Dari segala ceritaku tentang donat, segala tentang
kelembutan-kenikmatan-kelumeran dan segalanya, akhirnya aku tahu tentang sebuah
fakta yang mencengangkan dari seorang teman. Dia. Tidak. Suka. Donat.
Maksudnya, bagaimana bisa gitu? Bagaimana mungkin ada seseorang yang
tidak menyukai makanan manis-manis nan mengetarkan hati seperti itu? Bagaimana
bisa ada seseorang yang dapat menolak keindahan rasa ketika donat tercerna oleh
sistem?
Namun, jika Saudara sekalian beranggapan aku akan berlaku seperti Spongebob
yang berusaha mencekoki Squidward dengan Krabby Patty akan
dia merasakan kenikmatannya dan akhirnya doyan, Saudara salah besar.
Sedikit-banyak, aku tak peduli. Hanya saja rasanya aneh ketika tahu ada
seseorang yang tidak menyukai favoritmu, padahal kamu begitu tergila-gila pada
hal itu.
Berkali-kali menjelaskan seberapa enak donat juga tak berpengaruh
signifikan. Roti yang padat dan empuk, topping-nya yang beraneka ragam
dan kreatif, hingga paduan semuanya yang berpadu dalam satu harmoni. Tak
berguna, dia masih tidak serta merta menyukai donat.
Tak perlulah kusebutkan siapa nama orang itu. Yang jelas, dia
termasuk dalam salah seorang di buku cerita bagian perkuliahan. Kalau
dipikir-pikir, memang ternyata beberapa sifat kami ada yang saling berlawanan.
Seperti, lihatlah, dia begitu rajin dan memulai segala sesuatu pada H-jauh
sebelum sesuatu itu terkumpul. Apalah dibandingkan aku yang baru tercambuk
ketika garis merah semakin mendekat. Dia yang rajin dan aku yang pemalas.
Seharusnya tak mengagetkan bagiku jika akhirnya kami menyukai dan tidak
menyukai satu hal yang sama.
Akhirnya, usut punya usut setelah diriku ini berpikir lebih panjang,
bisa kuterka penyebabnya. Kutaksir, alasan dia tidak menyukai donat adalah
karena dia tidak menggemari coklat. Ah, jangan protes. Tentulah alasan ini
penting untuk memulai menyukai donat. Maksudku, coba cek taburan di atas donat
itu. Bukankah hampir keseluruhannya rasa coklat?
Lalu semakin aku kenal, akhirnya pula dia bercerita bahwa donat
boleh-boleh saja dimakannya, asalkan tidak bolong. HAH? Bagaimana mungkin donat
bisa dimakan dalam keadaan tidak bolong? Itu sesuatu yang melanggar hak asasi
donat, tidak ber-perikedonatan! Aku menentang!
Memang, aku adalah seseorang dengan ide garis keras yang menyatakan bahwa
donat harus bolong tengahnya. Harus! Tidak boleh tidak. Jika donat tidak
bolong, apalah beda dia dengan roti? Mengapa tidak kau makan saja rotimu itu
dan campakkan donat sepuasnya? Biarlah hanya aku yang menikmati donat.
Tapi, toh, setiap orang bisa berbeda pedapatnya.
Sampai akhirnya kedua pikiranku yang saling terhubung itu menyatakan
bahwa memang lebih baik dia, seseorang yang tidak menyukai donat itu, selamanya
tidak menyukai donat. Sepertinya aku akan lebih rela dibandingkan dengan idenya
untuk membuat donat menjadi sebuah roti manis makanan yang tanpa lubang di
tengahnya. Rasanya tak sanggup membayangkannya.
Komentar
Posting Komentar