Warna-warni
Saudara, di sini aku bercerita, namun aku tak segan apabila engkau
ingin mengingatkanku. Ya, aku terlalu tenggelam pada donat sehingga lupa akan
diri sendiri. Tapi ya sudah, toh hal itu bukan satu hal yang terlalu perlu
untuk terungkapkan. Kuharap Saudara sekalian tidak mendebatnya di akun media
sosial masing-masing.
Tempat asal dimana aku hidup selama tujuh belas tahun adalah sebuah
kampung yang terletak di Jawa Timur. Sayangnya, kalian harus siap kecewa jika
beranggapan ‘kampung’ di sini adalah desa tertinggal yang akan membuat kisah
ini semakin dramatis. Kampungku nun jauh di sana adalah sebuah desa yang
berbatasan langsung dengan kelurahan. Jarak ke pusat kota pun tak begitu jauh.
Sekitar empat kilo untuk ke kantor walikota dan enam kilo untuk menuju
Alun-alun. Namun sekali lagi, apakah kalian peduli? Wah, sepertinya di sini aku
terlalu banyak bicara! Tapi tak mengapa, hal ini akan relevan dengan cerita
yang akan saya bawakan.
Mengapa saya menceritakan kampung adalah alasan bahwa saya mengenal
donat dari pedagang keliling di kampung. Tentu. Darimana lagi saya bisa
merasakan donat? Tahukah kalian bagaimana rupa donat-donat itu? Tak berbeda
jauh dengan donat yang sering kalian jumpai. Warnanya sama, pun dengan taburan
meses serupa. Hanya saja, tekstur donat itu akan lebih alot. Ketebalannya bisa
mencapai dua kali lipat donat normal. Dan, mesesnya, hanya serupa taburan ecek-ecek
yang asal-ditabur-yang-penting-kelihatan-ada. Lalu, mengapa aku suka donat
yang sebenarnya bisa dibilang abal-abal itu? Ah, kalau kalian bertanya seperti
ini, mungkin akan aku balikkan dengan pertanyaan, “Bagaimana kalian akhirnya
sanggup mengenal cinta dengan cinta pertama kalian itu?”
Oh, maaf, sepertinya aku lupa menyebutkan sesuatu. Soal meses. Di
donat kampung itu (maafkan aku yang tak mampu menemukan nama yang lebih baik
untukmu, Nat) biasanya bertabur meses warna-warni. Mulai dari biru tosca hingga
ungu magenta. Bisa ditemui juga shocking pink dan happy yellow yang
membahagiakan. Sayangnya, sejauh ini belum ketemu meses berwarna merah
maroon yang menggetarkan. Berbeda warna tidak serta merta membuat rasanya
berbeda. Mereka masih pada satu jiwa, yaitu coklat. Rasanya masih manis serupa
coklat. Warna hijau tidak membuatnya berasa apel. Warna merah tidak berarti
menjelma rasa stroberi. Pun warna oranye, tidak akan berasa senja. Sayang
sekali untuk kalian para penikmat senja.
Dari segala fakta tentang donat kampung itu (sekali lagi, aku minta
maaf atas pikiranku yang begitu pendek), satu yang pasti adalah aku begitu
menyukai rasa, tekstur, dan aroma donat itu. Mencoba berbagai macam donat
dengan berbagai taburan pun tak sanggup membuatku berpaling darinya. Entah
karena lidah yang memang sudah sesuai asalnya, entah karena selera yang sudah
mendarah dagingnya, yang jelas donat kampung selalu mempunyai tempat di ruang
hati.
Komentar
Posting Komentar