Kali ini, membukanya terasa begitu berat. Pintu kayu yang terpasang sebagai garda terdepan keamanan rumah. Sebuah kertas terlipat berwarna keemasan tampak terserak. Sumber decitan ketika persegi panjang tadi terbuka. Aku menundukkan tubuh dan perlahan mengambilnya. Sebuah undangan. Segenap perasaan aneh menyembul tiba-tiba tanpa kutahu asalnya. Undangan tersebut tidak mencantumkan nama di depan. Pun, untuk acara apa benda itu disebar. Aku sama sekali tak tahu apa dan mengapa, hanya saja ada kabut yang menyelimut. Kulepaskan ransel di kursi tamu. Lelahnya kerja hari ini dan beragam masalah yang menghadang tak lagi kurasa jelas. Semuanya digantikan segala rasa penasaran yang menendangi semua pegal dan linu. Sambil bersandar, mulai kubuka pelan plastik undangan itu. Tidak terlalu rekat. Warnanya bening seperti plastik pada umumnya. Garis merah di pelekatnya masih jelas. Kukeluarkan kertas keemasan itu. Jantungku semakin bergerak tak keruan. Halaman sampul hanya berisi nama da...
Aku ingin kau menikmatinya serenyah kudapan di kala senja