Langsung ke konten utama

Postingan

Lanjut

Warna merah telah memudar Bekas airmata telah mengering Pening kepala mulailah datang Mari lanjutkan kerja Noda hitam telah memudar Bulir keringat telah mengering Nyeri otot mulailah datang Mari lanjutkan kerja

Kali Ini Aku Tak Mau Senja

Mentari, jangan kau pergi Kali ini kuingin kau untuk tetap di sini Hadir dan temani Hancurkan gelisah dalam hati Mentari, jangan kau hilang Kali ini kunyatakan aku membenci malam Hitam kelam yang menyeruk legam Tak ingin ku berteman malam Mentari, kau di sini saja Kali ini aku tak mau senja Mega terlalu bingar bagiku yang remaja Jingga terlalu dingin untuk mengantar seorang raja dan raja, tak kan sanggup bertahan dalam rona Mentari, jangan kau pergi Aku tahu selama ini kubenci Aku ingat tak pernah kurelakan malam Aku paham dahulu senja adalah cinta Tapi kali ini aku tak mau semua Aku mau kau, mentari Setidaknya jangan pergi Hingga tlah sampai raga ini pada satu yang sempurna

[RANDOM STORY] - Welaus: Tantangan dalam Kehati-hatian

Jalanan berpuluh kilometer itu seringkali disebut Welaus. Tak berbeda dengan nama daerah dimana jalan tersebut merangsek. Orang-orang sini lebih sering menyebutnya dengan Welaos, entah karena penyebutannya memang begitu, entah karena telinga yang sedikit tidak sinkron. Jalan ini terbentang setelah batas Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka sudah ditemui, untuk setelahnya harus terlewat jika ingin ke pusat kota Malaka di Betun. Ah, apa nama kabupaten tersebut asing? Ngomong-ngomong, kedua kabupaten itu terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Aku yakin seorang penyair akan bisa melahirkan ratusan karya hanya dengan berdiam di Welaus. Alamnya terlampau indah untuk dilihat dari atas motor. Seandainya tak diburu waktu, akan sangat menyenangkan untuk menyempatkan diri menikmati keindahannya.  Dari atas jalanan tersebut dalam terlihat laut, yang entah laut itu apakah Laut Timor atau Laut Selatan (atau mungkin sebenarnya keduanya sama?), biru yang bercampur hijau begitu menyejukka...

[CERPEN] - Jin Dalam Botol

“Metode analisis ini termasuk jarang digunakan di kampus kita, sepertinya kamu harus cari referensi ke orang lain,” Bu Mutia akhirnya berbicara setelah kurang lebih setengah jam berkutat dengan tugas di depannya. Dini menatap dosen pembimbing skripsinya itu dengan tidak percaya. Gimana sih? Bukannya dulu Ibu yang mengusulkan metode itu untuk skripsi saya?” “Kira-kira saya harus cari referensi dimana, Bu?” tanya Dini, memutuskan untuk tidak menyuarakan pikirannya. Bu Mutia terdiam sejenak. Pulpen di tangannya diketuk-ketukkan ke meja yang ada di hadapannya, menunjukkan gelagat sedang berpikir. “Coba kamu yang orang yang namanya Antony,” kata dosen berusia empat puluhan itu. “setahu saya, di Indonesia, untuk metode ini dia yang paling paham.” “Nama lengkapnya siapa, Bu? Gelarnya?” tanya Dini. “Oh iya, kalau boleh tahu, beliau siapa?” “Namanya hanya Antony, pakai ‘y’, soal gelar dan sebagainya, kamu cari tahu sendiri, ya,” Bu Mutia mulai beranjak dari kursinya. “saya mau ada ...

Setapak Kita Berbeda

Setapak kita berbeda. Aku berjalan di sebelah kanan. Berada pada Timur tempat matahari terbit. Berjalan lurus dengan sedikit melenggok di beberapa bagian. Kau melangkah di sebelah kiri. Bersama Barat tempat matahari menghilang sejenak. Berjalan menyilang dan lurus jika telah tiba waktunya. Sesekali aku menoleh. Ke arahmu. Ke arah seseorang yang telah begitu lama menjadi kawan berjalan sekian lama. Ke arah manusia yang paling kuharapkan akan menjadi tempat mengaduku. Namun, kau tak lakukan hal yang sama. Matamu lurus menatap ke depan. Langkahmu tak terhenti barang sedetik pun. Satu-satu namun pasti. Satu-satu namun mantap. Dan aku selalu ingat waktu dimana kita berjalan pada satu jalan yang sama. Berjalan dengan cara yang sama. Berjalan dengan rintangan yang sama. Persis. Namun, kini setapak kita berbeda. Kau memilih kiri, aku memilih kanan. Tak ada yang salah. Tujuan kita sama. Begitu katamu, bukan? Ya, tak ada yang salah. Hanya saja aku merasa sepi. Tak terhitung ...

Salam Dariku, Bangga

Halo, Sombong Masih ingatkah kau tentangku? Ah, maaf, aku bercanda. Tentu kau tahu. Tentu kau tak mungkin lupa akan waktu yang selalu kita lalui bersama. Tak terpisah. Hingga satu waktu. Aku masih di sini, dan selalu miris melihatmu. Orang-orang baik tak menyukaimu. Hina menganggapmu. Mereka menjauhimu. Pergi, berusaha tak kembali mendekatimu. Namun, aku juga selalu iri melihatmu. Orang-orang baik tak menyukaimu. Hina menganggapmu. Mereka menjauhimu. Pergi, berusaha tak kembali mendekatimu. Orang-orang itu telah tahu kau buruk. Orang-orang telah sadar bahwa kau tak pantas didekati. Orang-orang melangkahkan kaki sejauh langkah yang tercipta, khusus agar tidak bersinggung denganmu. Dan mereka masih tidak sadar aku sama buruknya denganmu. Akulah satu dari sekian banyak penyebabmu. Tapi mereka tidak sadar. Mereka masih mendekatiku. Mereka berusaha mencari ketika tak menemukanku. Mereka mencintaiku sebesar mereka membencimu. Mereka hanya tak sadar. Akulah satu dari sekian banyak ...

[FLASH FICTION] - Hitam dan Malam Kelam

Pria itu berpakaian hitam. Kelam. Dalam gelapnya malam. Tak ada bintang dalam malam kali ini, seperti tak ada harapan dalam mimpi tergelapmu. Pria itu menyatu dengan bayangannya. Dengan bayangan malam. Dengan bayangan bulan yang hilang. Dengan cahaya bintang yang tak sudi tampak. Dan dia terus berjalan seorang diri. Tidak ada apa pun di sekitarnya selain kesunyian dan keheningan yang membunuh. Tidak ada. Namun dia tak menghentikan langkah. Melaju tanpa mengenal lelah. Nyawa-nyawa di sekitarnya mulai berdesus. Dia tentu orang jahat.                      Di balik jaket hitamnya mungkin tersimpan selongsong peluru, sebuah pistol, sebilah pisau, segenggam granat, dan segepok uang yang berhasil dirampok dari bank. Di saku celananya mungkin berisi ponsel mutakhir curian. Dan juga dompet berisi uang hasil copet. Atau masker untuk menutupi kedok. Nyawa-nyawa lain mulai menya...