Klik.
Angin
khas sawah pedesaan menyambut langkah pertama yang kuciptakan setelah keluar
dari mobil. Padi-padi masih belum menunjukkan kehadirannya, hanya hamparan
hijau yang terlihat dari tempatku kini berdiri. Matahari sudah beranjak dari
kasurnya sejak 3 jam lalu, hingga hanya hangat yang disisakannya kini. Biru
pegunungan masih terlihat mengagumkan dari sini. Sebuah kesempurnaan alam yang
tak pernah gagal membuatku takjub.
“Mas
Toni mau istirahat dulu? Rumah bapak sudah disiapkan kalau mas masih lelah,”
kata Dani, anak dari Pak Pras yang sepertinya ditugaskan untuk menyambutku.
“Nggak
usah repot-repot, Dan,” kataku menolak. “saya di sini cuma sehari kok,
nanti sore sudah balik ke kota.”
“Baik,
Mas. Nanti siang makan di rumah ya,” kata Dani lagi.
“Eh nggak
usah nggak apa-apa, Dan, jangan terlalu ngerepotin!”
responku, merasa tidak enak dengan semua perlakuan orang-orang ini.
“Ndak
papa, Mas. Sudah kewajiban kami juga menerima tamu yang berkunjung ke desa
ini,” Dani berkata sambil tersenyum.
“Yaudah,
nanti saya ke sana…” aku menyerah, ingat semua sifat asli sebagian besar
penduduk desa. “sekarang saya mau keliling-keliling dulu ya.”
Dani
sempat menawarkan untuk mengantar dan menjadi tour guide untukku, tapi
kutolak dengan halus dengan alasan aku ingin menikmati semua kenangan masa
lalu. Ya, desa ini adalah tempat dimana aku menghabiskan waktu balita hingga
lulus SD, sebelum orang tua mengajak pindah ke kota yang terpaut dua provinsi
dari sini. Wilayah ini menempati daerah terluas dari memoriku. Sejak SD dulu
aku sering pindah tempat, dan di desa inilah waktu hidup kuhabiskan paling lama.
Langkah
kaki yang kubiarkan berjalan sesukanya mengantarkanku sampai pada kompleks
persawahan mantan milik nenek. Sawah itu dijual semenjak kami pindah, dengan
alasan yang sama kenapa kami harus meninggalkan desa ini. Nenek meninggal. Dan,
berada di sini hanya membawa kenangan pahit masa lalu.
Aku
bersiap berbalik sampai secara tidak sadar melihat pohon mangga yang sengaja
ditanam di pematang sawah agar para petani bisa berteduh. Ingatanku mencatat
dengan tepat bahwa dulu tempat di bawah pohon adalah favoritku. Langkah-langkah
kecil untuk mencapai tempat ini, cara-cara bermain yang mengasyikkan… semuanya terekam
dengan baik. Tak lupa, siang hari memejamkan mata di sini adalah hal terbaik
yang bisa kulakukan dulu. Sempurna…
“Maaf,
Pak, kami mau main di sini, boleh?”
Tiba-tiba
saja serombongan anak-anak membuatku tersadar dari lamunan tentang masa kecil
itu. Anak-anak desa masih sesopan dulu ternyata.
“Permisi, Pak, kami mau main… boleh?”
“Ndak, ndak boleh. Udah sana pulang aja, nanti mak kalian nyariin!”
Aku
tersenyum sendiri mengingat kejadian dulu. Semenyebalkan itukah orang dewasa?
“Boleh
kok, Dik, hati-hati ya mainnya.” Kataku sambil berlalu, menyisakan tawa
keceriaan dari keempat anak itu.
Langkah
kaki yang kubiarkan kini mengantarkan hingga tempat ‘sempit’ yang cukup jauh
dari awal kedatanganku tadi. Masih di persawahan, tapi di sekitar sini ada
sungai kecil yang airnya mengalir. Sedikit kecewa aku pertama melihat sungai
yang sebenarnya cukup kecil, sekarang lebih menyempit. Namun, kejernihan sungai
itu masih mirip seperti saat aku pertama menemukan tempat ini dulu.
Tanaman-tanaman bunga mahkota (seperti itu aku selalu menyebutnya) masih tumbuh
dengan rimbun di beberapa titik samping sungai. Kepik-kepik beraneka warna,
mulai dari putih susu hingga emas, terlihat bertengger di dedaunannya. Sebuah
dilema membiarkan mereka tetap di sana, karena keindahan mereka tidak
senantiasa melepaskan kodrat mereka sebagai makhluk hidup. Kotoran kepik sedikit-banyak
mengganggu penglihatan mereka yang ingin mendekatinya.
Aku
menggulung celana jeans dan mulai bertingkah seperti anak-anak,
mengayunkan kaki di air hingga menimbulkan suara kecipuk. Untunglah orang-orang
yang sedang sibuk dengan sawahnya masing-masing teralihkan perhatiannya dari
aktivitasku. Aliran air ini begitu menentramkan, membuat segala ingatan tentang
kota dan pekerjaan menjadi terlupakan sementara.
Matahari
yang berada tepat di puncak kepala membuatku kembali ke rumah Pak Pras untuk
makan siang. Sejujurnya aku tidak enak untuk terlalu merepotkan warga sini,
tapi akan sangat tidak sopan untuk menolak niat baik Pak Pras dalam bentuk
makan bersama.
Keluarga
kepala desa ini menyambut dengan hangat, seperti aku adalah saudara mereka yang
sudah lama hilang. Ah, benar-benar suasana yang kurindukan.
Makan
siang yang disajikan keluarga ini dengan senyuman benar-benar menggugah
seleraku. Ikan gurame goreng, sambal terasi, daun singkong rebus, tahu dan
tempe goreng kering, nasi di bakul, dan buah pisang yang terlihat lebih
menggiurkan daripada yang terpajang di supermarket…
“Cuma
bisa ngajak makan sederhana gini, Mas,” kata Pak Pras.
Sederhana?
Pak, ini makanan termewah yang pernah saya makan! Ini terbaik. Tidak ada sambal
terasi dan daun singkong rebus seenak ini di kota!
Aku
melahap apa yang terhidang di meja dengan antusias. Sesekali kulihat Bu Pras
dan Pak Pras melirik ke arahku dan tersenyum. Apa aku terlihat aneh untuk
terlalu bahagia dengan makanan ini? Atau mereka senang karena aku makan dengan
lahap?
Usai
makan siang kuhabiskan waktuku dengan berbincang-bincang dengan Pak Pras
sekeluarga, ber-flashback ria dan menanyakan sejauh mana perkembangan pembangunan
desa ini. Obrolan ringan itu berakhir ketika aku akan pamit keliling sebentar
sebelum kembali ke kota. Sudah jam tiga, dua jam lagi aku harus kembali.
Aku
berjalan asal. Maksudku ‘keliling’ adalah benar-benar berkeliling… tanpa tujuan
akhir. Perhatianku tertuju pada anak-anak yang bermain petak umpet di halaman
rumah luas milik seorang tetangga lamaku yang kini ditempati anaknya.
“Aku
pulang duluan ya, males jaga terus!” kata seorang anak laki-laki
berambut keriting.
“Curang,
nggak boleh gitu dong, Dim,” balas anak laki-laki lain yang suaranya
cempreng.
“Iya
nih, Dimas cemen!” Kali ini laki-laki yang bertubuh paling tinggi yang bicara.
“Eh
enggak ya!” Anak bernama Dimas itu berkata. “Oke, kita main lagi, kali ini aku nggak
bakal kalah!”
Lima
anak itu kembali berlarian, bersembunyi, dan saling berebut sampai ke tiang
jaga lebih awal daripada ‘musuh’-nya. Kegiatan mereka sekali lagi menghadirkan
memori lama yang kembali menyeruak.
“Siapa
yang salah, De? Bukan aku kan?”
“Jangan
nangis, Dea… yaudah deh aku yang jaga.”
Semua
memori itu kembali hadir. Kenangan-kenangan lain mengikuti, semua kejadian masa
kecil. Ketika aku dan teman-temanku bermain petak umpet, ketika kami bersama
bermain ke sungai. Kami, dari tiga orang laki-laki, ada terselip satu perempuan
yang selalu bermain bersama. Kami selalu kemanapun bersama-sama, meski terpisah
di kelas yang berbeda. Aku ingat, mereka orang-orang yang jahat. Haha… tapi
tidak, mereka hanya terlalu kecil untuk mengerti arti bersedih. Tidak ada
satupun dari mereka yang sedih ketika aku mengatakan akan pindah ke kota. Sayangnya,
kini tidak ada satupun dari mereka yang stay di desa ini. Pak Pras
bilang, mereka masing-masing merantau ke tempat-tempat berbeda. Dea,
satu-satunya cewek di teman bermainku, ikut suaminya ke Surabaya. Dengan segala
perasaan yang masih berkecambuk, aku meninggalkan tempat kembali ke rumah Pak
Pras.
Tepat
pukul empat sore aku berpamitan, lebih awal satu jam dari yang kurencanakan.
Setelah mengucap terima kasih, aku segera mengemudikan mobil melintasi jalanan
desa dan meninggalkan semua kenanganku yang tidak akan lagi jadi kenangan…
“Halo,
Toni?”
Suara
di seberang telepon terdengar terburu-buru. Pak Faris, bos dari proyek yang sedang
kujalani.
“Iya,
Pak. Maaf daritadi di desa susah sinyal…” kataku menjawab.
“Jadi
gimana keadaan desa itu? Apa sanggup dibangun sebuah pabrik pengolahan potato
chips?”
Aku
menghela napas cukup panjang. Ya, semua kenangan itu akan hilang… atau
tidak, proyek dari pabrik ini mungkin malah akan semakin memperkuat kenangan
itu.
“Sanggup,
Pak. Lokasi di sana benar-benar bagus!” Kataku berapi-api, berusaha lebih
meyakinkan.
“Bagus,
jadi dari sekarang, bisa kamu siapkan perlengkapannya?”
“Siap,
Pak.”
“Tapi
saya dengar, desa itu merupakan kampung tempat kamu besar ketika SD, benar?”
Tolong
jangan diulangi pertanyaan itu…
“Benar,
Pak,” jawabku setelah berdamai dengan perasaan. “Kenapa ya?”
“Apa
kamu nggak papa bangun pabrik di situ?”
Aku
menghela napas panjang, berpikir selama sekian detik hingga cukup untuk membuat
Pak Faris bertanya ‘kamu masih di sana?’. Sekelebat kenanganku mengantarkan
pada dilema terbesar dalam hidupku. Tapi, hanya bergantung pada perasaan hanya
akan membuat semakin terpuruk pada keadaan.
“Tidak
apa-apa, Pak. Lagipula, tempat itu hanya sekadar kampung…”
Komentar
Posting Komentar