Halooo, berhubung listing sudah selesai
dibahas semua, jadi postingan diary of PKL 55 bakal nyambung ke pencacahan! Oh
iya, di PKL 55 ini, rumah tangga yang jadi sampel ada sebanyak 10 ruta per blok
sensus. Alhamdulillah ya, gak seberat listing. Di pencacahan ini, tantangan
yang paling besar adalah tanya-tanya tentang status rumah untuk kuesioner blok
6, dan… self-enumeration yang isinya pendapat responden tabel KISH (muah)
tentang beberapa pernyataan dampak pariwisata. Waaah rasanya campur aduk bakal
ketemu orang-orang yang pernah aku listing, dan orang-orang yang pernah
dilisting PCL lainnya. Kalau di anime, mungkin ini udah kayak ketemu musuh lama
di kejuaraan liga baru haha (apa sih). Berhubung pencacahan total ada lima hari
yang tim kami lakukan, maka postingannya dibagi jadi dua. Yang pertama buat BS
PCL lain, yang kedua nanti khusus buat aku yang ketemu veteran-veteran (?)
Senggigi 003B dan Orong 012B.
Hari pertama pencacahan adalah sekaligus
hari ketiga listing. Listing dilanjutkan siangnya sementara pencacahan
dilakukan pagi. BS yang kami kunjungi di hari pertama adalah BS Yogie, Senggigi
016B. rumah tangga yang pertama aku cacah (responden pertama coooy!) adalah
ruta Pak Majid. Saat itu kebetulan Pak Majid sedang kerja di hotel, jadi
istrinya yang aku wawancara. Namanya… maaf ya, Bu, lupa. Yang jelas nama
anaknya Mutia, dan dengan bodohnya aku sempat tanya “Mutia ini laki atau
perempuan ya, Bu?” karena gugup baru pertama nyacah (Plis, role-playing kemarin
padahal sudah pernah -_-). Untung rambut Mutia ini pendek dan sekilas tidak
nampak dia pakai anting, jadi si Ibu jawabnya “Cewek mas, memang agak kelihatan
kayak cowok sih.” Di BS ini juga aku wawancara Pak Marzuki yang untungnya belum
berangkat kerja, plus Bu Satimah, responden yang usianya sudah 50-an dan
tinggal di satu ruta sendirian (meskipun BF BSnya sebelahan sama anaknya). Bu
Satimah ini kece badai, setidaknya menurutku. Aku sempat harus revisit karena
Bu Satimah harus bantu-bantu ‘junjung’ ikan di pantai dan baru pulang jam 12.
Agak nggak enak juga karena pas aku datang siangnya, Bu Satimah lagi makan dan
terpaksa berhenti sebentar demi menjawab :( . Bu Satimah sepertinya agak susah
berbahasa nasional, untung ada anaknya yang membantu menjawab beberapa pertanyaan.
Dan, karena aku memakai CAPI, terpaksa self-enumeration dengan 34 pertanyaan
itu harus kubacakan dengan terjemahan ke bahasa yang lebih sederhana. Alasannya
ibunya gak mau self-enum adalah terintimidasi dengan teknologi, yah sepertinya
kebanyakan responden lain.
(Responden pertama)
BS lainnya yang kami kunjungi adalah
007B kalau nggak salah, pokoknya dusun Teluke Lauq (yang pakai Q). Kebanyakan
Alhamdulillah lancar sih, paling ada satu responden saja yang kebetulan sudah
cukup tua sehingga pas dibilang “mau tanya-tanya tentang pariwisata” hampir
ditolak. Untungnya dengan bujukan dan bahasa yang lebih sederhana, Bapaknya mau
menjawab. Di Teluke Lauq aku juga kebagian Bu Ramdan, janda yang punya anak
tiga dan pulang kerjanya tidak menentu. Bu Ramdan baru bisa ditemui hari Minggu,
dengan satu kali wawancara. Sempat Bu Ramdan bilang “udah mas, isi setuju aja
semua” pas mulai masuk self-enumeration. Untungnya, bisa diakali dan dibujuk.
Fiuuuhhh kerja lapangan benar-benar butuh seni.
BS lainnya yang dikunjungi adalah
Senggigi 014Bnya Amin. Duh, ini benar-benar BS paling nonrespon. Harus
bolak-balik ke sana beberapa kali baru bisa sampai mengisi kuesioner. Responden
Pak Gede Dartu hampir menolak diwawancarai dengan alasan istrinya yang
menyatakan suaminya sedang kerja, untung akhirnya istrinya mau diwawancarai.
Terus ada juga Pak Mustahiq yang ngisi self-enumerationnya baru di detik-detik
terakhir sebelum pencacahan hari kelima berakhir, karena anaknya di rumah sakit
sehingga rumahnya sering kosong. Di BS ini, sekali lagi, aku dapat responden
janda. Entah kenapa aku yang selalu kebagian -_- . Namanya Bu Sarmiah, anaknya
masih sering ke rumah dan suaminya masih tinggal sekampung. Duh, bisa move
on nggak ya? Alhamdulillah cukup lancar di BS ini. Kisah tidak lancar
datangnya dari Amin dan Yogie yang sekilas tampak ‘ditolak’ oleh salah seorang
responden.
Kisah pencacahan terakhir di BS PCL lain
adalah di dusun Tanah Embet, semacam perkampungan Bali. Di sini, kerasa banget
Bali-nya. Jalan utamanya pun ada yang masih belum diaspal dan masih berpasir
sehingga naik motornya susah, yang belakangan aku tahu kalau itu bertujuan agar
tidak terlalu banyak pendatang. Oh iya, di BS ini ciri khasnya adalah……..
BANYAK ANJING. Seperti yang pernah disebutkan, lihat anjing di sini sudah kayak
sebiasa lihat kucing di Jawa. Bahkan aku pernah lihat seorang responden menepuk
kepala anjingnya kayak aku nepuk kepala kucingku. Gilak gilak, rasanya pengen
kabur lah. Ngomong-ngomong, di sana juga banyak yang pelihara babi. Pas
responden pertama punya Yogie kami masuki rumahnya, beuuhhh gils, baunya
menyengat banget. Pas aku cari sumber bau, ada babi gede item (ulangi, BABI.
GEDE. ITEM) yang lagi noleh ke arahku. Pufff, gak lagi-lagi deh nonton kartun
yang ada babinya *eh. Responden di sini relatif mudah ditanyai, cuma susah
nyari waktu respondennya aja. Dua dari tiga responden harus revisit karena
jarang ada di rumah. Responden pertama relatif lebih mudah, tantangannya hanya
pada probing pendapatan karena Bapaknya sempat nanya “Memangnya ini penting ya
mas tanya pendapatan?”. Responden Pak Made Pande bisa ketemunya malam malah,
jadi habis maghrib kami ke sana. Iya. Gelap dan banyak anjing. Bisa dibayangin
sendirilah rasanya gimana. Responden satunya namanya Bu Sumaitri, yang sering
keluar buat belanja atau sekadar jalan-jalan. Hingga hari terakhir pencacahan,
kami bahkan harus nunggu Ibunya pulang karena sedang di Mataram cari celana.
Sebenarnya nggak enak juga, cuma ya gimana, adiknya yang nyuruh Bu Sumaitri
cepat pulang. Duh terharu bangetlah.
Nah, itu kisah yang didapat dari
Senggigi, Teluke Lauq, dan Tanah Embet. Keren pengalaman di tempat-tempat ini,
namun masih ada satu lagi pengalaman seru di BSku sendiri, Senggigi 003B dan
Orong 012B. Nantikan keseruannya (yang sebenarnya nggak seru-seru banget sih),
ya!

Oalah, di sini toh Rexy nongkrongnya :)
BalasHapusWkwk ya del, nyamannya sama blogspot
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus