Bersama
Donat
Menginjak sekolah menengah, hidupku tak lagi sama. Ah, tidak, sebenarnya masih sama. Masih hidup yang gitu-gitu saja. Tinggalku masih di sebuah kampung besar yang tidak jauh dari kota. Makananku juga masih itu-itu saja. Penjual donat keliling? Masih ada, meski mungkin bukan orang yang sama. Orang sepertiku memang tidak terlalu peduli dan menghapalkan wajah-wajah penjual donat itu.
Lalu, mengapa kuceritakan masa dimana hidupku beranjak ke sekolah
menengah? Tak lain dan tak bukan adalah karena aku akhirnya bersekolah di kota.
SMP itu terletak di dekat kantor walikota, hanya berbeda dua (atau tiga) gedung
dengan kantor itu. Jika Saudara membaca tulisan sebelumnya, tentu kalian tahu
seberapa jauh jarak rumah ke sekolah.
Masih adakah pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Saudara itu?
Ah, aku tahu. Tentu tentang hubungan antara sekolah menengah dengan
donat, bukan? Sebenarnya, tidak penting. Dan, entahlah, sepertinya ini agak
terlalu maksa. Tapi bukannya semua ini terserah diriku? Jadi, untuk
menghubungkannya, akan kubuat satu benang merah: aku mengenal donat empuk
ketika SMP.
Aku ingat, masa-masa SMP selain merupakan masa transformasi dan
super alay, adalah sebuah masa yang dimana segala tren anak muda selalu ingin
diikuti. Ketika itu di kota kami sedang merebak donat telo. Bukan, donat
itu tidak diambil dari plesetan nama seorang pelukis tersohor. Melainkan, telo
adalah bahasa Jawa untuk ketela atau umbi rambat. Makanan yang kalau
dimasak jadi manis ya, bukan asin (kalau ini namanya singkong). Donat telo ini
memiliki rasa yang tidak berbeda dengan donat kentang, hanya saja lebih lembut.
Teksturnya tidak keras, sehingga tentu saja donat ini tidak akan dengan mudah
menjadi favoritku. Soal taburan beraneka ragam mulai disontek pembuat
donat ini. Mulai dari selimut coklat hingga taburan keju diantara coklat. Sudah
mulai merambah topping ala-ala donat yang dijual di kafe.
Namun, sesuai seperti yang kusebutkan di atas, donat ini gagal
mencuri hati dan lidahku. Donat kentang masih menempati posisi teratas sebagai
donat favorit. Dengan taburan meses coklat, tentunya. Donat-donat tersebut
makin lama semakin mengisi hari-hariku.
Sebuah tradisi di Jawa adalah seringnya diadakan kenduri untuk
berbagai macam acara. Mulai dari kelahiran, perayaan kehamilan, dan lain-lain.
Biasanya, selain ada bingkisan berupa nasi dan lauk lengkap, juga ada bingkisan
yang isinya macam-macam kue dan uang receh. Sebagai seorang anak-anak,
uang receh ini pasti akan jadi rebutan diantara dia dan saudaranya. Aku? Hoho,
tentu saja uang receh itu juga kuperebutkan. Namun, ada hal lain yang selalu
membuatku antusias ketika membuat kotak bingkisan itu. Donat.
Setiap kali Bapak datang dari acara kenduri, selalu ada rasa
harap-harap cemas. Sambil berdoa dalam hati, dan detak jantung yang tak mampu
diredam, kubuka bingkisan kuenya. Wajah sumringah, dengan senyum lebar dan
pekikan bahagia, tak pernah sanggup kusembunyikan kala kutemukan donat di sana.
Kutimang-timang sebentar, lalu kulahap cepat begitu mendapat izin untuk
memakannya (yang biasanya tak mudah, terutama ketika aku belum melaksanakan
makan malam).
Apabila nasib tiba-tiba menjelaskan padaku bahwa hari itu bukanlah
hari keberuntunganku, yang berarti tak kutemukan donat, kucukupkan malam ini
dengan memakan bolu kukus sebagai pelipur lara. Sedih memang, jelas aku kecewa,
namun tak mengapa. Bukankah kita harus selalu bersyukur? Dan, dengan segala
pengalaman perburuan donat ini aku semakin yakin antara hubunganku dengannya.
Bahwa kita hampir pasti tak dapat terpisahkan.
Komentar
Posting Komentar