Langsung ke konten utama

Salam Dariku, Bangga

Halo, Sombong
Masih ingatkah kau tentangku? Ah, maaf, aku bercanda. Tentu kau tahu. Tentu kau tak mungkin lupa akan waktu yang selalu kita lalui bersama. Tak terpisah. Hingga satu waktu.
Aku masih di sini, dan selalu miris melihatmu. Orang-orang baik tak menyukaimu. Hina menganggapmu. Mereka menjauhimu. Pergi, berusaha tak kembali mendekatimu.
Namun, aku juga selalu iri melihatmu. Orang-orang baik tak menyukaimu. Hina menganggapmu. Mereka menjauhimu. Pergi, berusaha tak kembali mendekatimu.
Orang-orang itu telah tahu kau buruk. Orang-orang telah sadar bahwa kau tak pantas didekati. Orang-orang melangkahkan kaki sejauh langkah yang tercipta, khusus agar tidak bersinggung denganmu.
Dan mereka masih tidak sadar aku sama buruknya denganmu. Akulah satu dari sekian banyak penyebabmu. Tapi mereka tidak sadar. Mereka masih mendekatiku. Mereka berusaha mencari ketika tak menemukanku. Mereka mencintaiku sebesar mereka membencimu. Mereka hanya tak sadar. Akulah satu dari sekian banyak penyebabmu.
Karenanya aku iri. Kau cukup menjadi diri sendiri dan tak menyeret orang lain ke bahaya. Kau cukup diam dan semuanya menjauhimu. Kau buruk, namun semua orang tahu.
Karenanya aku iri. Aku menjadi diri sendiri namun orang-orang semakin mendekatiku. Aku hanya diam namun semuanya semakin berusaha meraihku. Aku buruk, namun tak semua orang tahu.
Sebaliknya, banyak dari mereka yang tak tahu.
Maka ajari aku. Jalan agar mereka akhirnya sadar. Cara agar mereka akhirnya paham. Bahwa batas antara kita dilapisi selongsong tipis yang begitu transparan.
Ajari aku, karena aku tak sanggup. Aku menyerah. Mereka semakin mendekat. Memaksa dan menggempurku bersamaan. Mereka gila. Dan, tidak mengerti. Ya, kurasa mereka hanya tidak mengerti. Batas antara kita hanya selongsong tipis yang begitu transparan.
Jika kau akhirnya menyatakan tak sanggup untuk mengajariku, baiklah. Cukup doakan aku. Doakan mereka agar semakin lama tersadarkan.

Salam dariku, Bangga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu