Langsung ke konten utama

[REVIEW / MOVIE] - First Love (A Little Thing Called Love): Perjuangan Demi Cinta


Mungkin merupakan satu hal yang aneh karena ini merupakan review film pertama yang ada di blog ini. Namun, sesuai dengan nama blognya, maka segala jenis tulisan akan bertumpah ruah di sini. Semoga menyenangkan~
Film yang akan dibahas kali ini adalah film yang hampir diketahui oleh semua remaja yang hidup di era perkembangan teknologi dan internet. Ya, First Love merupakan film yang sudah rilis sejak lama. Meski demikian, film inimasih selalu memiliki tempat di hati penggemarnya. Mungkin orang-orang lebih mengenal film ini dengan sebutan A Little Thing Called Love. Jadi singkatnya, pembuatan review ini adalah karena rasa geli saya yang ingin membahas komponen-komponen film.
Cerita First Love mengisahkan tentang seorang remaja putri (seusia SMP sepertinya) yang jatuh cinta pada seniornya yang luar biasa. Nam, si remaja putri tersebut, menyukai Shone sejak pertama Shone pindah ke sekolahnya. Konflik yang disuguhkan dalam cerita ini adalah usaha Nam dalam mendapatkan perhatian Shone. Oleh karena sepertinya semua orang sudah tahu filmnya, maka isi dari tulisan ini akan membahasnya dengan spoiler.
Yang menarik dari film ini adalah banyak sekali elemen yang hadir dalam dua jam film tersebut. Mulai dari konflik utama tentang usaha Nam, masalah persahabatan Nam, masa lalu ayah Shone, cinta segitiga antara pemain, rivalry antar murid, dan masih banyak lagi. Film ini bisa membangkitkan kenangan lama Anda tentang masa-masa bersekolah. Dan jatuh cinta, tentunya. Rawan sekali terbawa perasaan mengingat cinta masa lalu~
Adegan-adegan yang menarik? Mungkin momen ketika Shone memanggil nama Nam pertama kali. Yap, ini berarti dia sudah tahu nama Nam entah darimana. Tentu hal seperti ini akan membuat siapa pun terlonjak bahagia.
Adegan sedih yang paling membuat emosi tercabik adalah ketika di kolam renang dan Nam mengetahui bahwa di seragam Shone tertera tanda love dari Pin, teman angkatannya. Entah apa maksudnya, namun Shone mengonfirmasi bahwa itu benar. Mungkin alasannya karena Top.
Adegan sedih lainnya adalah ketika Nam gagal ikut merayakan ulang tahun Cheer, lalu ketiga temannya ngambek. Waktu ketika Nam meminta maaf sambil menyanyi dan menangis itu cukup menyentuh. Salah satu adegan yang bagus dalam film.
Adegan lainnya yang bikin geregetan adalah ketika Shone akan pindah dan mulai membuka-buka buku memorinya tentang Nam. Ini rasanya momen paling emosional yang pernah ada. Rasanya… ah.
Oleh semua hal yang berkecamuk itu, untunglah film ini dihiasi dengan happy ending. Nam akhirnya diberi “kode” bahwa Shone menunggunya, yah meskipun kode itu baru tersampaikan setelah bertahun-tahun mereka berpisah (tuh yang lagi pisah sama seseorang, masih ada kesempatan, eh tapi kalau belum ditolak ya).

Baiklah, sepertinya itu saja review film kali ini. Mohon maaf tiba-tiba gatel mau nulis review. Oh iya, buat yang baca tulisan ini, siap-siap nonton ulang ya. Sepertinya akan ada angin yang memaksa kalian ingin menonton lagi. Selamat menikmati!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu