Langsung ke konten utama

Postingan

Arah Jalan

Kita berjalan berdampingan Melalui jalanan yang tak bertujuan Kadang berbatu, Kadang berair, Kadang pula berpasir, dan debu melayang mengitari kita berdua Aku bertanya ke mana arah tujuan Kau menjawab, dalam bahasa jiwa dan aku tak paham Kita terus berjalan Berdampingan Tak mengatakan kemana tujuan mengarah Langkah kaki masih berdebam Dalam jalan penuh lumpur langkahmu menghujam Tak 'kan menunggu lama hingga bayangku menghilang

Bulan Merah

Malam ini bulan berwarna merah Sementara aku menunggu biru Malam ini jiwa kembali cerah Sementara setiap harinya selalu mengharu Bulan merah kembali terlihat Tak seperti bulan biru yang semakin jarang Satu dari sekian kehadiran bulan biru, saat itulah aku tak merindukanmu

Sekelebat Pikiran Tentangmu

Sore ini hujan turun Lembut Rintik airnya luruh dengan perlahan Tidak ada deras Tidak ada keras Kali ini di sampingku hanya ada cangkir dan kopi yang tidak begitu pahit Tidak seperti tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya Yang selalu ada dirimu Sore ini hujan turun Bersama sekelebat kenangan tentang dirimu Tanpa terburu-buru, ia meluruhkan segala pikiran tentangmu

Derap Langkah Kaki

Derap langkah kakimu menghentak Pelan dan tegas Menjauh perlahan melintasiku Aku ada di belakangmu Hanya bisa menangkap bayang dirimu Punggung dan belakang rambutmu, harus kucukupkan hanya pada itu Derap langkah kakimu mengencang Dalam angin yang berhembus gersang, sekali lagi kau melewatiku, dan aku hanya dapat memandangi bahumu

Gerimis

 Akulah bunga di musim kering, mentari menerjang kejam, akarku kehausan, dalam pandanganku tak kutemukan sebutir pun awan. Akulah bunga pada masa kemarau, dan kau datang, sebuah gerimis kecil yang terbitkan harapan. Airmu membasahi, datangmu hilangkan kering, dalam segala dahagaku yang kerontang. Tapi aku tertipu. Kau hanya lewat, lalu kembali meninggalkan gersang. Tanpa pelangi.

Fog

Bagaimana jika kota yang begitu cerah terlingkupi oleh kabut? Akankah aktivitas di kota itu akan terhenti? Atau apakah kehidupan di kota akan digantikan sesuatu yang lain? Bagaimana? Ah, aku hanya bisa bertanya, Karena kini hatiku dilingkupi kabut Segala kebahagiaan dan rasa itu kini semu Kukira aku yang paling mengerti tentang diriku Namun, satu rasa hadir dan mengubah segala pandangku Bagaimana jika kota yang begitu cerah terlingkupi oleh kabut? Bagaimana jika perasaan yang begitu rapuh terlingkupi oleh kabut? Apakah akan kau sangkal? Atau kau biarkan berlayar?