Menjadi dewasa itu berat, butuh banyak persiapan sebelum akhirnya mampu.
Malam ini saya lihat instagram stories dari beberapa temen SMA yang temanya sama, melepas temen SMA lainnya yang akan pergi ke luar negeri. Tak terhitung berapa emosi yang ditampilkan. Terus, apa hubungannya dengan menjadi dewasa?
Sederhananya, hal itu memicu sebuah ruang di pikiran saya untuk memikirkan banyak hal. Bahwa di usia dua puluhan ini sudah waktu menjadi dewasa dan bertanggung jawab pada pilihan-pilihan hidup yang sudah ditentukan entah sejak kapan.
Entah pilihan untuk mengabdi kepada negara.
Entah pilihan untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya.
Pilihan untuk mencapai derajat keilmuan yang menakjubkan.
Atau bahkan mungkin pilihan untuk menambah populasi peradaban.
Alias, menikah
Dan tentu masih banyak lagi pilihan lainnya.
Satu pilihan itu akan memiliki konsekuensi ke depannya. Apapun, selalu akan ada konsekuensinya. Mengabdi pada negara misalnya, akan mengantarkan kita pada terputusnya pilihan kuliah jenjang lebih tinggi, secara sementara (hingga waktu yang ditentukan). Atau mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, yang sangat memungkinkan akan menguras isi dompet kita sendiri. Yang lainnya tentu masih ada konsekuensi masing-masing, namun sepertinya bukan ranah saya untuk membahasnya.
Lalu kenapa harus menghubungkan dengan menjadi dewasa?
Ah, iya. Mungkin karena saya iri. Saya berada pada pilihan A sementara menginginkan pilihan B. Padahal, orang pada jalur B sangat mungkin jika ingin berada di posisi A. Itulah, ada satu hal yang masih mengganggu dan kesimpulan yang saya tarik adalah bahwa kemungkinan besar saya belum siap menjadi dewasa. Konsekuensi pada pilihan-pilihan itu yang kiranya menciptakan kesulitan. Ah, entahlah.
I never thought growing old was this hard.
***
Atambua (DH), 2018/08
Komentar
Posting Komentar