Jalanan berpuluh kilometer itu seringkali disebut Welaus. Tak berbeda dengan nama daerah dimana jalan tersebut merangsek. Orang-orang sini lebih sering menyebutnya dengan Welaos, entah karena penyebutannya memang begitu, entah karena telinga yang sedikit tidak sinkron. Jalan ini terbentang setelah batas Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka sudah ditemui, untuk setelahnya harus terlewat jika ingin ke pusat kota Malaka di Betun. Ah, apa nama kabupaten tersebut asing? Ngomong-ngomong, kedua kabupaten itu terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Aku yakin seorang penyair akan bisa melahirkan ratusan karya hanya dengan berdiam di Welaus. Alamnya terlampau indah untuk dilihat dari atas motor. Seandainya tak diburu waktu, akan sangat menyenangkan untuk menyempatkan diri menikmati keindahannya.
Dari atas jalanan tersebut dalam terlihat laut, yang entah laut itu apakah Laut Timor atau Laut Selatan (atau mungkin sebenarnya keduanya sama?), biru yang bercampur hijau begitu menyejukkan. Sejauh mata memandang langit akan selalu menemani dalam kebiruannya. Cantik. Mungkin tidak bagi kalian yang membenci panas. Tapi, jika memang tak ada pilihan selain melewatinya, nikmatilah. Karena memang dalam waktu melewatinya, saya selalu menikmati.
Jalanan yang sudah didominasi aspal akan mengantar kalian melihat segala sesuatu dengan tenang. Pepohonan yang menghijau di musim penghujan dan meranggas di musim kemarau cukup untuk menyenangkan hati. Tak lupa, gabungan biru dari langit yang menghampar dan cerminan laut dari kejauhan. Awan berarak dan angin yang menggerak. Semua berpadu dalam segala keindahan yang tidak terelakkan.
Tak cukup hanya siang, cobalah menengok ketika mega membayang. Dalam bayang petang. Gelap akan mengejarmu, tapi jingga yang sejati akan turut memelukmu. Jingga ranum yang kemerahan itu menggantikan biru yang dahsyat. Berbaur dengan warna anggur, jingga sama sekali tak menyerah untuk memperlihatkan pesonanya.
Ah, tapi cobalah berbalik ketika malam menerjang. Tidak, bukan karena tidak aman, hanya terpikir untuk berhati-hati. Seperti slogan yang kulihat sebelum memasuki Welaus (meskipun agak jauh dari jalanannya), bahwa lebih baik seribu kali hati-hati daripada sekali mati. Hmm, mana mungkin aku bisa menolak slogan yang mencerminkan diriku itu?
Lagipula, naik-turun-belok dengan tajam memerlukan konsentrasi. Jika sudah gelap, akan sangat sulit untuk berfokus dalam konsentrasi, bukan?
Komentar
Posting Komentar