Langsung ke konten utama

[CERPEN] - Cilok Dalam Kotak Kaca

Hai, aku cilok. Kalian tentu sudah mengenal siapa diriku. Tak perlu berkelit tidak tahu hanya karena aku tidak memiliki kelas. Jangan salah, sekarang teman-temanku sudah ada di mana-mana! Pun,  di pusat perbelanjaan yang kalian agung-agungkan demi memenuhi gaya hidup itu.

Tapi itu teman-temanku. Berbeda denganku. Aku dan saudara-saudaraku berada di sebuah kotak kaca. Kubus itu terletak di atas gerobak, Cak Imam yang mendorongnya. Ah, sebelum lupa, aku harus menyebutkan tempat tinggal. Aku diproduksi di Surabaya. Sebenarnya, nama asliku penthol. Hanya saja aku tahu kalian lebih mengenalku dengan sebutan cilok, meski aku tahu keduanya berbeda. Dari pengetahuan yang kudengar dari bisik-bisik saudaraku, teman-temanku di Jogja sana tidak disebut penthol. Orang-orang menyebut cilok. Aneh, karena kurasa lazimnya orang Jawa akan menyebut penthol. Oh iya, soal penthol dan cilok menurutku sangat jauh berbeda. Entahlah, coba makan cilok di Puncak, Bogor, lalu bandingkan dengan penthol yang dijual di Surabaya atau Malang. Kalian akan segera paham maksudku.

Ah, sudah jam istirahat sekolah. Lihatlah, dari kelas itu berkeliaran anak-anak yang memakai seragam putih-merah. Beberapa diantara mereka ada yang menghambur ke wanita usia tiga puluhan di dekat gerbang. Kurasa itu ibu mereka. Hmmm... atau ibu mereka sekarang sedang sibuk di bangunan besi yang menjulang tinggi? Entahlah, aku tak tahu dan tak berhak menilai.

Seorang anak bertanda nama Dika menghambur ke Cak Imam. Malu-malu, dia didampingi wanita paruh baya.

"Cak, beli penthol-nya lima ribu, ya," kata wanita itu.

Rupanya Dika terlalu malu bahkan untuk membeli cilok. Kalau aku tidak salah mengingat, tadi pagi pun dia sendirian ketika masuk kelas. Kontras jika dibandingkan dengan temannya yang bernama Tio.

Nah, itu Tio. Dia bergerombol dengan keempat temannya seperti biasa. Dari wajah dan gayanya, kalian akan langsung dapat menyimpulkan bahwa orangtuanya adalah orang berpengaruh. Sangat terlihat bahwa dia kaya. Lihatlah, bahkan untuk membeli saudara-saudaraku dia mengeluarkan uang dari dompet. Aih, orangtua mana yang memberikan amanah dompet kepada anak SD?

Dika dan Tio terlihat sungguh berbeda. Sejujurnya, jika bisa ingin sekali kukorek masa lalu mereka. Alasan apa yang membuat keduanya memiliki sikap berbeda. Tapi sayang, aku hanya sebongkah cilok di dalam kotak kaca. Suatu saat akan tiba giliranku masuk ke kuas panas yang ada di tengah-tengah gerobak itu--

Nah, kan, harusnya aku tak perlu menyebutnya. Cak Imam mulai terlihat melongok ke dalam kotak kaca. Saudara-saudaraku yang lainnya sudah terambil untuk dimasukkan ke kuah panas. Aku yang terdepan, dan kini giliranku untuk merasakan hal seperti yang lainnya.

Ah, tiba-tiba aku berpikir. Apakah orang-orang peduli padaku seperti aku penasaran pada bagaimana latar belakang anak-anak itu? Sepertinya tidak.

Kudengar, manusia-manusia di eraku lahir sudah menumbuhkan sifat egois lebih dari sebelumnya. Sekali lagi, entahlah, aku hanya tak berharap itu benar.

Plung.

---

Atmbua, 10/2018 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu