“Apa? Lo masih di rumah?” suara di seberang terdengar memekakkan telinga, meski transmisi suaranya hanya terkirim lewat ponsel. “Kan sudah gue bilang, Wi, jam empat. Empat, bukan empat tiga puluh!” Suara itu masih terdengar dongkol, omongan-omongan sedikit kasar dengan nada tinggi masih saling lewat di telingaku. Sepatu telah kupakai sempurna, tinggal melangkah keluar dan mengunci pintu. “Iya, iya, sorry… ” kataku berusaha mendinginkan. “Gue juga nggak ngerti kalau bakal ketiduran sampai jam segini, Rif.” “Pokoknya gue nggak mau tahu, lo harus buruan ke kantin!” suara Rifa di seberang masih menceloteh tajam, sangat kontras dengan kelakuan hariannya. “Iya iya, lima menit lagi gue sam…” Klik. Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, telepon itu ditutup. Singkat, tanpa persetujuan. Kuabaikan kelakuan Rifa kali ini, fokusku sekarang harus pada bagaimana cara sampai kantin kampus tanpa mendengar sedikit pun celotehan anak-anak redaksi. Dan, oh, bagaimana aku bisa lupa? Bagaimana kala...