Langsung ke konten utama

[SEBULAT DONAT] #9 - Overseas Donut


Memasuki masa-masa mahasiswa adalah hal yang menegangkan sekaligus menyenangkan. Bagiku, waktu untuk mengenal donat secara lebih mendalam dan sentimental bisa terfokus di masa kuliah ini. Tentunya salah satu alasan adalah karena keuangan sepenuhnya diatur olehku sendiri. Jadi, untuk memilih mau jajan donat (dengan risiko hemat uang makan siang) bisa kulakukan sepuasnya. Meskipun pada kenyataannya aku masih tidak bisa bebas jajan donat, terutama karena harga donat modern yang semakin mahal. Pun, harga donat abal-abal yang mengecewakan, mengingat diriku yang susah move on dari donat kampung.

Tak hanya itu, alasanku menjadikan cerita masa kuliah sebagai satu hal yang penting adalah karena di masa ini akhirnya aku bepergian jauh. Dalam rangka Praktik Kerja Lapangan memang, namun bagiku ini menyenangkan. Ah, tidak, hanya karena PKL itu sudah selesai makanya kubilang menyenangkan. Beberapa hari mendekati PKL membuatku deg-degan setengah hidup.

Apa hubungannya PKL, bepergian jauh, dan donat?

Oh, untuk itu, aku akan bercerita secara runtut. Pertama, PKL kami atas perintah dari Ketua kampus (ya, jabatan tertinggi kampus kami adalah ketua, bukan rektor) dilaksanakan di Pulau Lombok. Bayangkan, Lombok! Yang punya tagline, Belum ke Lombok, apa kata dunia?” (Ini benar, bukan? Ini cuma seingatku saja soalnya kebetulan pas pembukaan PKL dulu aku bertugas dalam peliputannya). Aku yang selama 20 tahun hidup baru ke luar Pulau Jawa adalah untuk ke Bali, tentu membuat pengalaman kali ini begitu menakjubkan.

Singkat cerita (karena cerita tentang Lombok sudah terbit secara terpisah), aku mendapat bagian tugas cacah di Lombok Barat. Tepatnya, Kecamatan Batu Layar. Salah satunya adalah Desa Senggigi. Iya, yang pantainya terkenal itu. Di sinilah cerita itu kurang lebih bermula.

Jadi, tugas kami adalah mencacah dan mendaftar rumah tangga pada daerah cacah masing-masing. Senggigi, pinggir pantai, adalah daerah yang panas. Deadline pelaksaan cacah yang hanya sampai magrib membuatku gentar. Pasalnya, sudah mendekati pukul 12 siang dan aku baru menyelesaikan sekitar 10% saja. Itupun sudah terasa sangat lelah. Dan panas. Dan, tentunya, rambut dan jaket yang kumal dan bau matahari. Tak terpikir sama sekali untuk makan siang, bahkan untuk membeli cemilan.

Sempat ketika akhirnya mengunjungi kantor PLN (untuk dicacah), aku diberi sebungkus nasi yang hanya berakhir di dalam tas saja. Ah, tak sampai hati aku jika harus menuruti kata perut. Beruntung, aku bertemu dengan suatu minimarket. Minimarket yang diketahui sejuta orang di Indonesia. Minimarket, yang kala itu, menjual donat! Iya, jual donat! Dengan topping oreo dan cream cheese! Tanpa pikir panjang (entahlah, aku lupa ketika itu aku bahkan sempat berpikir atau tidak), aku berhenti untuk beristirahat dan makan donat. Tak lupa, sekotak kopi instan juga turut menemani makan siang ala-ala itu. Meski harus merogoh kocek lebih dalam, aku tak menyesal. Karenanya, aku memiliki memori indah bersama donat di pulau yang begitu jauh dari kediamanku. Bahkan hingga akhirnya aku kembali ke Jakarta, rasa donat dan kopi kotak itu begitu membekas di ingatan.

Komentar

  1. Harrah's Casino Site | Lucky Club Live Casino
    Welcome to Lucky luckyclub Club Live Casino, a brand new online casino offering a great selection of video slots and table games. Play over 1600 casino games on

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu