“Jangan suka
makan kulit ayam, bahaya!”
Sejak usiaku
menginjak angka yang menunjukkan bahwa psikologis manusia sudah berkembang, Mama
tak pernah sekalipun lupa mengucapkan kalimat itu padaku setiap kami selesai
makan ayam, apapun olahannya.
“Nanti kamu
sakit, kalau sakit kan suka nggak bisa tidur, hayo?”
Hanya jawaban
itu yang selalu diberikan setiap aku menanyakan alasan kenapa makanan itu tidak
boleh masuk ke perutku. Aku, yang saat-saat itu cuma seorang murid SD, tentu
percaya tanpa pikir panjang dengan semua omongan mama. Apalagis tidur adalah
salah satu hobiku yang tidak boleh diganggu gugat. Jika anak kecil seusiaku
saat itu lebih memilih untuk main di luar seusai pulang sekolah, aku tidak.
Bagiku saat itu, bermain di luar dengan teman-teman kompleks rumah pada waktu
sore hari saja sudah cukup, membiarkan waktu siangku tergunakan untuk
mengarungi lautan mimpi.
Seiring
berjalannya waktu, seiring usia yang semakin bertambah, rasa penasaran selalu
membimbingku untuk mencari tahu apa yang membuat mama benar-benar gethol untuk
melarang memakan kulit ayam.
Usia SMP, aku
masih belum menemukan apa yang salah dengan kulit ayam, namun aku masih seratus
persen tidak pernah melanggar larangan itu. Pernah suatu ketika aku makan di
kantin dengan lauk ayam goreng. Detik-detik terakhir menyelesaikan makan,
teman-temanku masih terlihat biasa saja melihat aku menyisakan kulit ayam. Ah,
mungkin untuk dimakan paling terakhir. Namun, tepat di waktu ketika aku
mendeklarasikan agenda makan selesai, mereka yang saat itu bertiga memandangku
dengan tatapan penuh keheranan.
“Kamu nggak
suka kulit ayam?” tanya Rasya yang saat itu terlihat masih menikmati makannya.
“Padahal itu
bagian ayam yang paling enak, lho!” sambung Deno masih menatapku aneh.
“Serius itu
kulit ditinggalin gitu aja?” tanya Faris menampakkan ekspresi wajah yang sama
dengan kedua temanku yang lain. “Buat aku aja sini!”
Giliranku yang
menatap mereka semua dengan bingung. Rasya meninggalkan buncis di piringnya,
Deno tampak tidak berminat sama tempe yang merupakan lauk bonus, dan Faris
terlihat tidak ingin menghabiskan wortel potong yang tersedia. Lantas, kenapa
mereka harus menatapku begitu aneh seakan aku telah melakukan suatu tindakan
yang sebenarnya kriminal, tapi aku tidak tahu?
“Mama suka
ngelarang makan kulit ayam, katanya nggak baik,” kataku menjelaskan. “Kalau
kalian pada mau, ini ambil aja.”
Dan tanpa
menunggu komandoku lagi, ketiga bocah SMP yang baru berganti warna celana 6
bulan lalu itu langsung berebut mengambil ‘sisa’ ayam itu. Sedikit banyak aku
penasaran, apa yang sebenarnya kulewatkan dengan tidak memakan kulit ayam ini?
Memasuki masa
SMA, pencarian informasi tentang kulit ayam olehku tidak berhenti begitu saja. Satu
ucapan terima kasih untuk guru biologi kelas 11, yang pernah menceritakan bahwa
kulit ayam mengandung lemak jenuh yang kalau dimakan secara berlebihan bisa
mengakibatkan kolesterol di saat tua nanti. Juga, pastinya lemak bisa membuat
seseorang memiliki kelebihan berat badan.
Rasa penasaran
terhadap kulit ayam yang terpupuk sejak SD menjadikanku manusia yang suka
mempelajari hal-hal tentang makhluk hidup. Jika remaja seusiaku lebih memilih
menjadi anak basket, futsal, atau anak paskib untuk terlihat lebih keren di setiap
sudut sekolah, aku memilih untuk tergabung dalam ekskul karya ilmiah. Di
kelompok yang isi dua pertiga anggotanya adalah orang-orang yang berlainan
jenis kelamin denganku ini, dalam kurun waktu setahun kami memenangkan tiga
juara lomba karya ilmiah tingkat SMA se-regional dari berbagai penyelenggara. Ingin
tahu tema yang kami angkat? Seputar kulit ayam, lemak jenuh, dan ganggang biru.
Dua tema pertama tentu terlihat siapa yang mengusulkan, bukan? Dua kali
berturut-turut, kami mendapat juara 1 untuk lomba karya ilmiah dari dua
penyelenggara berbeda. Sebenarnya, untuk tema ketiga pun aku ingin mengusulkan
yang berhubungan rasa penasaranku. Namun karena yang lain pada protes bosan,
akhirnya tema beralih ke topik sekitar ganggang biru itu. Alhasil, kami harus
puas mendapat juara 3.
Masa-masa SMA
adalah masa… ya, cinta. Sangat aneh memang kelihatannya, ketika dari
satu orang mengungkapkan perasaan, lalu setelahnya dua orang berpasangan akan kelihatan
bersama selalu. Jika ditanya apa aku sedang jatuh cinta, apa ada orang yang
sedang aku suka, maka jawabanku adalah mungkin. Bisa tidak, bisa iya. Bisa saja
saat ini tidak, tapi siapa mengerti semenit kemudian? Perasaan manusia adalah
satu hal yang begitu tak tertebak, misterius.
Lalu apakah
kehidupan SMA yang kumiliki hampa? Tidak juga. Bersenang-senang bersama
orang-orang yang sudah kuanggap sahabat sendiri kurasa cukup untuk mengisi
hari-hariku. Para anggota Karya Ilmiah Remaja (KIR) di ekskul yang kuikuti juga
menyenangkan. Seringkali, kami mengadakan jalan-jalan atau makan-makan keluar
baik dengan uang sendiri maupun hasil lomba.
Dan, ‘komitmen’
yang kubangun sejak aku masih SD hancur ketika aku memasuki usia 17 lebih
beberapa bulan…
Saat itu kali
ketiga kami menjuarai lomba KIR, dengan terpaksa memajang senyum dengan predikat
juara 3 di genggaman. Bu Rahmah, guru pembimbing kami, mengajak kami semua
makan-makan di sebuah restoran cepat saji terbesar di kota kami. Sebagai bentuk
apresiasi kegigihan kami mendapat tiga predikat juara adalah alasan beliau
untuk mengajak kami. Semua gembira, tentu. Namun karena pada saat itu banyak
aktivitas yang terjadi di sekolah, akhirnya hanya ada 4 orang yang bisa ikut
ditraktir pembimbing kami itu.
Aku, Vira, Rasya,
dan Gea. Kami berempat akhirnya pergi secara berkelompok tanpa Bu Rahmah yang
mendadak ada acara di hari H. Secara garis besar, tidak ada yang spesial di
hari itu. Kecuali… bahwa pada akhirnya aku jatuh.
“Kulit ayamnya
kamu sisihkan gitu buat apa?” kata Vira smenatapku heran.
“Buat dimakan
paling akhir kali, Vir,” sambung Gea. “Save the best for the last.”
“Haha… kalian
belum tahu aja. Si Nino ini memang sejak kecil nggak suka makan tuh bagian,”
Rasya menjelaskan.
Kini satu lagi
tatapan heran tercipta untukku, tatapan Gea.
“Lo serius, No?
Maksud gue… itu bagian favorit banyak orang dan elo menolaknya?!” Gea melotot
ke arahku. Oke, apa aku terlihat seaneh itu? Bukankah kita sama-sama sudah tahu
kejelekan kulit ayam selama ini? Mengapa sebegitu seram tatapan tanda kontra
darinya untuk menentang hal yang berlawanan dengan ideologinya?
Tanpa satu
komando pun tiba-tiba Vira mengambil sedikit potongan kulit ayam yang
kusisihkan dan menyuapkan ke arah mulutku yang hendak menyangkal omongan Gea.
Aku tidak ingat pasti apa yang terjadi selanjutnya, yang jelas saat itu aku
hanya melihat wajah Vira di sekelilingku. Semua orang serasa musnah. Dan, rasa
kulit ayam goreng yang saat ini berada di mulutku terasa lebih nikmat
berkali-kali lipat dari rasa yang pernah kucicipi 12 tahun lalu.
Aku jatuh. Semudah itu.
Sesederhana seseorang yang memberikan secuil ‘kulit ayam’ untuk dirasakan…
Semenjak saat
itu perasaanku ke Vira berubah. Secara kasat mata, kami masih berteman. Namun,
secara apa yang aku rasakan, bibit itu tumbuh lebih dari sekadar rasa pertemanan.
Seringkali aku, yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua KIR, membuat
pertemuan-pertemuan rutin yang sebenarnya kurang pas untuk dilakukan.
Pernahkah
kalian merasakannya? Ketika jatuh cinta dengan seseorang, dan selalu ada perasaan
untuk ingin selalu bertemu?
Semakin intens
dan dekat hubunganku dengan Vira. Sebagai teman. Ya, karena aku sama sekali
belum bisa mengonfirmasi keadaan perasaannya. Hal bodoh yang aku lakukan selama
memiliki perasaan ini adalah bahwa aku sering mengajak beberapa temanku,
termasuk Vira, untuk kutraktir. Aneh. Memang. Dan, yang aku makan akan selalu
ayam yang selalu kuhabiskan sampai bersih. Ya. Termasuk juga kulitnya.
Aku sudah lupa
apa saja kandungan buruk yang ada di kulit ayam. Seperti pada kebanyakan cinta
(entah ini omong kosong atau bukan), aku menyingkirkan semua logika yang
selama ini kubangun.
Lalu, hadir
waktu dimana aku bisa makan berdua dengan Vira. Tak perlu detail alasannya,
yang jelas saat itu malam hari dan kami sedang terjebak macet sehingga
memutuskan untuk makan di satu tempat makan dengan tema ayam.
“Apa alasan
kamu suka kulit ayam?” tanyaku yang saat itu sudah hampir menghabiskan tiga
perempat makananku.
“Nggak harus
ada sebuah alasan kali bukan menyukai satu hal…” katanya sambil masih menatap ayamnya.
“Tapi satu hal
itu pasti pernah ada peranan penting dong dalam hidupmu buat menyukainya?”
kejarku.
Tak ada suara
setelahnya. Beberapa saat kami terdiam. Aku diam-diam memandanginya, dan selalu
merasa satu hal yang sama.
“Dari awal aku
memang suka sama kulit ayam,” Vira memecah keheningan. “Namun seseorang lebih
memperkuat perasaan suka itu…”
Jantungku tak
pernah berdetak secepat itu sebelumnya. Detak itu tiba-tiba kurasakan begitu
mendominasi sehingga susah bagi mulutku untuk mengambil alih.
“Siapa?” kataku
akhirnya, setelah susah payah mengendalikan detak.
“Rendra
Aditama. Pacarku,”
Cukup satu kata
untuk membuat ekspresiku berubah. Cukup satu untuk menghentikan detak yang
sempat menggila selama beberapa detik. Cukup satu, untuk mematahkan satu potong
hati yang keberadaannya selama ini tak kupedulikan.
Tak ada yang
kuingat lagi setelahnya. Tidak ada satu kepedulianku untuk mengingat, meski ada
beberapa ingatan yang selalu mencuat. Rendra Aditama, raut Vira yang berubah,
dan… bagaimana mereka akhirnya meninggalkanku dengan satu perasaan kosong yang
menyiksa.
Dengan perasaan
campur aduk, dengan raut muka lelah yang juga tak kalah campur aduk, aku
akhirnya kembali ke kediamanku. Aku masuk rumah dengan langkah gontai, sempat
kakak dan adik menanyai kenapa aku lemas, tapi tidak aku jawab. Aku hanya berlalu,
sampai sebuah pertanyaan Mama menyeruak.
“Kamu kenapa,
No?” tanya Mama.
Aku memandang
orang yang melahirkanku itu. Seketika saja semua nasehat-nasehat yang diberikan
dari aku kecil mencuat ke permukaan otakku. Mengingatkanku akan larangan
tentang memakan kulit ayam. Ya, kulit ayam itu berbahaya. Dia telah
mengantarkanku pada sebuah sakit hati yang mencekam.
“Nggak papa,
Ma, cuma gara-gara kulit ayam.”
Komentar
Posting Komentar