Langsung ke konten utama

[SEBULAT DONAT] #1 - Suka Saja

Sebulat Donat

Suka Saja


Alasan mengapa seseorang menyukai sesuatu bisa menjadi bermacam. Macam hal itu jika dibeberkan secara panjang mungkin akan membuat mata Saudara sekalian kelelahan. Capek. Tak sanggup lagi mengikuti irama. Tapi ada satu alasan yang sering tersebut meskipun harusnya tidak. Mengapa? Karena alasan itu terdengar klise.

“Suka saja,”

Ah, setiap kali aku mendengar kalimat itu dari jawaban pertanyaan, “Mengapa kamu suka ini?” rasanya ada yang bergejolak dalam hati. Gejolak yang menolak untuk dipaksakan ada. Tahukah kalian? Jawaban itu sama klisenya dengan kutipan anak muda zaman sekarang yang mengatakan bahwa cinta tak butuh alasan. Haha. Maaf, tapi di sini aku tak ingin memperpanjang debat dengan menyatakan alasanku menyebutnya klise.

Tapi, Saudara, yang ingin kuceritakan di sini adalah sebuah alasan. Alasan yang membawa rasa suka dalam perasaan ini berpapasan jalan dengan donat. Dan, ya, awalnya aku ingin menjelaskan bahwa alasan suka itu adalah “suka saja”. Namun, tentu hal itu hanya akan menambah daftar panjang musuhku, yang untuk saat ini ingin kuhentikan. Terlalu banyak yang mendapat garis merah pada daftar.

Sederhananya, alasanku menyukai donat adalah karena rasanya. Perpaduan antara roti yang terbuat dari kentang bersama meses yang bertaburan asal membuatku tak bisa menolak pesona donat. Lihatlah roti kentang itu. Serat-seratnya saling berpelukan menguatkan atas ajal yang semenit lagi menjemput. Pun lihatlah warnanya yang kuning kecoklatan. Biasa memang, mengingat bahwa mayoritas roti berwarna demikian. Tapi menjadi indah tak harus selalu dengan menjadi berbeda, bukan?

Tidak, tidak, belum selesai. Jangan berhenti. Sekarang, perhatikan taburan meses di atas warna kuning kecoklatan itu. Apakah Saudara sudah merasa cukup tersentuh? Coklat gelap di atas kuning kecoklatan, terlihat cantik, bukan? Juga, telitilah pada meses-meses berhamburan itu. Mereka saling tak peduli awalnya, namun ketika mereka bertemu satu sama lain, lihatlah ikatannya yang saling menguat. Cantik. Dan, acak. Bukankah memang hidup ini tak selalu bersisihan dengan keteraturan?

Sebagaimanapun donat itu berbentuk, secantik apapun, secinta apapun aku dengan bentuknya, aku tak ingin mengkhianatinya sebagai sebentuk kue. Sebagai segenggam makanan. Oleh karenanya, jika Saudara hidangkan sebuah donat layak di depanku, tak usah khawatir, donat itu takkan kecewa. Dia akan berbangga. Bangga bahwa dirinya berakhir dengan harga diri yang meluap-luap, dimakan oleh seorang penggemar donat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu