Sudah lebih dari empat bulan aku meninggalkan Jakarta. Bohong rasanya jika aku bilang "tidak terasa", karena bagiku segala waktu selalu kurasakan dengan jelas. Baik, buruk, seram, indah, semuanya selalu terpatri dalam pikiran.
Meninggalkan Jakarta. Awalnya kukira itu adalah hal yang biasa. Aku kuliah di sana selama empat tahun, lengkap dengan keringat dan air mata yang melengkapi. Darah? Kurasa itu juga bisa dimasukkan. Tapi, tidak seperti kebanyakan teman yang memiliki "love-hate relationship" dengan Jakarta, hubungan yang aku miliki kebanyakan adalah "love", meski masih memiliki beberapa "hate". Tapi, secara keseluruhan, aku (sangat) menyukai Jakarta.
Dulu, setiap waktu untuk pulang kampung adalah salah satu yang sangat kuinginkan. Sangat ditunggu-tunggu oleh kami, aku dan mayoritas teman kuliahku. Maklum, kebanyakan dari kami adalah perantau. Aku sendiri berasal dari Kabupaten Mojokerto, tak jauh dari Kota Surabaya. Tempatku tinggal hanya berjarak 5 km dari pusat Kota Mojokerto, tapi tetap saja mayoritas waktu kuhabiskan di rumah, di desa. Jadi, berada di Jakarta dengan segala hingar bingarnya tentu membuatku bahagia. Apalagi, di Jakarta aku mendapatkan uang "saku" tiap bulan selain dari orangtua. Ah, rasanya menjelajahi Jakarta bukan hal yang sulit buatku. Terutama, aku yang (kurasa) introver ini juga tak masalah pergi kemana-mana sendiri. Tak masalah nonton tanpa teman di bioskop. Tak masalah pergi sejauh hampir dua jam perjalanan ke mall Taman Anggrek. Tak masalah pergi ke seminar di kampus Unindra walau jauh (meskipun hanya naik angkot sekali). Pun, tak masalah dengan hadir di Gregetan Nulis di Senopati walau nggak tahu lokasi tepatnya dimana, atau pun punya teman buat diajak ke sana.
Ah, ternyata perjalananku di Jakarta sudah sangat banyak. Dan, sepertinya aku hilang fokus.
Sebenarnya, yang ingin kuceritakan adalah dalam masaku magang di kantor pusat, sebelum kami seangkatan disebar di kantor daerah. Satu bagian terdiri dari aku dan lima temanku yang lain. Awalnya, tak ada yang benar-benar akrab, meski banyak yang kenal dekat. Waktu magangku yang hanya seumur padi bisa membuat berbagai macam kenangan yang tak terlupakan. Hampir tiap minggu selalu saja ada hal baru yang dicoba, terutama soal kuliner. Mulai dari Warung Spesial Sambal, sampai Mecah Piting. Dan bagaimana mungkin aku lupa soal Mecah Piting yang di waktu kami makan di sana, itu adalah saat Jakarta mengalami gempa. Pertama kali merasakan gempa, dan aku tidak panik karena empat orang di sekitarku tidak ada yang peduli. Aku bahkan mengira itu hanya goncangan truk.
Magang di kantor pusat dengan jarak tempat 30 menit bukan berarti tidak membuatku kesal. Aku kesal karena tiap pagi harus berjalan sejam 1 km ke halte busway terdekat lainnya karena halte dekat kos selalu penuh sesak. Atau jika harus berdesakan ketika pulang kantor karena tahu sendiri orang Jabodetabek selalu ingin cepat pulang. Dan ketika sampai rumah, rasa lelah sudah tak terhitung lagi. Aku ingat dulu bahkan aku sanggup tidur jam 9 malam tepat (ketika kuliah jam tidur normalku adalah jam 10) karena terlalu capek. Padahal, pekerjaanku di kantor tidak terlalu melelahkan. Setidaknya dibandingkan dengan pekerjaan di daerah.
Sekarang, setiap kali playlist-ku menyetel lagu-lagu (ya, aku masih belum bisa menghilangkan kebiasaan mendengarkan musik meskipun sudah banyak yang melarang) yang kudengarkan dalam perjalanan berangkat/pulang kerja, aku selalu ingin kembali ke masa itu. Masa-masa berdesakan yang membuatku sangat rindu. Masa-masa yang membuatku terasa bebas dan siap menjalani segala macam cobaan hidup, karena di sana mencari hiburan semudah mendapat masalah hidup. Masa-masa ketika semua orang masih saling berdekatan, belum tersebar ke seluruh Indonesia.
Aku kira aku akan sangat bahagia ketika dipekerjakan ke daerah (karena status sebagai pegawai hanya bisa didapat di sini), aku kira akan sangat senang jika tiap hari tak perlu merasakan macet, aku kira akan sangat menyukai kehidupan baruku sebagai orang dewasa yang tidak hidup di Jakarta. Beberapa diantaranya tentu tidak salah, tapi ada satu hal yang sama sekali tak kusangka. Bahwa Jakarta membuatku sadar akan banyak hal.
Ternyata, aku rindu.
***
Atambua (DH), 2018/07
Komentar
Posting Komentar