Memasuki masa-masa mahasiswa adalah hal yang menegangkan sekaligus
menyenangkan. Bagiku, waktu untuk mengenal donat secara lebih mendalam dan
sentimental bisa terfokus di masa kuliah ini. Tentunya salah satu alasan adalah
karena keuangan sepenuhnya diatur olehku sendiri. Jadi, untuk memilih mau jajan
donat (dengan risiko hemat uang makan siang) bisa kulakukan sepuasnya. Meskipun
pada kenyataannya aku masih tidak bisa bebas jajan donat, terutama karena harga
donat modern yang semakin mahal. Pun, harga donat abal-abal yang
mengecewakan, mengingat diriku yang susah move on dari donat kampung.
Tak hanya itu, alasanku menjadikan cerita masa kuliah sebagai satu
hal yang penting adalah karena di masa ini akhirnya aku bepergian jauh. Dalam
rangka Praktik Kerja Lapangan memang, namun bagiku ini menyenangkan. Ah, tidak,
hanya karena PKL itu sudah selesai makanya kubilang menyenangkan. Beberapa hari
mendekati PKL membuatku deg-degan setengah hidup.
Apa hubungannya PKL, bepergian jauh, dan donat?
Oh, untuk itu, aku akan bercerita secara runtut. Pertama, PKL kami
atas perintah dari Ketua kampus (ya, jabatan tertinggi kampus kami adalah
ketua, bukan rektor) dilaksanakan di Pulau Lombok. Bayangkan, Lombok! Yang
punya tagline, “Belum ke Lombok, apa kata dunia?” (Ini benar,
bukan? Ini cuma seingatku saja soalnya kebetulan pas pembukaan PKL dulu aku
bertugas dalam peliputannya). Aku yang selama 20 tahun hidup baru ke luar Pulau
Jawa adalah untuk ke Bali, tentu membuat pengalaman kali ini begitu
menakjubkan.
Singkat cerita (karena cerita tentang Lombok sudah terbit secara
terpisah), aku mendapat bagian tugas cacah di Lombok Barat. Tepatnya, Kecamatan
Batu Layar. Salah satunya adalah Desa Senggigi. Iya, yang pantainya terkenal
itu. Di sinilah cerita itu kurang lebih bermula.
Jadi, tugas kami adalah mencacah dan mendaftar rumah tangga pada
daerah cacah masing-masing. Senggigi, pinggir pantai, adalah daerah yang panas.
Deadline pelaksaan cacah yang hanya sampai magrib membuatku gentar.
Pasalnya, sudah mendekati pukul 12 siang dan aku baru menyelesaikan sekitar 10%
saja. Itupun sudah terasa sangat lelah. Dan panas. Dan, tentunya, rambut dan
jaket yang kumal dan bau matahari. Tak terpikir sama sekali untuk makan siang, bahkan
untuk membeli cemilan.
Sempat ketika akhirnya mengunjungi kantor PLN (untuk dicacah), aku
diberi sebungkus nasi yang hanya berakhir di dalam tas saja. Ah, tak sampai
hati aku jika harus menuruti kata perut. Beruntung, aku bertemu dengan suatu
minimarket. Minimarket yang diketahui sejuta orang di Indonesia. Minimarket,
yang kala itu, menjual donat! Iya, jual donat! Dengan topping oreo dan cream
cheese! Tanpa pikir panjang (entahlah, aku lupa ketika itu aku bahkan
sempat berpikir atau tidak), aku berhenti untuk beristirahat dan makan donat. Tak
lupa, sekotak kopi instan juga turut menemani makan siang ala-ala itu. Meski
harus merogoh kocek lebih dalam, aku tak menyesal. Karenanya, aku memiliki
memori indah bersama donat di pulau yang begitu jauh dari kediamanku. Bahkan hingga
akhirnya aku kembali ke Jakarta, rasa donat dan kopi kotak itu begitu membekas
di ingatan.
Harrah's Casino Site | Lucky Club Live Casino
BalasHapusWelcome to Lucky luckyclub Club Live Casino, a brand new online casino offering a great selection of video slots and table games. Play over 1600 casino games on