Langsung ke konten utama

[SEBULAT DONAT] #8 - Predator Alami


Dari segala ceritaku tentang donat, segala tentang kelembutan-kenikmatan-kelumeran dan segalanya, akhirnya aku tahu tentang sebuah fakta yang mencengangkan dari seorang teman. Dia. Tidak. Suka. Donat.

Maksudnya, bagaimana bisa gitu? Bagaimana mungkin ada seseorang yang tidak menyukai makanan manis-manis nan mengetarkan hati seperti itu? Bagaimana bisa ada seseorang yang dapat menolak keindahan rasa ketika donat tercerna oleh sistem?

Namun, jika Saudara sekalian beranggapan aku akan berlaku seperti Spongebob yang berusaha mencekoki Squidward dengan Krabby Patty akan dia merasakan kenikmatannya dan akhirnya doyan, Saudara salah besar. Sedikit-banyak, aku tak peduli. Hanya saja rasanya aneh ketika tahu ada seseorang yang tidak menyukai favoritmu, padahal kamu begitu tergila-gila pada hal itu.

Berkali-kali menjelaskan seberapa enak donat juga tak berpengaruh signifikan. Roti yang padat dan empuk, topping-nya yang beraneka ragam dan kreatif, hingga paduan semuanya yang berpadu dalam satu harmoni. Tak berguna, dia masih tidak serta merta menyukai donat.

Tak perlulah kusebutkan siapa nama orang itu. Yang jelas, dia termasuk dalam salah seorang di buku cerita bagian perkuliahan. Kalau dipikir-pikir, memang ternyata beberapa sifat kami ada yang saling berlawanan. Seperti, lihatlah, dia begitu rajin dan memulai segala sesuatu pada H-jauh sebelum sesuatu itu terkumpul. Apalah dibandingkan aku yang baru tercambuk ketika garis merah semakin mendekat. Dia yang rajin dan aku yang pemalas. Seharusnya tak mengagetkan bagiku jika akhirnya kami menyukai dan tidak menyukai satu hal yang sama.

Akhirnya, usut punya usut setelah diriku ini berpikir lebih panjang, bisa kuterka penyebabnya. Kutaksir, alasan dia tidak menyukai donat adalah karena dia tidak menggemari coklat. Ah, jangan protes. Tentulah alasan ini penting untuk memulai menyukai donat. Maksudku, coba cek taburan di atas donat itu. Bukankah hampir keseluruhannya rasa coklat?

Lalu semakin aku kenal, akhirnya pula dia bercerita bahwa donat boleh-boleh saja dimakannya, asalkan tidak bolong. HAH? Bagaimana mungkin donat bisa dimakan dalam keadaan tidak bolong? Itu sesuatu yang melanggar hak asasi donat, tidak ber-perikedonatan! Aku menentang!

Memang, aku adalah seseorang dengan ide garis keras yang menyatakan bahwa donat harus bolong tengahnya. Harus! Tidak boleh tidak. Jika donat tidak bolong, apalah beda dia dengan roti? Mengapa tidak kau makan saja rotimu itu dan campakkan donat sepuasnya? Biarlah hanya aku yang menikmati donat.

Tapi, toh, setiap orang bisa berbeda pedapatnya.

Sampai akhirnya kedua pikiranku yang saling terhubung itu menyatakan bahwa memang lebih baik dia, seseorang yang tidak menyukai donat itu, selamanya tidak menyukai donat. Sepertinya aku akan lebih rela dibandingkan dengan idenya untuk membuat donat menjadi sebuah roti manis makanan yang tanpa lubang di tengahnya. Rasanya tak sanggup membayangkannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu