Langsung ke konten utama

Postingan

[CERPEN] - Jin Dalam Botol

“Metode analisis ini termasuk jarang digunakan di kampus kita, sepertinya kamu harus cari referensi ke orang lain,” Bu Mutia akhirnya berbicara setelah kurang lebih setengah jam berkutat dengan tugas di depannya. Dini menatap dosen pembimbing skripsinya itu dengan tidak percaya. Gimana sih? Bukannya dulu Ibu yang mengusulkan metode itu untuk skripsi saya?” “Kira-kira saya harus cari referensi dimana, Bu?” tanya Dini, memutuskan untuk tidak menyuarakan pikirannya. Bu Mutia terdiam sejenak. Pulpen di tangannya diketuk-ketukkan ke meja yang ada di hadapannya, menunjukkan gelagat sedang berpikir. “Coba kamu yang orang yang namanya Antony,” kata dosen berusia empat puluhan itu. “setahu saya, di Indonesia, untuk metode ini dia yang paling paham.” “Nama lengkapnya siapa, Bu? Gelarnya?” tanya Dini. “Oh iya, kalau boleh tahu, beliau siapa?” “Namanya hanya Antony, pakai ‘y’, soal gelar dan sebagainya, kamu cari tahu sendiri, ya,” Bu Mutia mulai beranjak dari kursinya. “saya mau ada ...

Setapak Kita Berbeda

Setapak kita berbeda. Aku berjalan di sebelah kanan. Berada pada Timur tempat matahari terbit. Berjalan lurus dengan sedikit melenggok di beberapa bagian. Kau melangkah di sebelah kiri. Bersama Barat tempat matahari menghilang sejenak. Berjalan menyilang dan lurus jika telah tiba waktunya. Sesekali aku menoleh. Ke arahmu. Ke arah seseorang yang telah begitu lama menjadi kawan berjalan sekian lama. Ke arah manusia yang paling kuharapkan akan menjadi tempat mengaduku. Namun, kau tak lakukan hal yang sama. Matamu lurus menatap ke depan. Langkahmu tak terhenti barang sedetik pun. Satu-satu namun pasti. Satu-satu namun mantap. Dan aku selalu ingat waktu dimana kita berjalan pada satu jalan yang sama. Berjalan dengan cara yang sama. Berjalan dengan rintangan yang sama. Persis. Namun, kini setapak kita berbeda. Kau memilih kiri, aku memilih kanan. Tak ada yang salah. Tujuan kita sama. Begitu katamu, bukan? Ya, tak ada yang salah. Hanya saja aku merasa sepi. Tak terhitung ...

Salam Dariku, Bangga

Halo, Sombong Masih ingatkah kau tentangku? Ah, maaf, aku bercanda. Tentu kau tahu. Tentu kau tak mungkin lupa akan waktu yang selalu kita lalui bersama. Tak terpisah. Hingga satu waktu. Aku masih di sini, dan selalu miris melihatmu. Orang-orang baik tak menyukaimu. Hina menganggapmu. Mereka menjauhimu. Pergi, berusaha tak kembali mendekatimu. Namun, aku juga selalu iri melihatmu. Orang-orang baik tak menyukaimu. Hina menganggapmu. Mereka menjauhimu. Pergi, berusaha tak kembali mendekatimu. Orang-orang itu telah tahu kau buruk. Orang-orang telah sadar bahwa kau tak pantas didekati. Orang-orang melangkahkan kaki sejauh langkah yang tercipta, khusus agar tidak bersinggung denganmu. Dan mereka masih tidak sadar aku sama buruknya denganmu. Akulah satu dari sekian banyak penyebabmu. Tapi mereka tidak sadar. Mereka masih mendekatiku. Mereka berusaha mencari ketika tak menemukanku. Mereka mencintaiku sebesar mereka membencimu. Mereka hanya tak sadar. Akulah satu dari sekian banyak ...

[FLASH FICTION] - Hitam dan Malam Kelam

Pria itu berpakaian hitam. Kelam. Dalam gelapnya malam. Tak ada bintang dalam malam kali ini, seperti tak ada harapan dalam mimpi tergelapmu. Pria itu menyatu dengan bayangannya. Dengan bayangan malam. Dengan bayangan bulan yang hilang. Dengan cahaya bintang yang tak sudi tampak. Dan dia terus berjalan seorang diri. Tidak ada apa pun di sekitarnya selain kesunyian dan keheningan yang membunuh. Tidak ada. Namun dia tak menghentikan langkah. Melaju tanpa mengenal lelah. Nyawa-nyawa di sekitarnya mulai berdesus. Dia tentu orang jahat.                      Di balik jaket hitamnya mungkin tersimpan selongsong peluru, sebuah pistol, sebilah pisau, segenggam granat, dan segepok uang yang berhasil dirampok dari bank. Di saku celananya mungkin berisi ponsel mutakhir curian. Dan juga dompet berisi uang hasil copet. Atau masker untuk menutupi kedok. Nyawa-nyawa lain mulai menya...

[REVIEW / MOVIE] - First Love (A Little Thing Called Love): Perjuangan Demi Cinta

Mungkin merupakan satu hal yang aneh karena ini merupakan review film pertama yang ada di blog ini. Namun, sesuai dengan nama blognya, maka segala jenis tulisan akan bertumpah ruah di sini. Semoga menyenangkan~ Film yang akan dibahas kali ini adalah film yang hampir diketahui oleh semua remaja yang hidup di era perkembangan teknologi dan internet. Ya, First Love merupakan film yang sudah rilis sejak lama. Meski demikian, film inimasih selalu memiliki tempat di hati penggemarnya. Mungkin orang-orang lebih mengenal film ini dengan sebutan A Little Thing Called Love. Jadi singkatnya, pembuatan review ini adalah karena rasa geli saya yang ingin membahas komponen-komponen film. Cerita First Love mengisahkan tentang seorang remaja putri (seusia SMP sepertinya) yang jatuh cinta pada seniornya yang luar biasa. Nam, si remaja putri tersebut, menyukai Shone sejak pertama Shone pindah ke sekolahnya. Konflik yang disuguhkan dalam cerita ini adalah usaha Nam dalam mendapatkan perhatian Sho...

[REVIEW / NOVEL] - Winter in Tokyo

Novel karangan Ilana Tan, Winter in Tokyo, ini tentu sudah taka sing bagi banyak orang. Novel yang sudah menjadi mega best-seller ini termasuk dalam tetralogi Musim yang membawa nama Ilana Tan semakin melambung. Winter in Tokyo merupakan novel ketiga dari tetralogi tersebut. Novel pertama dari tetralogi ini berjudul Summer in Seoul, disusul Autumn in Paris, dan setelah Winter in Tokyo akan diterbitkan Spring in London. Sesuai namanya, novel ini mengambil latar di Tokyo pada suatu musim dingin. Winter in Tokyo mengisahkan tentang Ishida Keiko, tokoh yang sempat muncul sebentar di Autumn in Paris. Keiko sendiri merupakan saudara kembar dari Ishida Naomi, yang menjadi peran utama di novel keempat, Spring in London. Winter in Tokyo menceritakan kehidupan cinta Ishida Keiko sebagai seorang penjaga perpustakaan yang tinggal di pinggiran kota Tokyo. Suatu ketika secara kebetulan dia harus mengalami kejadian yang cukup memalukan di hadapan tetangga baru apartemennya, Nishimura Kazuto. Ce...

[REVIEW / KUMCER] - Sepotong Senja Untuk Pacarku

“Kudengar jeritannya yang pilu, jeritan purba dari perasaan yang terluka.” “Bagaimana sebenarnya jeritan yang pilu itu?” “Aku tidak bisa menirukannya, tapi kalau kau dengar sendiri jeritan purba dari perasaan yang terluka itu engkau akan merasa sangat sedih.” Seno Gumira Ajidarma menuliskan cerita-cerita dalam kumpulan bertajuk “Sepotong Senja Untuk Pacarku” dengan indah. Cerita-cerita pendek yang ditulisnya bersinergi antara satu sama lain, membuat pembacanya terpikir bahwa beliau mungkin menulisnya dalam hanya satu malam saja. Setiap cerpen dalam kumpulan tersebut menggambarkan senja maupun sepotong senja yang bisa dinikmati oleh siapa pun. Tak menutup kemungkinan, bahkan jika kau membacanya dengan dikelilingi dinding-dinding kamar, kau tetap akan merasakan hangatnya senja dan cantiknya jingga. Satu cerpen yang tokoh utamanya menjadi cameo  di beberapa cerpen lain adalah cerita dengan judul “Ikan Paus Merah”. Cerita Ikan Paus Merah hanya menceritakan ikan paus yang terlu...