Halo, Sombong
Masih ingatkah kau tentangku? Ah, maaf, aku bercanda. Tentu kau
tahu. Tentu kau tak mungkin lupa akan waktu yang selalu kita lalui bersama. Tak
terpisah. Hingga satu waktu.
Aku masih di sini, dan selalu miris melihatmu. Orang-orang baik tak
menyukaimu. Hina menganggapmu. Mereka menjauhimu. Pergi, berusaha tak kembali
mendekatimu.
Namun, aku juga selalu iri melihatmu. Orang-orang baik tak
menyukaimu. Hina menganggapmu. Mereka menjauhimu. Pergi, berusaha tak kembali
mendekatimu.
Orang-orang itu telah tahu kau buruk. Orang-orang telah sadar bahwa
kau tak pantas didekati. Orang-orang melangkahkan kaki sejauh langkah yang
tercipta, khusus agar tidak bersinggung denganmu.
Dan mereka masih tidak sadar aku sama buruknya denganmu. Akulah
satu dari sekian banyak penyebabmu. Tapi mereka tidak sadar. Mereka masih
mendekatiku. Mereka berusaha mencari ketika tak menemukanku. Mereka mencintaiku
sebesar mereka membencimu. Mereka hanya tak sadar. Akulah satu dari sekian
banyak penyebabmu.
Karenanya aku iri. Kau cukup menjadi diri sendiri dan tak menyeret
orang lain ke bahaya. Kau cukup diam dan semuanya menjauhimu. Kau buruk, namun
semua orang tahu.
Karenanya aku iri. Aku menjadi diri sendiri namun orang-orang
semakin mendekatiku. Aku hanya diam namun semuanya semakin berusaha meraihku.
Aku buruk, namun tak semua orang tahu.
Sebaliknya, banyak dari mereka yang tak tahu.
Maka ajari aku. Jalan agar mereka akhirnya sadar. Cara agar mereka
akhirnya paham. Bahwa batas antara kita dilapisi selongsong tipis yang begitu
transparan.
Ajari aku, karena aku tak sanggup. Aku menyerah. Mereka semakin
mendekat. Memaksa dan menggempurku bersamaan. Mereka gila. Dan, tidak mengerti.
Ya, kurasa mereka hanya tidak mengerti. Batas antara kita hanya selongsong tipis
yang begitu transparan.
Jika kau akhirnya menyatakan tak sanggup untuk mengajariku,
baiklah. Cukup doakan aku. Doakan mereka agar semakin lama tersadarkan.
Salam dariku, Bangga.
Komentar
Posting Komentar