Langsung ke konten utama

[SEBULAT DONAT] #4 - Turut Berjalan Seiring Zaman

Waktu yang terus berjalan dan tren yang selalu berkembang membuat pengrajin donat harus memutar otak agar bisnisnya lancar. Semakin ke sini, taburan-taburan di atas donat semakin bermacam-macam. Aku tentu tak mengikuti perkembangan perusahaan manakah yang pertama kali memiliki ide ini. Kuduga, mereka berpikir dengan menambah varian taburan donat agar tak kalah dengan macam-macam roti yang mulai merebak. Ah, mereka tak tahu saja, ada seseorang yang benar-benar menyukai donat tak peduli dengan segala hal dan rasa yang ditawarkan roti itu. Untungnya, mereka tak mengerti. Karena, seseorang itu tak pernah terpikir untuk membeli donat yang dijajakan perusahaan-perusahaan itu. Maklum saja, anak itu masih murid sekolah menengah.

Pertama kali kurasakan donat modern itu adalah ketika … maaf, aku lupa. Ada dua memori yang saling bertabrakan di otakku sekarang. Apakah momen itu dimulai oleh tanteku yang memang sering membawakan macam-macam makanan mahal? Ataukah, dari sepupuku yang tinggal di Jabodetabek (aku lupa ketika itu sepupuku tinggal di Jakarta atau Tangerang) yang membeli donatnya di bandara?

Yang jelas, saat itu yang kuambil adalah donat dengan taburan coklat. Selimut coklat. Aku yang memang penggemar keras donat rasa original (kuanggap coklat itu sebagai meses) tentu takkan memilih keju. Selain itu, menurutku kue donat yang manis sama sekali tak cocok dengan keju yang asin. Kutahu dari obrolan orang di sekitar, sekotak donat itu berharga mencapai seratus ribu. Pengetahuan itu akhirnya membuatku menikmati donat modern itu pelan-pelan. Secuil, secuil, hingga setengah potong. Roti donatnya lembut, meluber di mulut bersama coklat yang memeluk. Kedua gabungan rasa itu menggelitik lidah, membuatku ingin mencuil lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi. Hingga akhirnya aku sadar bahwa sebentuk donat di tanganku telah berubah menjadi angin. Hilang. Hanya menyisakan hampa. Aku kecewa, lalu berpikir:

Jika donat seenak ini hanya berlalu selama dua menit, untuk apa harus dibeli?

Pikiran itu terus berkecamuk di dalam otakku, sampai akhirnya muncul kesimpulan yang membuatku berpegang teguh pada hasilnya: donat kampung adalah donat terbaik. Dia memperhatankan orisinalitas sebagai donat pertama dengan rasa yang diciptakan. Dia juga penuh tekstur dan dapat dinikmati selama mungkin kau ingin. Dia juga serta merta memberikan sensasi melegakan dengan membuat mulut pemakannya menganga lebar untuk mencaplok apa yang dihadapinya. Maksudku, bukankah hal itu merupakan salah satu kepuasan batin? Tak lupa, dia pula sumber dari segala macam ide itu berasal. Ah, yang orisinal memang selalu lebih baik.

Tapi, tak kusalahkan perusahaan yang ikut berjalan beriringan zaman itu. Mereka tak salah. Saingan mereka adalah roti-roti yang juga mulai menggila memberi rasa. Hanya saja, aku kecewa. Seharusnya donat tetap pada keasliannya. Ah, tapi apa peduli mereka? Aku hanya seorang murid sekolah menengah yang akan berpikir seribu kali untuk membeli setengah lusin donat mereka dengan harga ratusan ribu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu