terkait donat dan kopi, kuakui keduanya merupakan favoritku. Sehingga, bagiku tak masalah jika akhirnya keduanya dipertemukan dalam pertemuan syahdu yang melahirkan kenikmatan tiada tara. Namun, apakah Saudara sekalian setuju pada pendapatku itu? Ataukah kalian tidak peduli karena tidak menyukai baik donat maupun kopi? Kalau begitu bagus, aku bisa lebih leluasa menceritakan bahwa mereka adalah pasangan yang klop, barangkali suatu saat kalian tertarik.

Mengapa kedua menjadi klop, adalah apa yang kutemukan ketika pertama berkunjung ke kafe donat modern itu. Tujuanku bukan donat, karena aku tahu membeli donat di sana hanya membuang jatah makan bulananku. Namun, donat itu akhirnya dipertemukan denganku sebagai barang gratisan untuk menemani latte yang kupesan. Donat gula putri salju. Hanya saja, lebih manis. Sangat manis, hingga rasanya mencekam gigi. Untunglah, yang kupesan adalah kopi. Perpaduan sangat manis dan rasa pahit dengan sedikit manis itu akhirnya bisa menetralkan suasana. Keduanya pun mendadak cocok dipadukan dalam lidah yang daritadi memprotes kehadiran rasa sangat manis itu. Terima kasih orang penemu ide terkait.

Semakin ke sini, semakin terasa banyak gerai donat yang juga menjual kopi. Dan, setiap kali aku melihatnya tak lagi protes akan kehadirannya. Biarkan mereka, mereka memang seharusnya berdua. Tak ada yang salah untuk memadupadankan mereka, selama kalian tahu seberapa cocok komposisi yang tepat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu