Langsung ke konten utama

[SEBULAT DONAT] #3 - Bersama Donat

Bersama Donat        

Menginjak sekolah menengah, hidupku tak lagi sama. Ah, tidak, sebenarnya masih sama. Masih hidup yang gitu-gitu saja. Tinggalku masih di sebuah kampung besar yang tidak jauh dari kota. Makananku juga masih itu-itu saja. Penjual donat keliling? Masih ada, meski mungkin bukan orang yang sama. Orang sepertiku memang tidak terlalu peduli dan menghapalkan wajah-wajah penjual donat itu.


Lalu, mengapa kuceritakan masa dimana hidupku beranjak ke sekolah menengah? Tak lain dan tak bukan adalah karena aku akhirnya bersekolah di kota. SMP itu terletak di dekat kantor walikota, hanya berbeda dua (atau tiga) gedung dengan kantor itu. Jika Saudara membaca tulisan sebelumnya, tentu kalian tahu seberapa jauh jarak rumah ke sekolah.

Masih adakah pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Saudara itu?

Ah, aku tahu. Tentu tentang hubungan antara sekolah menengah dengan donat, bukan? Sebenarnya, tidak penting. Dan, entahlah, sepertinya ini agak terlalu maksa. Tapi bukannya semua ini terserah diriku? Jadi, untuk menghubungkannya, akan kubuat satu benang merah: aku mengenal donat empuk ketika SMP.

Aku ingat, masa-masa SMP selain merupakan masa transformasi dan super alay, adalah sebuah masa yang dimana segala tren anak muda selalu ingin diikuti. Ketika itu di kota kami sedang merebak donat telo. Bukan, donat itu tidak diambil dari plesetan nama seorang pelukis tersohor. Melainkan, telo adalah bahasa Jawa untuk ketela atau umbi rambat. Makanan yang kalau dimasak jadi manis ya, bukan asin (kalau ini namanya singkong). Donat telo ini memiliki rasa yang tidak berbeda dengan donat kentang, hanya saja lebih lembut. Teksturnya tidak keras, sehingga tentu saja donat ini tidak akan dengan mudah menjadi favoritku. Soal taburan beraneka ragam mulai disontek pembuat donat ini. Mulai dari selimut coklat hingga taburan keju diantara coklat. Sudah mulai merambah topping ala-ala donat yang dijual di kafe.

Namun, sesuai seperti yang kusebutkan di atas, donat ini gagal mencuri hati dan lidahku. Donat kentang masih menempati posisi teratas sebagai donat favorit. Dengan taburan meses coklat, tentunya. Donat-donat tersebut makin lama semakin mengisi hari-hariku.

Sebuah tradisi di Jawa adalah seringnya diadakan kenduri untuk berbagai macam acara. Mulai dari kelahiran, perayaan kehamilan, dan lain-lain. Biasanya, selain ada bingkisan berupa nasi dan lauk lengkap, juga ada bingkisan yang isinya macam-macam kue dan uang receh. Sebagai seorang anak-anak, uang receh ini pasti akan jadi rebutan diantara dia dan saudaranya. Aku? Hoho, tentu saja uang receh itu juga kuperebutkan. Namun, ada hal lain yang selalu membuatku antusias ketika membuat kotak bingkisan itu. Donat.

Setiap kali Bapak datang dari acara kenduri, selalu ada rasa harap-harap cemas. Sambil berdoa dalam hati, dan detak jantung yang tak mampu diredam, kubuka bingkisan kuenya. Wajah sumringah, dengan senyum lebar dan pekikan bahagia, tak pernah sanggup kusembunyikan kala kutemukan donat di sana. Kutimang-timang sebentar, lalu kulahap cepat begitu mendapat izin untuk memakannya (yang biasanya tak mudah, terutama ketika aku belum melaksanakan makan malam).

Apabila nasib tiba-tiba menjelaskan padaku bahwa hari itu bukanlah hari keberuntunganku, yang berarti tak kutemukan donat, kucukupkan malam ini dengan memakan bolu kukus sebagai pelipur lara. Sedih memang, jelas aku kecewa, namun tak mengapa. Bukankah kita harus selalu bersyukur? Dan, dengan segala pengalaman perburuan donat ini aku semakin yakin antara hubunganku dengannya. Bahwa kita hampir pasti tak dapat terpisahkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu