Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu

[CERPEN] - Gerbang Dimensi

  Gerbang dimensi akan terbuka sekali dalam sepuluh ribu tahun. Lokasinya tidak menentu. Orang yang mendapatkan kesempatannya pun tidak menentu. Dari miliaran manusia di bumi, hanya satu yang akan mengalami. Apakah seseorang dengan penyesalan terbesar? Apakah seseorang dengan ambisi terkuat? Gerbang dimensi akan mengantarkan sang penjelajah ke dunia lain. Dunia yang berjalan paralel dengan dunia tempat kita sekarang. Pilihan-pilihan yang kita pilih akan menciptakan sebuah dunia yang sama sekali berbeda. Dunia terkuat, selain dunia saat ini, adalah dunia tujuan yang akan diantarkan oleh gerbang dimensi. Ardan adalah seseorang yang biasa saja. Seorang pegawai kantoran biasa yang memiliki satu istri dan belum memiliki anak. Dia sudah menikah selama dua tahun. Gajinya biasa saja, sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Segalanya biasa, kecuali kenyataan bahwa dia terpilih oleh gerbang dimensi untuk menjelajah dunia lain. Sore itu dia tidak sengaja melewati gerbang. Bata...

Aku Tidak Mau Segelas Air Es Ini

Pepatah mengatakan, Teruslah berkeliling mencari cintamu saat kau menemukan seseorang yang tepat saat itulah kau akan tahu apa yang kau mau Hari ini seseorang menawarkanku segelas air dingin Air itu segar, ada es batu di dalamnya Hari ini matahari memuntahkan sinar laharnya Panas bukan main, seperti ada lubang neraka yang terbuka Hari ini seseorang menawarkanku air es Tapi aku menolak Aku tidak ingin air es di hariku yang panas

Arah Jalan

Kita berjalan berdampingan Melalui jalanan yang tak bertujuan Kadang berbatu, Kadang berair, Kadang pula berpasir, dan debu melayang mengitari kita berdua Aku bertanya ke mana arah tujuan Kau menjawab, dalam bahasa jiwa dan aku tak paham Kita terus berjalan Berdampingan Tak mengatakan kemana tujuan mengarah Langkah kaki masih berdebam Dalam jalan penuh lumpur langkahmu menghujam Tak 'kan menunggu lama hingga bayangku menghilang

Bulan Merah

Malam ini bulan berwarna merah Sementara aku menunggu biru Malam ini jiwa kembali cerah Sementara setiap harinya selalu mengharu Bulan merah kembali terlihat Tak seperti bulan biru yang semakin jarang Satu dari sekian kehadiran bulan biru, saat itulah aku tak merindukanmu

Sekelebat Pikiran Tentangmu

Sore ini hujan turun Lembut Rintik airnya luruh dengan perlahan Tidak ada deras Tidak ada keras Kali ini di sampingku hanya ada cangkir dan kopi yang tidak begitu pahit Tidak seperti tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya Yang selalu ada dirimu Sore ini hujan turun Bersama sekelebat kenangan tentang dirimu Tanpa terburu-buru, ia meluruhkan segala pikiran tentangmu

Derap Langkah Kaki

Derap langkah kakimu menghentak Pelan dan tegas Menjauh perlahan melintasiku Aku ada di belakangmu Hanya bisa menangkap bayang dirimu Punggung dan belakang rambutmu, harus kucukupkan hanya pada itu Derap langkah kakimu mengencang Dalam angin yang berhembus gersang, sekali lagi kau melewatiku, dan aku hanya dapat memandangi bahumu

Gerimis

 Akulah bunga di musim kering, mentari menerjang kejam, akarku kehausan, dalam pandanganku tak kutemukan sebutir pun awan. Akulah bunga pada masa kemarau, dan kau datang, sebuah gerimis kecil yang terbitkan harapan. Airmu membasahi, datangmu hilangkan kering, dalam segala dahagaku yang kerontang. Tapi aku tertipu. Kau hanya lewat, lalu kembali meninggalkan gersang. Tanpa pelangi.

Fog

Bagaimana jika kota yang begitu cerah terlingkupi oleh kabut? Akankah aktivitas di kota itu akan terhenti? Atau apakah kehidupan di kota akan digantikan sesuatu yang lain? Bagaimana? Ah, aku hanya bisa bertanya, Karena kini hatiku dilingkupi kabut Segala kebahagiaan dan rasa itu kini semu Kukira aku yang paling mengerti tentang diriku Namun, satu rasa hadir dan mengubah segala pandangku Bagaimana jika kota yang begitu cerah terlingkupi oleh kabut? Bagaimana jika perasaan yang begitu rapuh terlingkupi oleh kabut? Apakah akan kau sangkal? Atau kau biarkan berlayar?

Laut

Bau laut itu selalu melingkupi pikiranku. Rasa asin yang menyerang hidung dan memaksa masuk ke paru-paru, Anyir amis yang khas dan membuat kepala pusing tak kepalang, Terik panas yang menyengat kulit kering yang tak sempat berlindung, Serta semilir angin yang membelai pelan dan berbisik 'tuk ambil waktu sejenak. Dan kau adalah bau yang selalu membayang-bayangi pikiranku, lebih dari sang laut.

Aku Melihat Seseorang Di Taman Dan Kukira Itu Kau

Hari ini aku ke taman sendirian kau, sudah tak mau lagi menemaniku Tidak. Kita memang terlalu jauh, baik jarak maupun kesamaan rasa Hari ini aku ke taman. Sebelum pulang, aku melihatmu Duduk bersama seseorang yang tak kukenal Aku memandangimu, kau menoleh Ah itu bukan kau Orang itu memandangiku aneh Maksudku, siapa yang tidak merasa aneh, jika seorang asing menatapmu seakan ingin menguliti? Hari ini aku ke taman, dan melihat wajah yang mirip denganmu. Kukira itu kau, ternyata bukan. Kau tahu bahwa ada pepatah yang mengatakan bahwa jika kita merindukan seseorang, orang itu akan selalu terbayang?

Menjadi Senyap Dalam Dunia Yang Berceloteh

  Bagaimana jika engkau terlahir senyap sedangkan dunia menginginkanmu tak pernah menutup mulut? Aku? Kurasa, aku akan melakukan apa yang menjadi kewajibanku. Dan, apa itu? Menjadi hidup.                Lalu, mengabaikan jika seseorang ingin aku berlaku sebaliknya. Apa kau bisa melakukannya? Bukankah dunia selalu menyergapmu agar menggemakan teriakmu? Ya. Tapi, kenapa? Kembali lagi, ini hidupku, aku berhak lakukan apapun itu. Tapi kau tahu tentang masyarakat, bukan? Bukankah mereka akan memaksamu menjadi sesuatu yang cocok dengan standarnya? Kau mulai membuatku takut. Karena aku benar? Ya. Dan, karena kau mengingatkan bahwa aku pengecut. Aku tahu. Kau bahkan tak pernah tertidur tanpa memikirkan akan jadi apa dirimu di mata orang-orang, bukan? Berhentilah!                Ini sudah malam.          ...

Berdentum

Jantung manusia berdetak Berdegup Sehari tak terhitung berapa ribu kali Bagaimana dalam seminggu?     Atau sebulan?          Mungkin setahun? Kau tahu bagaimana bunyi detak itu? Deg-deg. Deg-deg. Lalu semua berubah, Ah, iya, setuju kah kau soal ini? Suara degup jantungmu berubah ketika bertemu dengannya Degup itu menjadi dentum, yang tak dapat lagi kau kendalikan geraknya Dalam otakmu tak ada yang dapat kau pikirkan,  selain bagaimana agar dentuman itu tak terdengar olehnya Dia semakin mendekat, dan dentum itu kini berubah menjadi ledakan.