Langsung ke konten utama

[CERPEN] - Hanya Kampung

            Klik.
Angin khas sawah pedesaan menyambut langkah pertama yang kuciptakan setelah keluar dari mobil. Padi-padi masih belum menunjukkan kehadirannya, hanya hamparan hijau yang terlihat dari tempatku kini berdiri. Matahari sudah beranjak dari kasurnya sejak 3 jam lalu, hingga hanya hangat yang disisakannya kini. Biru pegunungan masih terlihat mengagumkan dari sini. Sebuah kesempurnaan alam yang tak pernah gagal membuatku takjub.
“Mas Toni mau istirahat dulu? Rumah bapak sudah disiapkan kalau mas masih lelah,” kata Dani, anak dari Pak Pras yang sepertinya ditugaskan untuk menyambutku.
Nggak usah repot-repot, Dan,” kataku menolak. “saya di sini cuma sehari kok, nanti sore sudah balik ke kota.”
“Baik, Mas. Nanti siang makan di rumah ya,” kata Dani lagi.
“Eh nggak usah nggak apa-apa, Dan, jangan terlalu ngerepotin!” responku, merasa tidak enak dengan semua perlakuan orang-orang ini.
Ndak papa, Mas. Sudah kewajiban kami juga menerima tamu yang berkunjung ke desa ini,” Dani berkata sambil tersenyum.
“Yaudah, nanti saya ke sana…” aku menyerah, ingat semua sifat asli sebagian besar penduduk desa. “sekarang saya mau keliling-keliling dulu ya.”
Dani sempat menawarkan untuk mengantar dan menjadi tour guide untukku, tapi kutolak dengan halus dengan alasan aku ingin menikmati semua kenangan masa lalu. Ya, desa ini adalah tempat dimana aku menghabiskan waktu balita hingga lulus SD, sebelum orang tua mengajak pindah ke kota yang terpaut dua provinsi dari sini. Wilayah ini menempati daerah terluas dari memoriku. Sejak SD dulu aku sering pindah tempat, dan di desa inilah waktu hidup kuhabiskan paling lama.
Langkah kaki yang kubiarkan berjalan sesukanya mengantarkanku sampai pada kompleks persawahan mantan milik nenek. Sawah itu dijual semenjak kami pindah, dengan alasan yang sama kenapa kami harus meninggalkan desa ini. Nenek meninggal. Dan, berada di sini hanya membawa kenangan pahit masa lalu.
Aku bersiap berbalik sampai secara tidak sadar melihat pohon mangga yang sengaja ditanam di pematang sawah agar para petani bisa berteduh. Ingatanku mencatat dengan tepat bahwa dulu tempat di bawah pohon adalah favoritku. Langkah-langkah kecil untuk mencapai tempat ini, cara-cara bermain yang mengasyikkan… semuanya terekam dengan baik. Tak lupa, siang hari memejamkan mata di sini adalah hal terbaik yang bisa kulakukan dulu. Sempurna…
“Maaf, Pak, kami mau main di sini, boleh?”
Tiba-tiba saja serombongan anak-anak membuatku tersadar dari lamunan tentang masa kecil itu. Anak-anak desa masih sesopan dulu ternyata.
“Permisi, Pak, kami mau main… boleh?”
“Ndak, ndak boleh. Udah sana pulang aja, nanti mak kalian nyariin!”
Aku tersenyum sendiri mengingat kejadian dulu. Semenyebalkan itukah orang dewasa?
“Boleh kok, Dik, hati-hati ya mainnya.” Kataku sambil berlalu, menyisakan tawa keceriaan dari keempat anak itu.
Langkah kaki yang kubiarkan kini mengantarkan hingga tempat ‘sempit’ yang cukup jauh dari awal kedatanganku tadi. Masih di persawahan, tapi di sekitar sini ada sungai kecil yang airnya mengalir. Sedikit kecewa aku pertama melihat sungai yang sebenarnya cukup kecil, sekarang lebih menyempit. Namun, kejernihan sungai itu masih mirip seperti saat aku pertama menemukan tempat ini dulu. Tanaman-tanaman bunga mahkota (seperti itu aku selalu menyebutnya) masih tumbuh dengan rimbun di beberapa titik samping sungai. Kepik-kepik beraneka warna, mulai dari putih susu hingga emas, terlihat bertengger di dedaunannya. Sebuah dilema membiarkan mereka tetap di sana, karena keindahan mereka tidak senantiasa melepaskan kodrat mereka sebagai makhluk hidup. Kotoran kepik sedikit-banyak mengganggu penglihatan mereka yang ingin mendekatinya.
Aku menggulung celana jeans dan mulai bertingkah seperti anak-anak, mengayunkan kaki di air hingga menimbulkan suara kecipuk. Untunglah orang-orang yang sedang sibuk dengan sawahnya masing-masing teralihkan perhatiannya dari aktivitasku. Aliran air ini begitu menentramkan, membuat segala ingatan tentang kota dan pekerjaan menjadi terlupakan sementara.
Matahari yang berada tepat di puncak kepala membuatku kembali ke rumah Pak Pras untuk makan siang. Sejujurnya aku tidak enak untuk terlalu merepotkan warga sini, tapi akan sangat tidak sopan untuk menolak niat baik Pak Pras dalam bentuk makan bersama.
Keluarga kepala desa ini menyambut dengan hangat, seperti aku adalah saudara mereka yang sudah lama hilang. Ah, benar-benar suasana yang kurindukan.
Makan siang yang disajikan keluarga ini dengan senyuman benar-benar menggugah seleraku. Ikan gurame goreng, sambal terasi, daun singkong rebus, tahu dan tempe goreng kering, nasi di bakul, dan buah pisang yang terlihat lebih menggiurkan daripada yang terpajang di supermarket…
“Cuma bisa ngajak makan sederhana gini, Mas,” kata Pak Pras.
Sederhana? Pak, ini makanan termewah yang pernah saya makan! Ini terbaik. Tidak ada sambal terasi dan daun singkong rebus seenak ini di kota!
Aku melahap apa yang terhidang di meja dengan antusias. Sesekali kulihat Bu Pras dan Pak Pras melirik ke arahku dan tersenyum. Apa aku terlihat aneh untuk terlalu bahagia dengan makanan ini? Atau mereka senang karena aku makan dengan lahap?
Usai makan siang kuhabiskan waktuku dengan berbincang-bincang dengan Pak Pras sekeluarga, ber-­flashback ria dan menanyakan sejauh mana perkembangan pembangunan desa ini. Obrolan ringan itu berakhir ketika aku akan pamit keliling sebentar sebelum kembali ke kota. Sudah jam tiga, dua jam lagi aku harus kembali.
Aku berjalan asal. Maksudku ‘keliling’ adalah benar-benar berkeliling… tanpa tujuan akhir. Perhatianku tertuju pada anak-anak yang bermain petak umpet di halaman rumah luas milik seorang tetangga lamaku yang kini ditempati anaknya.
“Aku pulang duluan ya, males jaga terus!” kata seorang anak laki-laki berambut keriting.
“Curang, nggak boleh gitu dong, Dim,” balas anak laki-laki lain yang suaranya cempreng.
“Iya nih, Dimas cemen!” Kali ini laki-laki yang bertubuh paling tinggi yang bicara.
“Eh enggak ya!” Anak bernama Dimas itu berkata. “Oke, kita main lagi, kali ini aku nggak bakal kalah!”
Lima anak itu kembali berlarian, bersembunyi, dan saling berebut sampai ke tiang jaga lebih awal daripada ‘musuh’-nya. Kegiatan mereka sekali lagi menghadirkan memori lama yang kembali menyeruak.
“Siapa yang salah, De? Bukan aku kan?”
“Jangan nangis, Dea… yaudah deh aku yang jaga.”
Semua memori itu kembali hadir. Kenangan-kenangan lain mengikuti, semua kejadian masa kecil. Ketika aku dan teman-temanku bermain petak umpet, ketika kami bersama bermain ke sungai. Kami, dari tiga orang laki-laki, ada terselip satu perempuan yang selalu bermain bersama. Kami selalu kemanapun bersama-sama, meski terpisah di kelas yang berbeda. Aku ingat, mereka orang-orang yang jahat. Haha… tapi tidak, mereka hanya terlalu kecil untuk mengerti arti bersedih. Tidak ada satupun dari mereka yang sedih ketika aku mengatakan akan pindah ke kota. Sayangnya, kini tidak ada satupun dari mereka yang stay di desa ini. Pak Pras bilang, mereka masing-masing merantau ke tempat-tempat berbeda. Dea, satu-satunya cewek di teman bermainku, ikut suaminya ke Surabaya. Dengan segala perasaan yang masih berkecambuk, aku meninggalkan tempat kembali ke rumah Pak Pras.
Tepat pukul empat sore aku berpamitan, lebih awal satu jam dari yang kurencanakan. Setelah mengucap terima kasih, aku segera mengemudikan mobil melintasi jalanan desa dan meninggalkan semua kenanganku yang tidak akan lagi jadi kenangan…

“Halo, Toni?”
Suara di seberang telepon terdengar terburu-buru. Pak Faris, bos dari proyek yang sedang kujalani.
“Iya, Pak. Maaf daritadi di desa susah sinyal…” kataku menjawab.
“Jadi gimana keadaan desa itu? Apa sanggup dibangun sebuah pabrik pengolahan potato chips?”
Aku menghela napas cukup panjang. Ya, semua kenangan itu akan hilang… atau tidak, proyek dari pabrik ini mungkin malah akan semakin memperkuat kenangan itu.
“Sanggup, Pak. Lokasi di sana benar-benar bagus!” Kataku berapi-api, berusaha lebih meyakinkan.
“Bagus, jadi dari sekarang, bisa kamu siapkan perlengkapannya?”
“Siap, Pak.”
“Tapi saya dengar, desa itu merupakan kampung tempat kamu besar ketika SD, benar?”
Tolong jangan diulangi pertanyaan itu…
“Benar, Pak,” jawabku setelah berdamai dengan perasaan. “Kenapa ya?”
“Apa kamu nggak papa bangun pabrik di situ?”
Aku menghela napas panjang, berpikir selama sekian detik hingga cukup untuk membuat Pak Faris bertanya ‘kamu masih di sana?’. Sekelebat kenanganku mengantarkan pada dilema terbesar dalam hidupku. Tapi, hanya bergantung pada perasaan hanya akan membuat semakin terpuruk pada keadaan.
“Tidak apa-apa, Pak. Lagipula, tempat itu hanya sekadar kampung…”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu