Kali ini, membukanya terasa begitu berat. Pintu kayu yang terpasang sebagai garda terdepan keamanan rumah. Sebuah kertas terlipat berwarna keemasan tampak terserak. Sumber decitan ketika persegi panjang tadi terbuka.
Aku menundukkan tubuh dan perlahan mengambilnya. Sebuah undangan. Segenap perasaan aneh menyembul tiba-tiba tanpa kutahu asalnya. Undangan tersebut tidak mencantumkan nama di depan. Pun, untuk acara apa benda itu disebar. Aku sama sekali tak tahu apa dan mengapa, hanya saja ada kabut yang menyelimut.
Kulepaskan ransel di kursi tamu. Lelahnya kerja hari ini dan beragam masalah yang menghadang tak lagi kurasa jelas. Semuanya digantikan segala rasa penasaran yang menendangi semua pegal dan linu. Sambil bersandar, mulai kubuka pelan plastik undangan itu. Tidak terlalu rekat. Warnanya bening seperti plastik pada umumnya. Garis merah di pelekatnya masih jelas. Kukeluarkan kertas keemasan itu. Jantungku semakin bergerak tak keruan.
Halaman sampul hanya berisi nama dan alamatku. Dan, beberapa ornamen desain untuk membuatnya terlihat seperti undangan alih-alih brosur pendaftaran bimbingan belajar. Selembar sampul itu kubuka untuk menuntaskan rasa penasaranku. Sudah sekian tahun semenjak terakhir kudapati undangan terselip di pintu rumah. Itu juga hanya sebuah undangan khitan. Di usiaku yang akan menginjak angka seperempat abad ini, tentu bukan undangan semacam itu lagi yang kuterima.
Tapi apa? Batinku sudah lelah untuk bertanya. Namun, tanganku masih tak sanggup untuk membuka. Apa dia tahu akan bahaya yang terjadi jika dia kugerakkan lebih jauh?
Jantungku tak dapat ditolerir lagi. Lembaran sampul itu kubuka. Ucapan salam dan basmalah, seperti undangan pada umumnya. Selanjutnya, kata-kata pembuka sudah tak sanggup lagi dibaca mataku.
Di antara kalimat pembuka dan penutup terdapat beberapa deret nama dan gelar yang membuatku terkejut. Nama wanita itu. Seseorang yang telah menghantui siang-malam dan segala waktu yang tak kuinginkan lama. Berderetan dengan nama orang tuanya yang dicetak dalam ukuran huruf yang lebih kecil. Gelar tak luput dibubuhkan. Ah, aku tak mempermasalahkan itu. Perjuangannya menyelesaikan jenjang sarjana tentu tak bisa dianggap enteng begitu saja.
Mataku masih menatap lekat nama itu. Nama wanita itu. Dan, sebuah nama pria dengan ukuran huruf yang tercetak sama. Gelarnya hanya tercetak singkat. Seorang magister.
Seberapa jauh usia mereka tertaut? Dimana mereka bertemu? Bagaimana perasaan mereka masing-masing ketika pertama kali memandang satu sama lain? Apakah pria itu rekan yang satu perusahaan dengannya? Kapan pernikahan mereka dilangsungkan? Ah, seharusnya informasi itu ada di halaman selanjutnya.
Lalu pertanyaan selanjutnya adalah mengapa. Mengapa... pria itu bisa begitu beruntung?
Atau, aku yang terlalu sial? Atau segala hal ini sama sekali tak ada hubungannya dengan kocokan dadu dan segala bentuk peluang? Apakah memang ini sebuah suratan takdir bahwa dia bukan untukku, dan aku sama sekali bukan untukknya?
Seharusnya aku bahagia. Orang yang kupikirkan sehari-hari akan memasuki kehidupan baru dan akan ada seseorang yang mendampinginya setiap hari. Meski itu bukan aku. Meski mendampinginya adalah cita-cita kecil dariku.
Seharusnya, aku tak boleh berpikir seperti ini. Kami telah sepakat, aku dan hatiku, untuk mundur. Dia tak lebih dari teman. Tak ada perasaan lain yang membuatku bahagia di dekatnya, selain karena dia nyaman diajak bicara. Pun, tak ada perasaan lain yang sama antara aku dan dia. Aku yang terlalu mengejar, dan dia yang terlalu kencang berlari.
Ternyata aku begitu pengecut. Aku dan hatiku. Kami hanya terlalu takut. Dan, berkali-kali logika menyadarkanku. Untuk apa kecewa dengan sebuah hasil yang tak diperjuangkan?
Undangan keemasan itu aku buang perlahan. Terserak di atas meja tamu yang coklatnya semakin memudar. Senyum ikhlas kupaksakan tercipta, meski hati begitu menderita. Aku tak boleh begini, bukan? Dia harus bahagia. Dia boleh mencinta. Dengan siapa pun yang dia minta. Aku tak boleh menyela, karena itu hanya akan menyiksa dirinya.
Sudah cukup. Kuputuskan untuk berdiri dan membuang segala kenangan tentangnya. Semua ini telah selesai. Masih ada banyak urusan yang perlu kusiapkan. Ada banyak yang perlu kuhadapi. Materi presentasi esok belum kusiapkan. Uang koperasi yang lupa kutaruh dimana. Keluarga yang selalu meminta untuk pulang, ketika tak ada uang untuk membeli tiket bus.
Dia harus bahagia, itu yang selama ini kubayangkan. Tersenyum. Jika akhirnya tersenyum bukan karenaku, aku harus ikhlas. Itu jauh lebih baik dibandingkan dengan jika kisahnya tak berakhir bahagia. Atau, jika kisah 'kita' terjadi dan dia tak pernah tersenyum lagi, bukankah itu akan lebih menyakitkan?
Terlalu omong kosong, bukan? Sudahlah, biarkan kami mendamaikan diri masing-masing meski terkesan terlalu memaksa. Aku dan hatiku.
Undangannya udah kuterima. Selamat ya.
Kukirim pesan itu untuknya. Lucu sekali mengingat bagaimana aku menghibur diri dan menyembunyikan kesedihan dibalik kata 'selamat'. Konyol, memang. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan?
Iyaa. Datang ya tanggal 9 nanti!
Balasan itu datang dalam waktu singkat. Secepat dia akhirnya berhasil berpaling dan meluluhlantakkan segenap perasaan. Remuk tak tersisa.
Komentar
Posting Komentar