Langsung ke konten utama

[CERPEN] - Kulit Ayam

            “Jangan suka makan kulit ayam, bahaya!”
Sejak usiaku menginjak angka yang menunjukkan bahwa psikologis manusia sudah berkembang, Mama tak pernah sekalipun lupa mengucapkan kalimat itu padaku setiap kami selesai makan ayam, apapun olahannya.
“Nanti kamu sakit, kalau sakit kan suka nggak bisa tidur, hayo?”
Hanya jawaban itu yang selalu diberikan setiap aku menanyakan alasan kenapa makanan itu tidak boleh masuk ke perutku. Aku, yang saat-saat itu cuma seorang murid SD, tentu percaya tanpa pikir panjang dengan semua omongan mama. Apalagis tidur adalah salah satu hobiku yang tidak boleh diganggu gugat. Jika anak kecil seusiaku saat itu lebih memilih untuk main di luar seusai pulang sekolah, aku tidak. Bagiku saat itu, bermain di luar dengan teman-teman kompleks rumah pada waktu sore hari saja sudah cukup, membiarkan waktu siangku tergunakan untuk mengarungi lautan mimpi.
Seiring berjalannya waktu, seiring usia yang semakin bertambah, rasa penasaran selalu membimbingku untuk mencari tahu apa yang membuat mama benar-benar gethol untuk melarang memakan kulit ayam.
Usia SMP, aku masih belum menemukan apa yang salah dengan kulit ayam, namun aku masih seratus persen tidak pernah melanggar larangan itu. Pernah suatu ketika aku makan di kantin dengan lauk ayam goreng. Detik-detik terakhir menyelesaikan makan, teman-temanku masih terlihat biasa saja melihat aku menyisakan kulit ayam. Ah, mungkin untuk dimakan paling terakhir. Namun, tepat di waktu ketika aku mendeklarasikan agenda makan selesai, mereka yang saat itu bertiga memandangku dengan tatapan penuh keheranan.
“Kamu nggak suka kulit ayam?” tanya Rasya yang saat itu terlihat masih menikmati makannya.
“Padahal itu bagian ayam yang paling enak, lho!” sambung Deno masih menatapku aneh.
“Serius itu kulit ditinggalin gitu aja?” tanya Faris menampakkan ekspresi wajah yang sama dengan kedua temanku yang lain. “Buat aku aja sini!”
Giliranku yang menatap mereka semua dengan bingung. Rasya meninggalkan buncis di piringnya, Deno tampak tidak berminat sama tempe yang merupakan lauk bonus, dan Faris terlihat tidak ingin menghabiskan wortel potong yang tersedia. Lantas, kenapa mereka harus menatapku begitu aneh seakan aku telah melakukan suatu tindakan yang sebenarnya kriminal, tapi aku tidak tahu?
“Mama suka ngelarang makan kulit ayam, katanya nggak baik,” kataku menjelaskan. “Kalau kalian pada mau, ini ambil aja.”
Dan tanpa menunggu komandoku lagi, ketiga bocah SMP yang baru berganti warna celana 6 bulan lalu itu langsung berebut mengambil ‘sisa’ ayam itu. Sedikit banyak aku penasaran, apa yang sebenarnya kulewatkan dengan tidak memakan kulit ayam ini?
Memasuki masa SMA, pencarian informasi tentang kulit ayam olehku tidak berhenti begitu saja. Satu ucapan terima kasih untuk guru biologi kelas 11, yang pernah menceritakan bahwa kulit ayam mengandung lemak jenuh yang kalau dimakan secara berlebihan bisa mengakibatkan kolesterol di saat tua nanti. Juga, pastinya lemak bisa membuat seseorang memiliki kelebihan berat badan.
Rasa penasaran terhadap kulit ayam yang terpupuk sejak SD menjadikanku manusia yang suka mempelajari hal-hal tentang makhluk hidup. Jika remaja seusiaku lebih memilih menjadi anak basket, futsal, atau anak paskib untuk terlihat lebih keren di setiap sudut sekolah, aku memilih untuk tergabung dalam ekskul karya ilmiah. Di kelompok yang isi dua pertiga anggotanya adalah orang-orang yang berlainan jenis kelamin denganku ini, dalam kurun waktu setahun kami memenangkan tiga juara lomba karya ilmiah tingkat SMA se-regional dari berbagai penyelenggara. Ingin tahu tema yang kami angkat? Seputar kulit ayam, lemak jenuh, dan ganggang biru. Dua tema pertama tentu terlihat siapa yang mengusulkan, bukan? Dua kali berturut-turut, kami mendapat juara 1 untuk lomba karya ilmiah dari dua penyelenggara berbeda. Sebenarnya, untuk tema ketiga pun aku ingin mengusulkan yang berhubungan rasa penasaranku. Namun karena yang lain pada protes bosan, akhirnya tema beralih ke topik sekitar ganggang biru itu. Alhasil, kami harus puas mendapat juara 3.
Masa-masa SMA adalah masa… ya, cinta. Sangat aneh memang kelihatannya, ketika dari satu orang mengungkapkan perasaan, lalu setelahnya dua orang berpasangan akan kelihatan bersama selalu. Jika ditanya apa aku sedang jatuh cinta, apa ada orang yang sedang aku suka, maka jawabanku adalah mungkin. Bisa tidak, bisa iya. Bisa saja saat ini tidak, tapi siapa mengerti semenit kemudian? Perasaan manusia adalah satu hal yang begitu tak tertebak, misterius.
Lalu apakah kehidupan SMA yang kumiliki hampa? Tidak juga. Bersenang-senang bersama orang-orang yang sudah kuanggap sahabat sendiri kurasa cukup untuk mengisi hari-hariku. Para anggota Karya Ilmiah Remaja (KIR) di ekskul yang kuikuti juga menyenangkan. Seringkali, kami mengadakan jalan-jalan atau makan-makan keluar baik dengan uang sendiri maupun hasil lomba.
Dan, ‘komitmen’ yang kubangun sejak aku masih SD hancur ketika aku memasuki usia 17 lebih beberapa bulan…
Saat itu kali ketiga kami menjuarai lomba KIR, dengan terpaksa memajang senyum dengan predikat juara 3 di genggaman. Bu Rahmah, guru pembimbing kami, mengajak kami semua makan-makan di sebuah restoran cepat saji terbesar di kota kami. Sebagai bentuk apresiasi kegigihan kami mendapat tiga predikat juara adalah alasan beliau untuk mengajak kami. Semua gembira, tentu. Namun karena pada saat itu banyak aktivitas yang terjadi di sekolah, akhirnya hanya ada 4 orang yang bisa ikut ditraktir pembimbing kami itu.
Aku, Vira, Rasya, dan Gea. Kami berempat akhirnya pergi secara berkelompok tanpa Bu Rahmah yang mendadak ada acara di hari H. Secara garis besar, tidak ada yang spesial di hari itu. Kecuali… bahwa pada akhirnya aku jatuh.
“Kulit ayamnya kamu sisihkan gitu buat apa?” kata Vira smenatapku heran.
“Buat dimakan paling akhir kali, Vir,” sambung Gea. “Save the best for the last.
“Haha… kalian belum tahu aja. Si Nino ini memang sejak kecil nggak suka makan tuh bagian,” Rasya menjelaskan.
Kini satu lagi tatapan heran tercipta untukku, tatapan Gea.
“Lo serius, No? Maksud gue… itu bagian favorit banyak orang dan elo menolaknya?!” Gea melotot ke arahku. Oke, apa aku terlihat seaneh itu? Bukankah kita sama-sama sudah tahu kejelekan kulit ayam selama ini? Mengapa sebegitu seram tatapan tanda kontra darinya untuk menentang hal yang berlawanan dengan ideologinya?
Tanpa satu komando pun tiba-tiba Vira mengambil sedikit potongan kulit ayam yang kusisihkan dan menyuapkan ke arah mulutku yang hendak menyangkal omongan Gea. Aku tidak ingat pasti apa yang terjadi selanjutnya, yang jelas saat itu aku hanya melihat wajah Vira di sekelilingku. Semua orang serasa musnah. Dan, rasa kulit ayam goreng yang saat ini berada di mulutku terasa lebih nikmat berkali-kali lipat dari rasa yang pernah kucicipi 12 tahun lalu.
Aku jatuh. Semudah itu. Sesederhana seseorang yang memberikan secuil ‘kulit ayam’ untuk dirasakan…
Semenjak saat itu perasaanku ke Vira berubah. Secara kasat mata, kami masih berteman. Namun, secara apa yang aku rasakan, bibit itu tumbuh lebih dari sekadar rasa pertemanan. Seringkali aku, yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua KIR, membuat pertemuan-pertemuan rutin yang sebenarnya kurang pas untuk dilakukan.
Pernahkah kalian merasakannya? Ketika jatuh cinta dengan seseorang, dan selalu ada perasaan untuk ingin selalu bertemu?
Semakin intens dan dekat hubunganku dengan Vira. Sebagai teman. Ya, karena aku sama sekali belum bisa mengonfirmasi keadaan perasaannya. Hal bodoh yang aku lakukan selama memiliki perasaan ini adalah bahwa aku sering mengajak beberapa temanku, termasuk Vira, untuk kutraktir. Aneh. Memang. Dan, yang aku makan akan selalu ayam yang selalu kuhabiskan sampai bersih. Ya. Termasuk juga kulitnya.
Aku sudah lupa apa saja kandungan buruk yang ada di kulit ayam. Seperti pada kebanyakan cinta (entah ini omong kosong atau bukan), aku menyingkirkan semua logika yang selama ini kubangun.
Lalu, hadir waktu dimana aku bisa makan berdua dengan Vira. Tak perlu detail alasannya, yang jelas saat itu malam hari dan kami sedang terjebak macet sehingga memutuskan untuk makan di satu tempat makan dengan tema ayam.
“Apa alasan kamu suka kulit ayam?” tanyaku yang saat itu sudah hampir menghabiskan tiga perempat makananku.
“Nggak harus ada sebuah alasan kali bukan menyukai satu hal…” katanya sambil masih menatap ayamnya.
“Tapi satu hal itu pasti pernah ada peranan penting dong dalam hidupmu buat menyukainya?” kejarku.
Tak ada suara setelahnya. Beberapa saat kami terdiam. Aku diam-diam memandanginya, dan selalu merasa satu hal yang sama.
“Dari awal aku memang suka sama kulit ayam,” Vira memecah keheningan. “Namun seseorang lebih memperkuat perasaan suka itu…”
Jantungku tak pernah berdetak secepat itu sebelumnya. Detak itu tiba-tiba kurasakan begitu mendominasi sehingga susah bagi mulutku untuk mengambil alih.
“Siapa?” kataku akhirnya, setelah susah payah mengendalikan detak.
“Rendra Aditama. Pacarku,
Cukup satu kata untuk membuat ekspresiku berubah. Cukup satu untuk menghentikan detak yang sempat menggila selama beberapa detik. Cukup satu, untuk mematahkan satu potong hati yang keberadaannya selama ini tak kupedulikan.
Tak ada yang kuingat lagi setelahnya. Tidak ada satu kepedulianku untuk mengingat, meski ada beberapa ingatan yang selalu mencuat. Rendra Aditama, raut Vira yang berubah, dan… bagaimana mereka akhirnya meninggalkanku dengan satu perasaan kosong yang menyiksa.
Dengan perasaan campur aduk, dengan raut muka lelah yang juga tak kalah campur aduk, aku akhirnya kembali ke kediamanku. Aku masuk rumah dengan langkah gontai, sempat kakak dan adik menanyai kenapa aku lemas, tapi tidak aku jawab. Aku hanya berlalu, sampai sebuah pertanyaan Mama menyeruak.
“Kamu kenapa, No?” tanya Mama.
Aku memandang orang yang melahirkanku itu. Seketika saja semua nasehat-nasehat yang diberikan dari aku kecil mencuat ke permukaan otakku. Mengingatkanku akan larangan tentang memakan kulit ayam. Ya, kulit ayam itu berbahaya. Dia telah mengantarkanku pada sebuah sakit hati yang mencekam.
“Nggak papa, Ma, cuma gara-gara kulit ayam.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu