Ah, malu aku jika harus disuruh berulang-ulang membaca judul.
Terlalu menyontek kata-katanya Mbak Dee. Terlalu melankolis. Dan, aku yakin
Saudara sekalian akan berpikir, “Palingan hanya kalimat-kalimat super maksa untuk
menghubungkan antara donat dan risalah kehidupan.”
Namun, Kawan, kalian tak sepenuhnya salah. Itu pula yang aku
pikirkan ketika pertama kali membuat tulisan itu. Gampang, tinggal buat
filosofi kehidupan yang maksa disambungkan ke kata-kata donat. Tapi, jangan
khawatir. Mungkin aku akan mengecewakan kalian, mungkin tulisan ini takkan
semenakjubkan yang terbayangkan. Namun aku ingin mendedikasikan sesuatu untuk
tulisan ini. Biarlah jika tulisan ini super maksa, hanya saja izinkan
aku untuk membuatnya sedikit lebih bermakna.
Saudara, mari kita ingat-ingat kembali. Apakah kalian ingat segala
jenis cerita tentang donat, yang akhirnya bisa kalian tarik kesimpulan dari
sana? Maaf, mungkin kalian ingin protes karena, bagaimana mungkin kalian bisa
mendapatkan kesimpulan jika apa yang kuceritakan hanya masalah yang begitu
random?
Oleh karena itu, izinkan aku kembali mengingatkan, dan membimbing
untuk menemukan filosofi yang begitu maksa itu.
Ingatkah soal donat kampung? Tak sanggup kupungkiri, donat itu
adalah salah satu yang masuk ke dalam daftar favoritku. Pun, oleh karena dialah
aku akhirnya menyukai donat. Adakah orang yang menyukainya selain aku? Ada, aku
yakin. Adakah orang yang tidak menyukainya? Tentu banyak, terutama karena geseran
dari donat modern. Namun, akan selalu ada tempat baginya di hati para penggemar
yang tak sanggup lepas darinya. Begitu pula dengan dirimu. Ada yang suka, ada
(mungkin, banyak?) yang tidak suka. Apakah kau harus memaksa semua orang untuk
menyukaimu? Tentu tak bisa. Kembalikan pada donat kampung. Memberi seseorang
yang tidak menyukainya secara terus-menerus hanya akan membuat orang itu merasa
muak. Pun, bisa jadi begitu dengan dirimu. Kau tahu, jika seseorang sudah
membencimu, segala yang kau lakukan akan percuma di hadapannya. Sukailah
sesuatu secukupnya, bencilah sesuatu secukupnya pula. Kita takkan pernah tahu
bagaimana ke depannya.
Lalu, tentu Saudara tak lupa dengan donat modern, bukan? Tak selalu
enak, namun tentu mayoritas dari kalian akan setuju bahwa donat modern lebih
mudah dinikmati ketimbang donat kampung. Juga berlaku untuk bagaimana kalian
berkembang. Berjalanlah, berjuanglah. Terus berkembang. Perjuangkan apa yang
ingin kau capai. Kembangkan selalu hingga kau bisa mendapatkan apa yang kau raih.
Kau membutuhkannya. Ingat, tak pernah ada donat modern seenak itu jika
orang-orang hanya terus berjibaku dengan donat kampung. Tak pernah ada donat
modern sevariatif itu jika orang-orang hanya berada di zona nyaman bersama
donat kampung. Karenanya, semangatlah. Raih segala asa, teruslah berkembang.
Ada hal baik menunggumu di ujung perjalanan itu.
Saudara, satu lagi filosofi yang bisa aku antarkan. Terakhir, adalah
bagaimana donat yang tidak bolong tengahnya itu tetap bisa diterima masyarakat.
Ya, kau tak harus selalu menjadi dirimu sendiri selalu, terus, lagi dan lagi. Kau
boleh berubah. Engkau, wajib berubah. Beradaptasi, untuk satu lingkungan yang
menginginkanmu beda. Tak usah khawatir, lakukan jika itu memang baik. Namun
ingat, jangan hilangkan karakteristikmu. Pahami, donat tidak bolong itu bisa
diterima karena menggunakan adonan roti dengan resep yang sama dengan donat
bolong. Lalu, jika akhirnya kau harus berubah namun ke arah yang lebih buruk,
jangan lakukan. Berhenti, kembali jadi dirimu sendiri. Kau sudah baik, kau
sudah istimewa. Untuk apa menjadi hal lain yang benar-benar berbeda jika itu
membuatmu hancur? Pahami, donat tidak bolong itu jika mendapat taburan aneh dan
tidak pas tentu hanya akan mendapat cercaan masyarakat.
Saudara, bolehkah aku cukupkan sampai di sini? Senang rasanya bisa
berbagi masalah donat ini dengan kalian semua. Terima kasih sudah sudi untuk
mampir. Semoga kita selalu memiliki tekad bulat menerjang hidup. Sebuah tekad
sebulat donat. Semoga, suatu saat kita bisa berbincang lebih panjang lagi
dengan ditemani secangkir kopi.
Untuk lebih siap menghadapi segala manis dan pahit hidup ini…
Komentar
Posting Komentar