Akulah bunga di musim kering, mentari menerjang kejam, akarku kehausan, dalam pandanganku tak kutemukan sebutir pun awan. Akulah bunga pada masa kemarau, dan kau datang, sebuah gerimis kecil yang terbitkan harapan. Airmu membasahi, datangmu hilangkan kering, dalam segala dahagaku yang kerontang. Tapi aku tertipu. Kau hanya lewat, lalu kembali meninggalkan gersang. Tanpa pelangi.
Aku ingin kau menikmatinya serenyah kudapan di kala senja