Cabai. Sejujurnya, apa yang menarik dari pohon kecil yang lemah
itu? Ya, kukira normal jika semua orang berpikir seperti itu, karena itulah
yang kupikirkan sebelumnya.
Namun yang sekarang aku tangkap, pohon cabai adalah satu pohon yang
menarik. Pohon apalagi yang tumbuh hanya dengan tinggi maksimal sekian
sentimeter, namun mendadak menjadi barang paling dicari ketika musim dimana subur
tidak lagi mengunjunginya? Menyenangkan ketika akhirnya melihat orang-orang
mengeringkan buah-buah cabai untuk mendapatkan intinya. Menyenangkan ketika
akhirnya semua orang seakan sadar bahwa bumi butuh lebih banyak tanaman untuk
lebih hidup. Atau tidak? Mereka hanya egois ingin mendapatkan kepuasan diri
sendiri dengan rasa pedas yang nantinya akan dihasilkan itu?
Meski, sebuah kesedihan pula melihat pohon-pohon itu akhirnya layu,
mengering, dan berubah cukup hanya menjadi pupuk kompos rumput lain ketika
musim subur cabai datang kembali. Manusia-manusia itu menjengkelkan. Atau
tidak? Setidaknya, bukankah mereka sempat memberi kehidupan bagi benih-benih
itu untuk merasakan hidup? Mungkin tumbuhan itu tersenyum… meski hanya sebuah
senyum getir.
Ada sekiranya lelucon yang diciptakan dan mengingatkan tentang
tanaman ini…
“Gantung diri
di pohon cabai, mana bisa meninggal dunia?”
Itu dia! Bahkan pohon cabai tidak bisa membiarkan nyawa melayang di
tangannya. Mereka menghargai nyawa setiap individu. Lalu apa itu para manusia?
Mereka bahkan dengan entengnya menghabisi nyawa hanya karena satu hal yang
awalnya terasa ringan.
Tidak sempatkah kalian melihat ke pohon cabai? Bagaimana mereka berjiwa
lembut dan baik hati. Tak membiarkan seseorang terbunuh di tangannya, setia
memberi apa yang tiba-tiba sedang diperlukan, dan selalu rela kembali dalam
hampanya terlupakan…
Jika seseorang telah memberi julukan raja tanaman ke rumput semak,
maka kurasa, pohon cabai pantas mendapat julukan KSATRIA pejuang kerajaan.
Sikap siap membantu dan ketegarannya semestinya cukup untuk pantas mendapatkan
julukan itu, bukankah demikian?
Komentar
Posting Komentar