Gerbang dimensi akan terbuka sekali
dalam sepuluh ribu tahun. Lokasinya tidak menentu. Orang yang mendapatkan
kesempatannya pun tidak menentu. Dari miliaran manusia di bumi, hanya satu yang
akan mengalami. Apakah seseorang dengan penyesalan terbesar? Apakah seseorang
dengan ambisi terkuat?
Gerbang dimensi akan mengantarkan
sang penjelajah ke dunia lain. Dunia yang berjalan paralel dengan dunia tempat
kita sekarang. Pilihan-pilihan yang kita pilih akan menciptakan sebuah dunia
yang sama sekali berbeda. Dunia terkuat, selain dunia saat ini, adalah dunia
tujuan yang akan diantarkan oleh gerbang dimensi.
Ardan adalah seseorang yang biasa
saja. Seorang pegawai kantoran biasa yang memiliki satu istri dan belum
memiliki anak. Dia sudah menikah selama dua tahun. Gajinya biasa saja, sekadar
cukup untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Segalanya biasa, kecuali kenyataan
bahwa dia terpilih oleh gerbang dimensi untuk menjelajah dunia lain.
Sore itu dia tidak sengaja melewati
gerbang. Batas kota adalah tempat yang biasa dia lewati jika pulang dari kerja.
Bedanya, sore itu adalah satu waktu yang langka. Satu waktu yang hanya terjadi
sekali dalam sepuluh ribu tahun.
Ardan merasa ada yang tidak baik-baik
saja setelah melewati gerbang itu. Dunia tempat dia berada sekarang seperti
berbeda. Hingar bingar, bukan sebuah hutan jati seperti yang selalu dia lewati.
Gerbang dimensi akan memberikan
sebuah pengalaman yang menyenangkan. Menegangkan. Dan, bagi sebagian orang,
menakutkan. Pun, Ardan. Tak sampai satu menit sejak melewat gerbang dan dia
sudah bertemu seseorang yang adalah dirinya. Sama persis. Orang itu memiliki
mata, hidung, dan mulutnya. Telinganya juga sama, dia rasa. Yang berbeda
hanyalah kulit wajahnya. Mulus. Seperti terawat dengan biaya yang tidak
sedikit.
“Aku tahu kau sedang kebingungan
dengan apa yang sedang terjadi,” orang yang mirip dirinya itu berkata. “namun,
apakah kita bisa mengobrol sebentar?”
Mereka lalu memutuskan mengobrol di
sebuah kafe kecil di pinggir jalan, berhadapan dengan memesan menu yang sama.
Ardan kebingungan, sedangkan orang-mirip-Ardan itu terlihat tenang. Orang itu
seperti memiliki kunci jawaban dari soal di otak Ardan.
“Tak perlu bingung dengan apa yang
terjadi. Selama di sini, waktu di duniamu akan terhenti,” dia menerangkan.
“anggap saja ini hadiah.”
Lalu obrolan mengalir di antara
mereka. Tentang latar belakang. Bahwa si orang-mirip-Ardan tahu segala hal
tentang gerbang dimensi. Peluang seseorang terpilih sangatlah kecil dan Ardan
beruntung sudah terpilih.
“Apa pekerjaanmu sekarang? Mengapa
kau terlihat begitu kaya?” Ardan membuka suara setelah kekagetannya terkendali.
“Ah, aku menjadi salah satu dokter
spesialis di kota ini,” orang-mirip-Ardan menjawab. “bagaimana denganmu?”
Ardan terhenyak, pikirannya melanglang
buana ke masa lalu. Ternyata begitu. ‘Orang ini’ pasti terbentuk dari dirinya
yang lebih memilih tes masuk kedokteran dibandingkan dengan informatika. Ah,
jurusan itu dulu begitu dia kejar karena minat. Tentu saja prospek kerjanya
juga bagus. Hanya saja Ardan kurang beruntung dan berakhir menjadi pegawai
kantoran biasa.
“Mengapa akhirnya kau memilih tes
kedokteran? Bukankah saat itu kau, kita, lebih berminat ke informatika?”
Ardan tak dapat membendung penasarannya.
“Oh? Haha. Iya, aku mengorbankan
informatika saat itu. Memikirkan bagaimana kedokteran bisa membantuku di masa
depan, akhirnya aku memilih ini,” orang itu menjawab. “apakah aku melakukan hal
yang benar?”
Ardan tersenyum getir. Ya, tentu
saja. Andai dulu aku juga memilih itu. Pikiran itu hanya mampir sekelebat.
Sisanya, pikiran Ardan disadarkan hal lain.
“Apa orang tua kita memiliki dana
untuk membiayai kuliah di sana?”
Orang-mirip-Ardan mengubah raut
mukanya. Mendung menghiasi wajahnya
“Itu salah satu penyesalanku,” kalimat
itu meluncur sedih dari bibirnya. “kuliah ternyata membutuhkan biaya yang
sangat besar. Beberapa kali aku selalu meminta tambahan kepada Ayah tanpa tahu
kesulitannya. Ayah akhirnya meninggal dua bulan sebelum kelulusanku karena
komplikasi yang dideritanya.”
Dia terdiam sejenak. Ardan menatapnya
nanar. Mulutnya menganga. Dia tidak menyangka orang yang selama ini dia kira
biasa saja ternyata dapat menjadi begitu mengagumkan.
“Seandainya aku memilih jalan yang
berbeda, apakah aku masih bisa bertemu Ayah?” tanyanya.
“Hingga hari ini Ayah masih sehat. Aku
menyisihkan beberapa gajiku untuknya cek kesehatan,” jawab Ardan. “tapi, kau
tahu? Di masa kuliah, aku belajar sesuatu. Bahwa kehidupan ini sudah berjalan
sesuai takdir. Takdir Ayah di duniamu mungkin tidak berjalan baik, tapi
yakinlah itu sudah bukan berada di kuasamu. Ayah… pasti bangga denganmu.”
Pikiran Ardan kembali berkeliaran. Hari
ketika dia diwisuda setelah setahun skripsinya mangkrak, wajah ayah dan ibunya
masih terbayang hingga hari ini. Mereka bangga. Tidak ada yang bisa
menggambarkan rasa kebanggaan itu melebihi hari dia akhirnya lulus. Melihat Ardan
dunia lain yang jauh lebih sukses darinya, ayahnya di surga tidak mungkin
tidak tersenyum bangga.
“Bagaimana dengan kehidupan kuliah di
informatika? Apa kau juga begadang seperti teman-temanku?” tanyanya.
“Haha, tentu! Kau tidak lihat berapa
banyak keriput yang ada di wajahku?” Ardan tertawa. “tapi, aku tidak menyesal. Mencari
masalah dan menyelesaikannya benar-benar menyenangkan!”
Orang-mirip-Ardan menyetujuinya. Mereka
adalah orang dengan inti yang sama, tentu saja banyak hal yang membuat mereka
satu kata. Dia lalu melanjutkan ceritanya, bahwa menempuh pendidikan dokter
begitu berat. Sulit baginya untuk mengimbangi ritme pendidikan di awal
kuliahnya.
“Lalu… apakah kau sudah menikah?”
Ardan bertanya pelan. Dia tahu itu pertanyaan yang menyangkut privasi. Meski,
entah dia perlu mempertimbangkan privasi jika berbicara dengan dirinya
sendiri atau tidak.
Orang itu tersenyum getir, sekali
lagi. Dia mengingat kembali kenangan menyesakkan yang terjadi selama kuliah. Cerita
kembali mengalir dari mulutnya. Bahwa dia pernah menyukai seseorang yang berbeda
jurusan dengannya. Mereka telah berteman karena sebuah kebetulan yang menyenangkan.
Beberapa kali orang-mirip-Ardan ingin mengungkapkan apa yang ada di hatinya,
namun selalu disangkal. Banyak alasan yang menghalanginya, entah karena dia
yang tidak yakin dengan perasaannya, entah karena sang wanita yang terlihat
tidak merespons perasaannya.
“Sekarang dia sudah menikah?” Ardan
memberanikan diri bertanya. Kisah orang itu hampir mirip dengannya. Mungkin akan
menjadi kisahnya juga apabila saat itu dia menunda pernyataan perasaannya.
“Dia sudah meninggal,”
orang-mirip-Ardan berbicara pelan. “sebuah kecelakaan merenggut nyawanya setahun
setelah dia lulus kuliah. Itu salah satu penyesalan terdalamku.”
“Ah… aku turut berduka,” kata Ardan “tapi…”
“Ya,” orang itu menyela. “semua sudah
tertulis semua takdir.”
Dia tersenyum. Ardan tersenyum. Hanya
beberapa menit dan mereka mulai saling merasa bisa memahami satu sama lain.
“Sekarang, ceritakan pengalamanmu,”
pintanya. “apakah di sana menyenangkan?”
“Tidak terlalu. Bahkan kurasa sangat
berat,” Ardan membuka cerita. “sejak memilih jurusan ini, awalnya aku merasa
senang karena bisa memperjuangkan minat. Lalu, beberapa bulan berjalan dan aku
mulai menyadari kemampuanku tidak mumpuni. Aku kesulitan. Beberapa kali harus
mengulang mata kuliah. Jadilah aku melarikan diri dengan memperbanyak kegiatan
hobi dan jalan-jalan.”
Ardan tersenyum getir. Dia rasa
cerita orang yang mirip dirinya itu lebih getir darinya, ternyata tidak. Ceritanya
tidak kalah getir, hanya berbeda aspek kehidupan saja.
“Kampusku mewajibkan mahasiswanya maksimal
lima tahun saja kuliah, lebih dari itu akan kena drop out,” sambungnya. “di
tahun kelima aku hampir menyerah, untung saja banyak dukung dari orang-orang
terdekatku. Termasuk, orang yang sekarang jadi istriku.
“Sayangnya, semua tidak terlalu
berjalan baik. Setelah lulus, aku kesulitan mencari kerja. Ada nilai C di
transkrip nilaiku sehingga menjadi pertanyaan setiap kali menghadiri wawancara.
Soal kemampuan, aku juga biasa-biasa saja. Hanya sekadar bisa, tidak jago. Padahal,
banyak dari teman-teman angkatan yang bekerja lepas maupun bekerja di
perusahaan ternama. Sedangkan aku harus mencukupkan diri di sebuah kantor yang
biasa dengan gaji yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja.”
Ceritanya Ardan terinterupsi oleh suara
menggelegar. Petir yang tidak biasa tiba-tiba terdengar dari luar. Langit sore
ini begitu indah dan kemerahan. Lalu, mengapa ada petir?
“Apakah di duniamu sedang musim hujan?”
Ardan tak menyembunyikan kebingungannya.
“Oh, tidak, petir itu pertanda bahwa
waktumu di dunia ini sudah hampir selesai,” jawab orang-mirip-Ardan. “tidak teras
akita sudah mengobrol satu jam. Ayo, kita harus segera ke gerbang dimensi.”
Keduanya mengarah ke gerbang dimensi.
Ardan dengan motornya, orang-mirip-Ardan dengan mobilnya. Suasana sore itu
sangat bertolak belakang dengan cerita yang telah mereka luluh-lantahkan selama
hampir satu jam.
“Senang bertemu denganmu, Ardan,”
kata orang-mirip-Ardan Ketika mereka sampai di gerbang dimensi. “setelah
mendengar beberapa pola pikirmu, sepertinya aku akan bisa lebih merelakan apa
yang sudah tertulis untuk kehidupanku. Lagipula, apa yang kualami tidak begitu
buruk, bukan? Aku masih memiliki Ibu dan kehidupan yang menyenangkan.”
Dia tersenyum. Terdiam sejenak. Lalu,
mengatakan bahwa gerbang itu akan tertutup dalam waktu kurang dari lima menit.
“Senang juga bertemu denganmu, Ardan,”
Ardan menanggapi. “aku berjanji setelah dari sini akan bekerja lebih keras
lagi. Ada banyak orang yang kusayangi yang berhak mendapatkan versi terbaik dari
diriku. Tidak seharusnya aku hanya malas-malasan dalam menjalani hidupku. Aku ingin
sepertimu, aku sudah cukup dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.”
Mereka bersalaman. Tersenyum, matanya
saling menatap. Ardan masih tak menyangka bahwa dia bertemu seseorang yang
adalah dirinya. Sama persis. Orang itu memiliki mata, hidung, mulut, dan
telinga yang benar-benar sama. Hanya kulit wajahnya yang berbeda, sedikit.
“Oh, iya,” orang-mirip-Ardan menyela.
“kalau boleh tahu, apakah nama istrimu… Rani?”
“Benar,” jawab Ardan. Dia ingin
melanjutkan bertanya, tetapi senyum lega dari orang itu sudah menjawab
pertanyaannya.
Ardan bergerak melewati gerbang
dimensi. Gerbang yang terbuka sekali dalam sepuluh ribu tahun. Gerbang yang lokasinya
tidak menentu. Orang yang mendapatkan kesempatannya pun tidak menentu. Dari
miliaran manusia di bumi, hanya satu yang akan mengalami.
SELESAI
Komentar
Posting Komentar