“Apa? Lo masih
di rumah?” suara di seberang terdengar memekakkan telinga, meski transmisi suaranya
hanya terkirim lewat ponsel. “Kan sudah gue bilang, Wi, jam empat. Empat, bukan
empat tiga puluh!”
Suara itu masih
terdengar dongkol, omongan-omongan sedikit kasar dengan nada tinggi masih
saling lewat di telingaku. Sepatu telah kupakai sempurna, tinggal melangkah
keluar dan mengunci pintu.
“Iya, iya, sorry…”
kataku berusaha mendinginkan. “Gue juga nggak ngerti kalau bakal ketiduran sampai
jam segini, Rif.”
“Pokoknya gue nggak
mau tahu, lo harus buruan ke kantin!” suara Rifa di seberang masih menceloteh
tajam, sangat kontras dengan kelakuan hariannya.
“Iya iya, lima
menit lagi gue sam…” Klik. Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, telepon itu
ditutup. Singkat, tanpa persetujuan. Kuabaikan kelakuan Rifa kali ini, fokusku
sekarang harus pada bagaimana cara sampai kantin kampus tanpa mendengar sedikit
pun celotehan anak-anak redaksi. Dan, oh, bagaimana aku bisa lupa? Bagaimana
kalau narasumber kali ini benci dengan orang yang tidak tepat waktu?
***
Bunyi sepatu
yang bergesekan dengan lantai di lorong jurusan terdengar sama sekali tidak
merdu. Kantin sudah mulai terlihat saat aku teringat bahwa aku belum mengetahui
wajah orang yang akan aku wawancarai. Ya, sebagai seorang reporter di
UKM Redaksi Kampus, aku harus siap mewawancarai kapan pun, siapa pun, dan
dimana pun. Bahkan seperti saat ini, siap menggali berita dari mulut orang yang
wajahnya sama sekali belum pernah aku temui.
Aku merogoh
kantong celanaku dan menemukan ponsel di sana. SMS yang aku kirimkan untuk Kak Ardi,
narasumberku kali ini, masih belum berbalas. Sejauh ini aku hanya tahu bahwa satu-satunya
ciri si peraih emas lomba catur itu adalah earphone yang sering
bertengger di telinganya. My God, demi apapun, orang seperti itu sangat
mudah ditemui di fakultas seni seperti ini!
Dering nada
tanda telepon masuk mengagetkanku. Rifa! Aduh, sial, kurasa ini saatnya harapan
pertamaku tentang celotehan tidak akan terkabul.
“Halo? Iya,
Rif, ada apa?” tanyaku enggan, sekalian menyiapkan mental.
“Lo udah ketemu
sama Kak Ardi?” tanyanya cepat, seakan tidak punya waktu lebih lama lagi.
“Ini gue lagi
nyari, Rif,” kataku sambil berjalan santai menuju kantin. “Lo sih, ngasih
keterangan se-cetek itu, lo pikir gampang ap…”
“APA?!? LO
BELUM KETEMU DIA?” Ups. Sepertinya aku telah menyulut sumbu kemarahannya.
“WIRA, PLEASE!!! Dia itu orang paling sibuk di fakultas seni! Dia
ngeluangin waktu buat sore ini aja udah untung buat kita. DAN ELO MAU NGERUSAK
KEUNTUNGAN ITU, HAH?!?”
Suara Rifa yang
meninggi membuatku segera mempercepat langkahku, dengan masih mendengarkan
suara Rifa di telingaku. Hingga aku sama sekali tidak sadar ketika berada di
belokan lorong menuju kantin, ada cowok yang kefokusannya sama denganku.
Bruk!
Kami terjatuh,
bersamaan. Ponselku terlempar agak jauh ke arah dekat si cowok. Sambil meringis
kesakitan, aku memperhatikan orang itu. Oh, lagi-lagi cowok fakultas seni yang mendengarkan
musik lewat earphone.
Tanpa ada
komando, tiba-tiba pandangan kami bertemu. Matanya seperti berbicara, sedangkan
kurasakan bahwa mataku hanya membeku. Cowok ber-earphone ini memiliki
tampang yang membedakannya dengan cowok-cowok dengan alat pendengar musik
sejenis lainnya. Dia kelihatan… smart.
“Eh, sorry, tadi
gue nggak fokus ke jalan,” katanya sambil berdiri, memulai maaf.
“Eh? Oh, nggak
papa, gue juga minta maaf,” kataku tergagap, lalu segera mensejajarinya. Ada
sesuatu pada dirinya yang membuatku beku. “Gue fokus nelpon tadi.”
Aku tiba-tiba
teringat ponselku, dan ketika aku mencari ke arah jatuhnya, ponsel itu sudah
disodorkan padaku.
“Wi? Wira? Lo
kemana aja sih daritadi nggak jawab suara gue?” suara Rifa di seberang masih
memekakkan telingaku.
“Sorry, Rif,
gue barusan nabrak seseorang di belokan lorong gara-gara telponan sama elo,”
jelasku, berharap Rifa segera merasa bersalah dan memadamkan api amarahnya.
“Oh, jadi lo
nyalahin gue? Plis deh, Wir, kalau semisal tadi lo nggak telat, ini semua nggak
bakal kejadian!” daaan, aku gagal.
“Iya, iya,
Rifaaa…” kataku ingin segera menyudahi. “Udah dulu ya, gue mau nyari cowok yang
kata elo sering pake’ earphone itu!”
“Eh, gue kasih
satu ciri lagi…” Rifa menarik napas, pendek. “Dia ganteng, kelihatan banget
kalau orang pinter sejak pertama lihat.”
Kuakui,
keterangan pertama soal mukanya sama sekali nggak membantu. Tapi untuk tampang
orang pintar? Aku hanya bisa berharap.
“Oke, makasih
atas…” aku tertegun.
Kelihatan
pintar? Sering menggunakan earphone? Jangan-jangan…
Aku menoleh,
mematikan ponsel tanpa menghiraukan Rifa. Cowok yang tadi kutabrak masih
berdiri di tempatnya, memandang ke arahku. Dia tersenyum, sedikit. Segera aku
mendekatinya.
“Kak… Ardi?”
tanyaku. Orang itu mengangguk, sambil masih menyunggingkan senyum. Alat
pendengaran musiknya sudah sejak tadi dilepas.
“Wira ya?”
katanya. Suara itu sekali lagi menghipnotisku, membuatku seakan berada di
dimensi lain, melayang-layang tanpa tujuan.
“Maaf, Kak,
tadi saya ada urusan sebentar, jadi telat…” kataku malu-malu. Mana mungkin aku
bilang kalau aku ketiduran? Apalagi untuk ukuran cewek, that’s sooo not cool…
“Nggak masalah,
gue lagi bete dikit aja ini tadi, makanya nggak stand by di kantin,”
katanya menjelaskan. “Maaf juga ya.”
Ardianza Fiko.
Satu lagi nama yang masuk ke dalam nama aneh, beserta kelakuannya di daftar
keanehan yang terangkum di kepalaku. Kami sudah memulai wawancara sejak sepuluh
menit yang lalu, dan aku berhasil dibuatnya gugup, pertanyaan-pertanyaan yang
telah kususun tidak keluar dengan mulus dari mulutku. Dari semua jawabannya,
dia sama sekali tidak membuatku kecewa. Ekspektasi pertamaku bahwa dia smart,
ternyata terbukti. Jawabannya menyimpan kesempurnaan, terlalu sayang
sebenarnya untuk dilewatkan setiap katanya. Satu hal lain, dia juga mengabulkan
harapanku bahwa narasumber kali ini tidak benci pada orang yang suka tidak
tepat waktu.
“Jadi… pertama
kali kenal pasangan main catur di perlombaan kemarin, dari mana?” tanyaku
sambil berancang-ancang mencatat. Namun, hanya tawa kecil yang kudapat dari Kak
Ardi.
“Wi? Kamu
ngigau ya? Bukannya tadi aku udah bilang kalau ini kompetisi tunggal?” senyum
geli masih tercermin di wajah Kak Ardi saat mengatakannya.
Andaikan aku
punya kemampuan, atau setidaknya mesin, teleportasi, aku pastikan saat ini aku
berada di depan kulkas di rumah. Mendinginkan mukaku, yang aku yakin saat ini
memerah. Aku melirik daftar pertanyaanku lagi. Ada segurat garis merah tipis di
pertanyaan tentang pasangan itu, tapi kenapa aku masih mempertanyakannya? Ah
sial, baru sekitar lima belas menit lalu aku bertemu dengannya, dan dia sudah
berhasil membuatku sebegini serampangan?
“Maaf, Kak,
kurang fokus,” aku nyengir. “Oke, lanjut ke pertanyaan selanjutnya.”
Serangkaian
kalimat kembali muncul dari mulutnya, menjadikan catatanku penuh oleh setiap
kata yang diucapkan. Aku benar-benar tidak tahu. Entah kenapa rasanya mudah
sekali untuk membuat satu perasaan kepada satu orang ini…
“Oke, Kak,
terima kasih untuk waktu yang diluangkan untuk wawancara ini, mohon maaf dengan
sangat untuk keterlambatan dan mungkin sikap saya yang kurang tidak sopan.”
Kataku dengan senyum. Aku harap dia lupa tadi aku menyebut diri dengan kata
‘gue’.
“Hahaha…
santai, Wi, gue udah biasa dipanggil gitu sama junior,” Dia balas tersenyum.
“Duluan ya.”
Dia beranjak
dengan langkah ringannya. Earphone yang tadi sempat absen dari kedua
lubang telinganya sekarang kembali ke tempat. Masih dengan langkah seringan
kapas, dia melangkah, menjauh… semakin menjauh.
Cukup tiga
puluh menit, dan hati ini rasanya sudah tidak menentu bagaimana rimbanya…
***
“Serius
mau bikin dari redaksi? Gue nggak mau lo ngaret seperti biasanya loh,
Wir,” kata-kata Rifa menusuk, seperti biasa. Namun dengan mantap aku
mengangguk. Aku ingin sekali ini mengisi rubrik tersebut. Rifa akhirnya
mengijinkan, dengan syarat besok harus selesai.
Di
ruang perpustakaan, aku mulai menulis, tenggelam dapat kata-kata yang
kurangkai. Aku tersenyum sekilas melihat bagian tengahnya, bagian ucapan terima
kasih kepada narasumber…
“…
terima kasih juga tentu kami ucapkan kepada narasumber-narasumber yang terlibat
dalam pembuatan buletin ini. Terkhusus buat Ardianza Fiko, yang rela meluangkan
waktu sibuknya demi wawancara kecil dengan redaksi. Terkhusus juga untuk…”
Ya.
Wawancara kecil, dengan semua kebetulan yang menyelimuti. Semua kejadian. Semua
keindahan. Semuanya terekam indah di otakku, abadi. Aku tersenyum kecil. Getir.
Ya. Hanya di rubrik dari redaksi ini aku ingin mengucapkan bahwa orang itu
telah berjasa mengubah hidup acakku, memporakporandakan hatiku. Menambah
satu lagi keindahan dalam hidupku, yang perlahan namun harus, aku akan
menghilangkannya. Meski tak sanggup, meski terlalu sulit. Karena… ada yang
lain, dengan hati yang berdampingan dengan hatinya, selalu siap berada di
sampingnya…
“Lo
senyum-senyum aja sejak kemarin, Wir?” tanya Rifa. “Lo naksir ya sama Kak
Ardi?”
Aku
masih senyum-senyum yang sama sekali membuatku tidak jelas di depan Rifa. Ya,
dia benar. Aku… jatuh.
“Ya
ampun, Wir! Kak Ardi itu udah punya pacar tau! Namanya Gita, anak seni, dia
seangkatan sama kita!”
Dari
Redaksi… cukup ini, karena aku akan terkubur dalam lubang yang begitu dalam.
Lubang yang aku gali sendiri, yang tidak pernah kurasakan bagaimana bentuknya.
Lubang yang sama sekali tidak terbayangkan akan kutempati. Lubang, sebuah tempat
tergelap dimana aku jatuh.
Komentar
Posting Komentar