Langsung ke konten utama

[CERPEN] - Gerbang Dimensi

 

Gerbang dimensi akan terbuka sekali dalam sepuluh ribu tahun. Lokasinya tidak menentu. Orang yang mendapatkan kesempatannya pun tidak menentu. Dari miliaran manusia di bumi, hanya satu yang akan mengalami. Apakah seseorang dengan penyesalan terbesar? Apakah seseorang dengan ambisi terkuat?

Gerbang dimensi akan mengantarkan sang penjelajah ke dunia lain. Dunia yang berjalan paralel dengan dunia tempat kita sekarang. Pilihan-pilihan yang kita pilih akan menciptakan sebuah dunia yang sama sekali berbeda. Dunia terkuat, selain dunia saat ini, adalah dunia tujuan yang akan diantarkan oleh gerbang dimensi.

Ardan adalah seseorang yang biasa saja. Seorang pegawai kantoran biasa yang memiliki satu istri dan belum memiliki anak. Dia sudah menikah selama dua tahun. Gajinya biasa saja, sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Segalanya biasa, kecuali kenyataan bahwa dia terpilih oleh gerbang dimensi untuk menjelajah dunia lain.

Sore itu dia tidak sengaja melewati gerbang. Batas kota adalah tempat yang biasa dia lewati jika pulang dari kerja. Bedanya, sore itu adalah satu waktu yang langka. Satu waktu yang hanya terjadi sekali dalam sepuluh ribu tahun.

Ardan merasa ada yang tidak baik-baik saja setelah melewati gerbang itu. Dunia tempat dia berada sekarang seperti berbeda. Hingar bingar, bukan sebuah hutan jati seperti yang selalu dia lewati.

Gerbang dimensi akan memberikan sebuah pengalaman yang menyenangkan. Menegangkan. Dan, bagi sebagian orang, menakutkan. Pun, Ardan. Tak sampai satu menit sejak melewat gerbang dan dia sudah bertemu seseorang yang adalah dirinya. Sama persis. Orang itu memiliki mata, hidung, dan mulutnya. Telinganya juga sama, dia rasa. Yang berbeda hanyalah kulit wajahnya. Mulus. Seperti terawat dengan biaya yang tidak sedikit.

“Aku tahu kau sedang kebingungan dengan apa yang sedang terjadi,” orang yang mirip dirinya itu berkata. “namun, apakah kita bisa mengobrol sebentar?”

Mereka lalu memutuskan mengobrol di sebuah kafe kecil di pinggir jalan, berhadapan dengan memesan menu yang sama. Ardan kebingungan, sedangkan orang-mirip-Ardan itu terlihat tenang. Orang itu seperti memiliki kunci jawaban dari soal di otak Ardan.

“Tak perlu bingung dengan apa yang terjadi. Selama di sini, waktu di duniamu akan terhenti,” dia menerangkan. “anggap saja ini hadiah.”

Lalu obrolan mengalir di antara mereka. Tentang latar belakang. Bahwa si orang-mirip-Ardan tahu segala hal tentang gerbang dimensi. Peluang seseorang terpilih sangatlah kecil dan Ardan beruntung sudah terpilih.

“Apa pekerjaanmu sekarang? Mengapa kau terlihat begitu kaya?” Ardan membuka suara setelah kekagetannya terkendali.

“Ah, aku menjadi salah satu dokter spesialis di kota ini,” orang-mirip-Ardan menjawab. “bagaimana denganmu?”

Ardan terhenyak, pikirannya melanglang buana ke masa lalu. Ternyata begitu. ‘Orang ini’ pasti terbentuk dari dirinya yang lebih memilih tes masuk kedokteran dibandingkan dengan informatika. Ah, jurusan itu dulu begitu dia kejar karena minat. Tentu saja prospek kerjanya juga bagus. Hanya saja Ardan kurang beruntung dan berakhir menjadi pegawai kantoran biasa.

“Mengapa akhirnya kau memilih tes kedokteran? Bukankah saat itu kau, kita, lebih berminat ke informatika?” Ardan tak dapat membendung penasarannya.

“Oh? Haha. Iya, aku mengorbankan informatika saat itu. Memikirkan bagaimana kedokteran bisa membantuku di masa depan, akhirnya aku memilih ini,” orang itu menjawab. “apakah aku melakukan hal yang benar?”

Ardan tersenyum getir. Ya, tentu saja. Andai dulu aku juga memilih itu. Pikiran itu hanya mampir sekelebat. Sisanya, pikiran Ardan disadarkan hal lain.

“Apa orang tua kita memiliki dana untuk membiayai kuliah di sana?”

Orang-mirip-Ardan mengubah raut mukanya. Mendung menghiasi wajahnya

“Itu salah satu penyesalanku,” kalimat itu meluncur sedih dari bibirnya. “kuliah ternyata membutuhkan biaya yang sangat besar. Beberapa kali aku selalu meminta tambahan kepada Ayah tanpa tahu kesulitannya. Ayah akhirnya meninggal dua bulan sebelum kelulusanku karena komplikasi yang dideritanya.”

Dia terdiam sejenak. Ardan menatapnya nanar. Mulutnya menganga. Dia tidak menyangka orang yang selama ini dia kira biasa saja ternyata dapat menjadi begitu mengagumkan.

“Seandainya aku memilih jalan yang berbeda, apakah aku masih bisa bertemu Ayah?” tanyanya.

“Hingga hari ini Ayah masih sehat. Aku menyisihkan beberapa gajiku untuknya cek kesehatan,” jawab Ardan. “tapi, kau tahu? Di masa kuliah, aku belajar sesuatu. Bahwa kehidupan ini sudah berjalan sesuai takdir. Takdir Ayah di duniamu mungkin tidak berjalan baik, tapi yakinlah itu sudah bukan berada di kuasamu. Ayah… pasti bangga denganmu.”

Pikiran Ardan kembali berkeliaran. Hari ketika dia diwisuda setelah setahun skripsinya mangkrak, wajah ayah dan ibunya masih terbayang hingga hari ini. Mereka bangga. Tidak ada yang bisa menggambarkan rasa kebanggaan itu melebihi hari dia akhirnya lulus. Melihat Ardan dunia lain yang jauh lebih sukses darinya, ayahnya di surga tidak mungkin tidak tersenyum bangga.

“Bagaimana dengan kehidupan kuliah di informatika? Apa kau juga begadang seperti teman-temanku?” tanyanya.

“Haha, tentu! Kau tidak lihat berapa banyak keriput yang ada di wajahku?” Ardan tertawa. “tapi, aku tidak menyesal. Mencari masalah dan menyelesaikannya benar-benar menyenangkan!”

Orang-mirip-Ardan menyetujuinya. Mereka adalah orang dengan inti yang sama, tentu saja banyak hal yang membuat mereka satu kata. Dia lalu melanjutkan ceritanya, bahwa menempuh pendidikan dokter begitu berat. Sulit baginya untuk mengimbangi ritme pendidikan di awal kuliahnya.

“Lalu… apakah kau sudah menikah?” Ardan bertanya pelan. Dia tahu itu pertanyaan yang menyangkut privasi. Meski, entah dia perlu mempertimbangkan privasi jika berbicara dengan dirinya sendiri atau tidak.

Orang itu tersenyum getir, sekali lagi. Dia mengingat kembali kenangan menyesakkan yang terjadi selama kuliah. Cerita kembali mengalir dari mulutnya. Bahwa dia pernah menyukai seseorang yang berbeda jurusan dengannya. Mereka telah berteman karena sebuah kebetulan yang menyenangkan. Beberapa kali orang-mirip-Ardan ingin mengungkapkan apa yang ada di hatinya, namun selalu disangkal. Banyak alasan yang menghalanginya, entah karena dia yang tidak yakin dengan perasaannya, entah karena sang wanita yang terlihat tidak merespons perasaannya.

“Sekarang dia sudah menikah?” Ardan memberanikan diri bertanya. Kisah orang itu hampir mirip dengannya. Mungkin akan menjadi kisahnya juga apabila saat itu dia menunda pernyataan perasaannya.

“Dia sudah meninggal,” orang-mirip-Ardan berbicara pelan. “sebuah kecelakaan merenggut nyawanya setahun setelah dia lulus kuliah. Itu salah satu penyesalan terdalamku.”

“Ah… aku turut berduka,” kata Ardan “tapi…”

“Ya,” orang itu menyela. “semua sudah tertulis semua takdir.”

Dia tersenyum. Ardan tersenyum. Hanya beberapa menit dan mereka mulai saling merasa bisa memahami satu sama lain.

“Sekarang, ceritakan pengalamanmu,” pintanya. “apakah di sana menyenangkan?”

“Tidak terlalu. Bahkan kurasa sangat berat,” Ardan membuka cerita. “sejak memilih jurusan ini, awalnya aku merasa senang karena bisa memperjuangkan minat. Lalu, beberapa bulan berjalan dan aku mulai menyadari kemampuanku tidak mumpuni. Aku kesulitan. Beberapa kali harus mengulang mata kuliah. Jadilah aku melarikan diri dengan memperbanyak kegiatan hobi dan jalan-jalan.”

Ardan tersenyum getir. Dia rasa cerita orang yang mirip dirinya itu lebih getir darinya, ternyata tidak. Ceritanya tidak kalah getir, hanya berbeda aspek kehidupan saja.

“Kampusku mewajibkan mahasiswanya maksimal lima tahun saja kuliah, lebih dari itu akan kena drop out,” sambungnya. “di tahun kelima aku hampir menyerah, untung saja banyak dukung dari orang-orang terdekatku. Termasuk, orang yang sekarang jadi istriku.

“Sayangnya, semua tidak terlalu berjalan baik. Setelah lulus, aku kesulitan mencari kerja. Ada nilai C di transkrip nilaiku sehingga menjadi pertanyaan setiap kali menghadiri wawancara. Soal kemampuan, aku juga biasa-biasa saja. Hanya sekadar bisa, tidak jago. Padahal, banyak dari teman-teman angkatan yang bekerja lepas maupun bekerja di perusahaan ternama. Sedangkan aku harus mencukupkan diri di sebuah kantor yang biasa dengan gaji yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja.”

Ceritanya Ardan terinterupsi oleh suara menggelegar. Petir yang tidak biasa tiba-tiba terdengar dari luar. Langit sore ini begitu indah dan kemerahan. Lalu, mengapa ada petir?

“Apakah di duniamu sedang musim hujan?” Ardan tak menyembunyikan kebingungannya.

“Oh, tidak, petir itu pertanda bahwa waktumu di dunia ini sudah hampir selesai,” jawab orang-mirip-Ardan. “tidak teras akita sudah mengobrol satu jam. Ayo, kita harus segera ke gerbang dimensi.”

Keduanya mengarah ke gerbang dimensi. Ardan dengan motornya, orang-mirip-Ardan dengan mobilnya. Suasana sore itu sangat bertolak belakang dengan cerita yang telah mereka luluh-lantahkan selama hampir satu jam.

“Senang bertemu denganmu, Ardan,” kata orang-mirip-Ardan Ketika mereka sampai di gerbang dimensi. “setelah mendengar beberapa pola pikirmu, sepertinya aku akan bisa lebih merelakan apa yang sudah tertulis untuk kehidupanku. Lagipula, apa yang kualami tidak begitu buruk, bukan? Aku masih memiliki Ibu dan kehidupan yang menyenangkan.”

Dia tersenyum. Terdiam sejenak. Lalu, mengatakan bahwa gerbang itu akan tertutup dalam waktu kurang dari lima menit.

“Senang juga bertemu denganmu, Ardan,” Ardan menanggapi. “aku berjanji setelah dari sini akan bekerja lebih keras lagi. Ada banyak orang yang kusayangi yang berhak mendapatkan versi terbaik dari diriku. Tidak seharusnya aku hanya malas-malasan dalam menjalani hidupku. Aku ingin sepertimu, aku sudah cukup dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.”

Mereka bersalaman. Tersenyum, matanya saling menatap. Ardan masih tak menyangka bahwa dia bertemu seseorang yang adalah dirinya. Sama persis. Orang itu memiliki mata, hidung, mulut, dan telinga yang benar-benar sama. Hanya kulit wajahnya yang berbeda, sedikit.

“Oh, iya,” orang-mirip-Ardan menyela. “kalau boleh tahu, apakah nama istrimu… Rani?”

“Benar,” jawab Ardan. Dia ingin melanjutkan bertanya, tetapi senyum lega dari orang itu sudah menjawab pertanyaannya.

Ardan bergerak melewati gerbang dimensi. Gerbang yang terbuka sekali dalam sepuluh ribu tahun. Gerbang yang lokasinya tidak menentu. Orang yang mendapatkan kesempatannya pun tidak menentu. Dari miliaran manusia di bumi, hanya satu yang akan mengalami.

 

SELESAI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu