Langsung ke konten utama

[PUISI] - Terdengarkah?

Terdengarkah, terdengarkah?
Dedaunan kering itu kini terjatuh tanpa kasur empuk
Kakek nenek itu mulai kelelahan mencari benih kapuk
Kayu-kayu itu jatuh, termakan usia dan mulai lapuk
Namun apakah ada satu yang mendengar?

Terdengarkah, terdengarkah?
Gegap gempita dari lampu jalan kota
Para muda dengan terlinga tertutup benda
Dentum musik dari ruangan penuh cahaya
Tentu semua mendengar, tentu semua tersadar

Dalam satu bumi, dalam satu dunia
Satu, dua, tiga tak mendengar
Satu, dua, tiga tak tersadar
Namun apakah mendengar diperlukan?
Apakah tersadar diperlukan?
Ataukah hanya ketakacuhan yang dibutuhkan?
Karena dunia semakin kejam... dengan dia sendiri yang mampu membunuh inangnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu