Langsung ke konten utama

[SEBULAT DONAT] #10 - Filosofi Donat


Ah, malu aku jika harus disuruh berulang-ulang membaca judul. Terlalu menyontek kata-katanya Mbak Dee. Terlalu melankolis. Dan, aku yakin Saudara sekalian akan berpikir, “Palingan hanya kalimat-kalimat super maksa untuk menghubungkan antara donat dan risalah kehidupan.”


Namun, Kawan, kalian tak sepenuhnya salah. Itu pula yang aku pikirkan ketika pertama kali membuat tulisan itu. Gampang, tinggal buat filosofi kehidupan yang maksa disambungkan ke kata-kata donat. Tapi, jangan khawatir. Mungkin aku akan mengecewakan kalian, mungkin tulisan ini takkan semenakjubkan yang terbayangkan. Namun aku ingin mendedikasikan sesuatu untuk tulisan ini. Biarlah jika tulisan ini super maksa, hanya saja izinkan aku untuk membuatnya sedikit lebih bermakna.

Saudara, mari kita ingat-ingat kembali. Apakah kalian ingat segala jenis cerita tentang donat, yang akhirnya bisa kalian tarik kesimpulan dari sana? Maaf, mungkin kalian ingin protes karena, bagaimana mungkin kalian bisa mendapatkan kesimpulan jika apa yang kuceritakan hanya masalah yang begitu random?

Oleh karena itu, izinkan aku kembali mengingatkan, dan membimbing untuk menemukan filosofi yang begitu maksa itu.

Ingatkah soal donat kampung? Tak sanggup kupungkiri, donat itu adalah salah satu yang masuk ke dalam daftar favoritku. Pun, oleh karena dialah aku akhirnya menyukai donat. Adakah orang yang menyukainya selain aku? Ada, aku yakin. Adakah orang yang tidak menyukainya? Tentu banyak, terutama karena geseran dari donat modern. Namun, akan selalu ada tempat baginya di hati para penggemar yang tak sanggup lepas darinya. Begitu pula dengan dirimu. Ada yang suka, ada (mungkin, banyak?) yang tidak suka. Apakah kau harus memaksa semua orang untuk menyukaimu? Tentu tak bisa. Kembalikan pada donat kampung. Memberi seseorang yang tidak menyukainya secara terus-menerus hanya akan membuat orang itu merasa muak. Pun, bisa jadi begitu dengan dirimu. Kau tahu, jika seseorang sudah membencimu, segala yang kau lakukan akan percuma di hadapannya. Sukailah sesuatu secukupnya, bencilah sesuatu secukupnya pula. Kita takkan pernah tahu bagaimana ke depannya.

Lalu, tentu Saudara tak lupa dengan donat modern, bukan? Tak selalu enak, namun tentu mayoritas dari kalian akan setuju bahwa donat modern lebih mudah dinikmati ketimbang donat kampung. Juga berlaku untuk bagaimana kalian berkembang. Berjalanlah, berjuanglah. Terus berkembang. Perjuangkan apa yang ingin kau capai. Kembangkan selalu hingga kau bisa mendapatkan apa yang kau raih. Kau membutuhkannya. Ingat, tak pernah ada donat modern seenak itu jika orang-orang hanya terus berjibaku dengan donat kampung. Tak pernah ada donat modern sevariatif itu jika orang-orang hanya berada di zona nyaman bersama donat kampung. Karenanya, semangatlah. Raih segala asa, teruslah berkembang. Ada hal baik menunggumu di ujung perjalanan itu.

Saudara, satu lagi filosofi yang bisa aku antarkan. Terakhir, adalah bagaimana donat yang tidak bolong tengahnya itu tetap bisa diterima masyarakat. Ya, kau tak harus selalu menjadi dirimu sendiri selalu, terus, lagi dan lagi. Kau boleh berubah. Engkau, wajib berubah. Beradaptasi, untuk satu lingkungan yang menginginkanmu beda. Tak usah khawatir, lakukan jika itu memang baik. Namun ingat, jangan hilangkan karakteristikmu. Pahami, donat tidak bolong itu bisa diterima karena menggunakan adonan roti dengan resep yang sama dengan donat bolong. Lalu, jika akhirnya kau harus berubah namun ke arah yang lebih buruk, jangan lakukan. Berhenti, kembali jadi dirimu sendiri. Kau sudah baik, kau sudah istimewa. Untuk apa menjadi hal lain yang benar-benar berbeda jika itu membuatmu hancur? Pahami, donat tidak bolong itu jika mendapat taburan aneh dan tidak pas tentu hanya akan mendapat cercaan masyarakat.

Saudara, bolehkah aku cukupkan sampai di sini? Senang rasanya bisa berbagi masalah donat ini dengan kalian semua. Terima kasih sudah sudi untuk mampir. Semoga kita selalu memiliki tekad bulat menerjang hidup. Sebuah tekad sebulat donat. Semoga, suatu saat kita bisa berbincang lebih panjang lagi dengan ditemani secangkir kopi.

Untuk lebih siap menghadapi segala manis dan pahit hidup ini…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu