Langsung ke konten utama

[SEBULAT DONAT] #2 - Warna-warni


Warna-warni        

 
Saudara, di sini aku bercerita, namun aku tak segan apabila engkau ingin mengingatkanku. Ya, aku terlalu tenggelam pada donat sehingga lupa akan diri sendiri. Tapi ya sudah, toh hal itu bukan satu hal yang terlalu perlu untuk terungkapkan. Kuharap Saudara sekalian tidak mendebatnya di akun media sosial masing-masing.

Tempat asal dimana aku hidup selama tujuh belas tahun adalah sebuah kampung yang terletak di Jawa Timur. Sayangnya, kalian harus siap kecewa jika beranggapan ‘kampung’ di sini adalah desa tertinggal yang akan membuat kisah ini semakin dramatis. Kampungku nun jauh di sana adalah sebuah desa yang berbatasan langsung dengan kelurahan. Jarak ke pusat kota pun tak begitu jauh. Sekitar empat kilo untuk ke kantor walikota dan enam kilo untuk menuju Alun-alun. Namun sekali lagi, apakah kalian peduli? Wah, sepertinya di sini aku terlalu banyak bicara! Tapi tak mengapa, hal ini akan relevan dengan cerita yang akan saya bawakan.

Mengapa saya menceritakan kampung adalah alasan bahwa saya mengenal donat dari pedagang keliling di kampung. Tentu. Darimana lagi saya bisa merasakan donat? Tahukah kalian bagaimana rupa donat-donat itu? Tak berbeda jauh dengan donat yang sering kalian jumpai. Warnanya sama, pun dengan taburan meses serupa. Hanya saja, tekstur donat itu akan lebih alot. Ketebalannya bisa mencapai dua kali lipat donat normal. Dan, mesesnya, hanya serupa taburan ecek-ecek yang asal-ditabur-yang-penting-kelihatan-ada. Lalu, mengapa aku suka donat yang sebenarnya bisa dibilang abal-abal itu? Ah, kalau kalian bertanya seperti ini, mungkin akan aku balikkan dengan pertanyaan, “Bagaimana kalian akhirnya sanggup mengenal cinta dengan cinta pertama kalian itu?”

Oh, maaf, sepertinya aku lupa menyebutkan sesuatu. Soal meses. Di donat kampung itu (maafkan aku yang tak mampu menemukan nama yang lebih baik untukmu, Nat) biasanya bertabur meses warna-warni. Mulai dari biru tosca hingga ungu magenta. Bisa ditemui juga shocking pink dan happy yellow yang membahagiakan. Sayangnya, sejauh ini belum ketemu meses berwarna merah maroon yang menggetarkan. Berbeda warna tidak serta merta membuat rasanya berbeda. Mereka masih pada satu jiwa, yaitu coklat. Rasanya masih manis serupa coklat. Warna hijau tidak membuatnya berasa apel. Warna merah tidak berarti menjelma rasa stroberi. Pun warna oranye, tidak akan berasa senja. Sayang sekali untuk kalian para penikmat senja.

Dari segala fakta tentang donat kampung itu (sekali lagi, aku minta maaf atas pikiranku yang begitu pendek), satu yang pasti adalah aku begitu menyukai rasa, tekstur, dan aroma donat itu. Mencoba berbagai macam donat dengan berbagai taburan pun tak sanggup membuatku berpaling darinya. Entah karena lidah yang memang sudah sesuai asalnya, entah karena selera yang sudah mendarah dagingnya, yang jelas donat kampung selalu mempunyai tempat di ruang hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu