Langsung ke konten utama

Postingan

[CERPEN] - Gerbang Dimensi

  Gerbang dimensi akan terbuka sekali dalam sepuluh ribu tahun. Lokasinya tidak menentu. Orang yang mendapatkan kesempatannya pun tidak menentu. Dari miliaran manusia di bumi, hanya satu yang akan mengalami. Apakah seseorang dengan penyesalan terbesar? Apakah seseorang dengan ambisi terkuat? Gerbang dimensi akan mengantarkan sang penjelajah ke dunia lain. Dunia yang berjalan paralel dengan dunia tempat kita sekarang. Pilihan-pilihan yang kita pilih akan menciptakan sebuah dunia yang sama sekali berbeda. Dunia terkuat, selain dunia saat ini, adalah dunia tujuan yang akan diantarkan oleh gerbang dimensi. Ardan adalah seseorang yang biasa saja. Seorang pegawai kantoran biasa yang memiliki satu istri dan belum memiliki anak. Dia sudah menikah selama dua tahun. Gajinya biasa saja, sekadar cukup untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Segalanya biasa, kecuali kenyataan bahwa dia terpilih oleh gerbang dimensi untuk menjelajah dunia lain. Sore itu dia tidak sengaja melewati gerbang. Bata...

Aku Tidak Mau Segelas Air Es Ini

Pepatah mengatakan, Teruslah berkeliling mencari cintamu saat kau menemukan seseorang yang tepat saat itulah kau akan tahu apa yang kau mau Hari ini seseorang menawarkanku segelas air dingin Air itu segar, ada es batu di dalamnya Hari ini matahari memuntahkan sinar laharnya Panas bukan main, seperti ada lubang neraka yang terbuka Hari ini seseorang menawarkanku air es Tapi aku menolak Aku tidak ingin air es di hariku yang panas

Arah Jalan

Kita berjalan berdampingan Melalui jalanan yang tak bertujuan Kadang berbatu, Kadang berair, Kadang pula berpasir, dan debu melayang mengitari kita berdua Aku bertanya ke mana arah tujuan Kau menjawab, dalam bahasa jiwa dan aku tak paham Kita terus berjalan Berdampingan Tak mengatakan kemana tujuan mengarah Langkah kaki masih berdebam Dalam jalan penuh lumpur langkahmu menghujam Tak 'kan menunggu lama hingga bayangku menghilang

Bulan Merah

Malam ini bulan berwarna merah Sementara aku menunggu biru Malam ini jiwa kembali cerah Sementara setiap harinya selalu mengharu Bulan merah kembali terlihat Tak seperti bulan biru yang semakin jarang Satu dari sekian kehadiran bulan biru, saat itulah aku tak merindukanmu

Sekelebat Pikiran Tentangmu

Sore ini hujan turun Lembut Rintik airnya luruh dengan perlahan Tidak ada deras Tidak ada keras Kali ini di sampingku hanya ada cangkir dan kopi yang tidak begitu pahit Tidak seperti tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya Yang selalu ada dirimu Sore ini hujan turun Bersama sekelebat kenangan tentang dirimu Tanpa terburu-buru, ia meluruhkan segala pikiran tentangmu

Derap Langkah Kaki

Derap langkah kakimu menghentak Pelan dan tegas Menjauh perlahan melintasiku Aku ada di belakangmu Hanya bisa menangkap bayang dirimu Punggung dan belakang rambutmu, harus kucukupkan hanya pada itu Derap langkah kakimu mengencang Dalam angin yang berhembus gersang, sekali lagi kau melewatiku, dan aku hanya dapat memandangi bahumu

Gerimis

 Akulah bunga di musim kering, mentari menerjang kejam, akarku kehausan, dalam pandanganku tak kutemukan sebutir pun awan. Akulah bunga pada masa kemarau, dan kau datang, sebuah gerimis kecil yang terbitkan harapan. Airmu membasahi, datangmu hilangkan kering, dalam segala dahagaku yang kerontang. Tapi aku tertipu. Kau hanya lewat, lalu kembali meninggalkan gersang. Tanpa pelangi.