Sebulat
Donat
Suka
Saja
Alasan mengapa seseorang menyukai sesuatu bisa menjadi bermacam.
Macam hal itu jika dibeberkan secara panjang mungkin akan membuat mata Saudara
sekalian kelelahan. Capek. Tak sanggup lagi mengikuti irama. Tapi ada satu
alasan yang sering tersebut meskipun harusnya tidak. Mengapa? Karena alasan itu
terdengar klise.
“Suka saja,”
Ah, setiap kali aku mendengar kalimat itu dari jawaban pertanyaan,
“Mengapa kamu suka ini?” rasanya ada yang bergejolak dalam hati. Gejolak yang
menolak untuk dipaksakan ada. Tahukah kalian? Jawaban itu sama klisenya dengan
kutipan anak muda zaman sekarang yang mengatakan bahwa cinta tak butuh alasan.
Haha. Maaf, tapi di sini aku tak ingin memperpanjang debat dengan menyatakan
alasanku menyebutnya klise.
Tapi, Saudara, yang ingin kuceritakan di sini adalah sebuah alasan.
Alasan yang membawa rasa suka dalam perasaan ini berpapasan jalan dengan donat.
Dan, ya, awalnya aku ingin menjelaskan bahwa alasan suka itu adalah “suka
saja”. Namun, tentu hal itu hanya akan menambah daftar panjang musuhku, yang
untuk saat ini ingin kuhentikan. Terlalu banyak yang mendapat garis merah pada
daftar.
Sederhananya, alasanku menyukai donat adalah karena rasanya.
Perpaduan antara roti yang terbuat dari kentang bersama meses yang bertaburan
asal membuatku tak bisa menolak pesona donat. Lihatlah roti kentang itu.
Serat-seratnya saling berpelukan menguatkan atas ajal yang semenit lagi
menjemput. Pun lihatlah warnanya yang kuning kecoklatan. Biasa memang, mengingat
bahwa mayoritas roti berwarna demikian. Tapi menjadi indah tak harus selalu
dengan menjadi berbeda, bukan?
Tidak, tidak, belum selesai. Jangan berhenti. Sekarang, perhatikan
taburan meses di atas warna kuning kecoklatan itu. Apakah Saudara sudah merasa cukup
tersentuh? Coklat gelap di atas kuning kecoklatan, terlihat cantik, bukan?
Juga, telitilah pada meses-meses berhamburan itu. Mereka saling tak peduli
awalnya, namun ketika mereka bertemu satu sama lain, lihatlah ikatannya yang
saling menguat. Cantik. Dan, acak. Bukankah memang hidup ini tak selalu bersisihan
dengan keteraturan?
Sebagaimanapun donat itu berbentuk, secantik apapun, secinta apapun
aku dengan bentuknya, aku tak ingin mengkhianatinya sebagai sebentuk kue. Sebagai
segenggam makanan. Oleh karenanya, jika Saudara hidangkan sebuah donat layak di
depanku, tak usah khawatir, donat itu takkan kecewa. Dia akan berbangga. Bangga
bahwa dirinya berakhir dengan harga diri yang meluap-luap, dimakan oleh seorang
penggemar donat.
Komentar
Posting Komentar