Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Istana Ini Milik Kita

Istana ini milik kita Dan kau berlarian Kebun mawar telah kau putari ratusan kali Taman anyelir sudah muak kau kelilingi Suara aduh yang keluar dari mulutmu tak terhitung berapa kali Sekali dan lagi Duri-duri mulai lelah mencium bau kaki Yang telanjang Dan tak mau melengang Tapi kau terus berlari Menyapa katak dan rerumputan Menepuk jari dalam gesekan bara dan bata Cengkerik mulai berisik Burung-burung mulai mengukung Ular linggis terus berdesis Tapi kau tak peduli Kau terus berlari Tertawa Pelan Lalu Pergi Menjauh Aku tersenyum dari sini Melihat bayangmu yang semakin jauh tak terperi Istana ini milik kita Meski ternyata kau tak menginginkannya

[SEBULAT DONAT] #3 - Bersama Donat

Bersama Donat          Menginjak sekolah menengah, hidupku tak lagi sama. Ah, tidak, sebenarnya masih sama. Masih hidup yang gitu-gitu saja. Tinggalku masih di sebuah kampung besar yang tidak jauh dari kota. Makananku juga masih itu-itu saja. Penjual donat keliling? Masih ada, meski mungkin bukan orang yang sama. Orang sepertiku memang tidak terlalu peduli dan menghapalkan wajah-wajah penjual donat itu. Lalu, mengapa kuceritakan masa dimana hidupku beranjak ke sekolah menengah? Tak lain dan tak bukan adalah karena aku akhirnya bersekolah di kota. SMP itu terletak di dekat kantor walikota, hanya berbeda dua (atau tiga) gedung dengan kantor itu. Jika Saudara membaca tulisan sebelumnya, tentu kalian tahu seberapa jauh jarak rumah ke sekolah. Masih adakah pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Saudara itu? Ah, aku tahu. Tentu tentang hubungan antara sekolah menengah dengan donat, bukan? Sebenarnya, tidak penting. Dan, entahlah, sepertinya ini agak t...

[SEBULAT DONAT] #2 - Warna-warni

Warna-warni           Saudara, di sini aku bercerita, namun aku tak segan apabila engkau ingin mengingatkanku. Ya, aku terlalu tenggelam pada donat sehingga lupa akan diri sendiri. Tapi ya sudah, toh hal itu bukan satu hal yang terlalu perlu untuk terungkapkan. Kuharap Saudara sekalian tidak mendebatnya di akun media sosial masing-masing. Tempat asal dimana aku hidup selama tujuh belas tahun adalah sebuah kampung yang terletak di Jawa Timur. Sayangnya, kalian harus siap kecewa jika beranggapan ‘kampung’ di sini adalah desa tertinggal yang akan membuat kisah ini semakin dramatis. Kampungku nun jauh di sana adalah sebuah desa yang berbatasan langsung dengan kelurahan. Jarak ke pusat kota pun tak begitu jauh. Sekitar empat kilo untuk ke kantor walikota dan enam kilo untuk menuju Alun-alun. Namun sekali lagi, apakah kalian peduli? Wah, sepertinya di sini aku terlalu banyak bicara! Tapi tak mengapa, hal ini akan relevan dengan cerita yang akan s...

[SEBULAT DONAT] #1 - Suka Saja

Sebulat Donat Suka Saja Alasan mengapa seseorang menyukai sesuatu bisa menjadi bermacam. Macam hal itu jika dibeberkan secara panjang mungkin akan membuat mata Saudara sekalian kelelahan. Capek. Tak sanggup lagi mengikuti irama. Tapi ada satu alasan yang sering tersebut meskipun harusnya tidak. Mengapa? Karena alasan itu terdengar klise. “Suka saja,” Ah, setiap kali aku mendengar kalimat itu dari jawaban pertanyaan, “Mengapa kamu suka ini?” rasanya ada yang bergejolak dalam hati. Gejolak yang menolak untuk dipaksakan ada. Tahukah kalian? Jawaban itu sama klisenya dengan kutipan anak muda zaman sekarang yang mengatakan bahwa cinta tak butuh alasan. Haha. Maaf, tapi di sini aku tak ingin memperpanjang debat dengan menyatakan alasanku menyebutnya klise. Tapi, Saudara, yang ingin kuceritakan di sini adalah sebuah alasan. Alasan yang membawa rasa suka dalam perasaan ini berpapasan jalan dengan donat. Dan, ya, awalnya aku ingin menjelaskan bahwa alasan suka itu ada...

[CERPEN] - Cilok Dalam Kotak Kaca

Hai, aku cilok. Kalian tentu sudah mengenal siapa diriku. Tak perlu berkelit tidak tahu hanya karena aku tidak memiliki kelas. Jangan salah, sekarang teman-temanku sudah ada di mana-mana! Pun,  di pusat perbelanjaan yang kalian agung-agungkan demi memenuhi gaya hidup itu. Tapi itu teman-temanku. Berbeda denganku. Aku dan saudara-saudaraku berada di sebuah kotak kaca. Kubus itu terletak di atas gerobak, Cak Imam yang mendorongnya. Ah, sebelum lupa, aku harus menyebutkan tempat tinggal. Aku diproduksi di Surabaya. Sebenarnya, nama asliku penthol. Hanya saja aku tahu kalian lebih mengenalku dengan sebutan cilok, meski aku tahu keduanya berbeda. Dari pengetahuan yang kudengar dari bisik-bisik saudaraku, teman-temanku di Jogja sana tidak disebut penthol. Orang-orang menyebut cilok. Aneh, karena kurasa lazimnya orang Jawa akan menyebut penthol . Oh iya, soal penthol dan cilok menurutku sangat jauh berbeda. Entahlah, coba makan cilok di Puncak, Bogor, lalu bandingkan dengan penthol y...

Lagi

Kembali berjumpa Dalam wujud berbeda Tak perlu waktu lama untuk kembali berpaham Denganmu yang masih selanggam Ceria Jenaka Bahagia Obsesi terhadap senandung dan kidung Berdentum bagi pelaut yang ulung Gurat abu dan gores warna terserak Mereka tak pernah berarak Senyum dan tawa Dekap yang hangat Dan dekat yang lengkap Lagi, kau kembali menemui Mimpi-mimpi yang selama ini kurangkai Menjadi tak bermakna lagi Ada langkahmu dalam ruang yang kulalui Lagi, kau pergi dan kita tak bersua lagi Kenangan tentangmu masih tak mau lari Dan kau memang orang yang sama Sebuah entitas yang berbeda

Jangan Pergi

“Jangan pergi!” Katamu Kemarin Rel-rel kereta berselimut basah Denting jam mengalun lemah Tik Tik Engkau mengeratkan jaket Kado dariku dua tahun lalu Saat kau menangis dan aku hanya sanggup meringis Sebuah amplop merah keluar Kukira sudah tumpah Ruah Segala tangisan Semua amarah Aku tak jadi pergi Kau tak jadi peduli

Dan Aku

Burung berguguran Lapis es beterbangan Cemara berserakan Dan kau Mengubah keinginan Dingin mencekam Panas mendekam Anak-anak kecil telanjang berlarian Dan kau Sekali lagi diam Dasi terlepas santai Kancing kemeja berderak capai Kucing kuning menggeletak di lantai Dan aku Sadar Kau selalu abai

Selamanya Di Sini

Gelap merengkuh malam Remang memeluk kelam Ruas-ruas cahaya perlahan berjatuhan berdebam Bias sinar temaram menyorot dan meregang Daun-daun bergesekan membentuk suara cenggang Berdiri tegak di sana Kau dalam balutan hangat kemeja Tetes hujan tak lagi jadi perhatian Lalu lalang orang Bagimu hanyalah belalang Mampir sebentar Lalu hilang Angin malam merasuk menembus Segala batas yang menghalangi perasaan dan rindu Kau terdiam di sana Aku ingin selamanya di sini