Waktu yang terus berjalan dan tren yang selalu berkembang membuat
pengrajin donat harus memutar otak agar bisnisnya lancar. Semakin ke sini,
taburan-taburan di atas donat semakin bermacam-macam. Aku tentu tak mengikuti
perkembangan perusahaan manakah yang pertama kali memiliki ide ini. Kuduga,
mereka berpikir dengan menambah varian taburan donat agar tak kalah dengan
macam-macam roti yang mulai merebak. Ah, mereka tak tahu saja, ada seseorang yang
benar-benar menyukai donat tak peduli dengan segala hal dan rasa yang
ditawarkan roti itu. Untungnya, mereka tak mengerti. Karena, seseorang itu tak
pernah terpikir untuk membeli donat yang dijajakan perusahaan-perusahaan itu.
Maklum saja, anak itu masih murid sekolah menengah.
Pertama kali kurasakan donat modern itu adalah ketika … maaf, aku
lupa. Ada dua memori yang saling bertabrakan di otakku sekarang. Apakah momen
itu dimulai oleh tanteku yang memang sering membawakan macam-macam makanan
mahal? Ataukah, dari sepupuku yang tinggal di Jabodetabek (aku lupa ketika itu sepupuku
tinggal di Jakarta atau Tangerang) yang membeli donatnya di bandara?
Yang jelas, saat itu yang kuambil adalah donat dengan taburan
coklat. Selimut coklat. Aku yang memang penggemar keras donat rasa original
(kuanggap coklat itu sebagai meses) tentu takkan memilih keju. Selain itu,
menurutku kue donat yang manis sama sekali tak cocok dengan keju yang asin.
Kutahu dari obrolan orang di sekitar, sekotak donat itu berharga mencapai
seratus ribu. Pengetahuan itu akhirnya membuatku menikmati donat modern itu
pelan-pelan. Secuil, secuil, hingga setengah potong. Roti donatnya lembut,
meluber di mulut bersama coklat yang memeluk. Kedua gabungan rasa itu
menggelitik lidah, membuatku ingin mencuil lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi.
Hingga akhirnya aku sadar bahwa sebentuk donat di tanganku telah berubah
menjadi angin. Hilang. Hanya menyisakan hampa. Aku kecewa, lalu berpikir:
Jika donat seenak ini hanya berlalu selama dua menit, untuk apa harus
dibeli?
Pikiran itu terus berkecamuk di dalam otakku, sampai akhirnya muncul
kesimpulan yang membuatku berpegang teguh pada hasilnya: donat kampung adalah
donat terbaik. Dia memperhatankan orisinalitas sebagai donat pertama dengan
rasa yang diciptakan. Dia juga penuh tekstur dan dapat dinikmati selama mungkin
kau ingin. Dia juga serta merta memberikan sensasi melegakan dengan membuat
mulut pemakannya menganga lebar untuk mencaplok apa yang dihadapinya. Maksudku,
bukankah hal itu merupakan salah satu kepuasan batin? Tak lupa, dia pula sumber
dari segala macam ide itu berasal. Ah, yang orisinal memang selalu lebih baik.
Tapi, tak kusalahkan perusahaan yang ikut
berjalan beriringan zaman itu. Mereka tak salah. Saingan mereka adalah
roti-roti yang juga mulai menggila memberi rasa. Hanya saja, aku kecewa.
Seharusnya donat tetap pada keasliannya. Ah, tapi apa peduli mereka? Aku hanya
seorang murid sekolah menengah yang akan berpikir seribu kali untuk membeli
setengah lusin donat mereka dengan harga ratusan ribu.
Komentar
Posting Komentar