Langsung ke konten utama

[OPINI] - Cabai

Cabai. Sejujurnya, apa yang menarik dari pohon kecil yang lemah itu? Ya, kukira normal jika semua orang berpikir seperti itu, karena itulah yang kupikirkan sebelumnya.

Namun yang sekarang aku tangkap, pohon cabai adalah satu pohon yang menarik. Pohon apalagi yang tumbuh hanya dengan tinggi maksimal sekian sentimeter, namun mendadak menjadi barang paling dicari ketika musim dimana subur tidak lagi mengunjunginya? Menyenangkan ketika akhirnya melihat orang-orang mengeringkan buah-buah cabai untuk mendapatkan intinya. Menyenangkan ketika akhirnya semua orang seakan sadar bahwa bumi butuh lebih banyak tanaman untuk lebih hidup. Atau tidak? Mereka hanya egois ingin mendapatkan kepuasan diri sendiri dengan rasa pedas yang nantinya akan dihasilkan itu?
Meski, sebuah kesedihan pula melihat pohon-pohon itu akhirnya layu, mengering, dan berubah cukup hanya menjadi pupuk kompos rumput lain ketika musim subur cabai datang kembali. Manusia-manusia itu menjengkelkan. Atau tidak? Setidaknya, bukankah mereka sempat memberi kehidupan bagi benih-benih itu untuk merasakan hidup? Mungkin tumbuhan itu tersenyum… meski hanya sebuah senyum getir.

Ada sekiranya lelucon yang diciptakan dan mengingatkan tentang tanaman ini…
“Gantung diri di pohon cabai, mana bisa meninggal dunia?”
Itu dia! Bahkan pohon cabai tidak bisa membiarkan nyawa melayang di tangannya. Mereka menghargai nyawa setiap individu. Lalu apa itu para manusia? Mereka bahkan dengan entengnya menghabisi nyawa hanya karena satu hal yang awalnya terasa ringan.
Tidak sempatkah kalian melihat ke pohon cabai? Bagaimana mereka berjiwa lembut dan baik hati. Tak membiarkan seseorang terbunuh di tangannya, setia memberi apa yang tiba-tiba sedang diperlukan, dan selalu rela kembali dalam hampanya terlupakan…

Jika seseorang telah memberi julukan raja tanaman ke rumput semak, maka kurasa, pohon cabai pantas mendapat julukan KSATRIA pejuang kerajaan. Sikap siap membantu dan ketegarannya semestinya cukup untuk pantas mendapatkan julukan itu, bukankah demikian?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu