Langsung ke konten utama

[CERPEN LISTING] - Senggigi


Terik mentari sudah mulai bergerak mendekati pusat langit, mulai menguarkan panas yang perlahan menghilangkan kesejukan sementara yang dihasilkan gerimis setengah jam lalu. Ombak-ombak kecil dengan warna air yang memantulkan biru berkejaran pelan menerjang batasan pelabuhan, sesekali mengenai pasir putih yang tampak mulai kotor oleh sampah-sampah plastik dan jejak manusia. Biru tercantik dari semua biru yang kutemui seharian ini, bahkan lebih indah daripada warna jaket yang kuagung-agungkan beberapa hari terakhir.
Aku masih melihat sekeliling dengan sesekali mengecek PC Tablet milik BPS yang dipinjamkan sekian minggu untuk listing dan pencacahan delapan hari ini. Sudah sekitar sepuluh menit dari tempatku memulai listing, namun belum ada satu pun Bangunan Fisik yang menampakkan diri. Sekalinya ada bangunan fisik yang seakan menyeruak ke permukaan, itu pun hanya sebuah bangunan yang tidak ditempati. BSBTT, disebutnya.
“Sepertinya kita sudah mulai perlu jalan masing-masing,” kata Tika yang sudah sekian menit berada satu wilayah denganku.
“Ya,” balasku. Sejujurnya aku pun berpikir demikian. Unit observasi kami berbeda, dia mengurus unit usaha sementara aku mengurus bagian rumah tangga. Berada di pantai lebih lama lagi kurasa lebih bermanfaat baginya, dan hanya akan membuang waktuku. “Aku duluan.”
Kulangkahkan kakiku keluar dari gerbang parkir Senggigi sesaat setelah kami berdiskusi kapan dan bagaimana cara pulang. Di luar gerbang parkir itulah petualanganku yang sebenarnya dimulai. BF-BF mulai aku daftar satu persatu. Teriknya mentari yang mulai mendekati tengah langit seakan membakar tubuhku, namun malah memadamkan semangatku. Topi sekolah tinggi yang aku bawa khusus untuk PKL ini hanya membantu sedikit mengurangi panas yang menerpa wajah, sedangkan keringat dan kelelahan masih tak henti membalut tubuhku.
Rumah tangga yang kutemui pertama kali adalah sebuah rumah putih dengan pagar putih pula yang mengelilinginya. Rumah itu terlihat rimbun dengan beberapa pohon mangga yang puncaknya tumbuh melebar. Tak berhasil kutemui sang pemilik rumah meski sudah kuucapkan salam dan permisi berulang di depan pintu gerbang.
“Maaf, Mas, orang yang tinggal di rumah itu ada nggak ya? Boleh tahu informasinya?” tanyaku ke seorang pegawai agen travel yang tempatnya cukup dekat dengan rumah putih itu. Tanpa menunggu lama, mas-mas pegawai itu menjelaskan siapa yang mendiami rumah tersebut. Peter. Orang luar, entah Eropa atau Australia, yang punya usaha di daerah sekitar Senggigi sana. Peter, nama Kepala Rumah Tangga yang tercatat pertama pada tablet di kuesioner elektronikku.
Perjalanan listing, atau pendaftaran bangunan untuk mendapatkan rumah tangga yang dapat menjadi eligible ample, masih terus berlanjut. Sempat aku hampir putus asa dan berselonjor kaki selama beberapa menit di depan ruko Senggigi Plaza andai saja hati kecilku tidak mengingatkan jika ini adalah awal kontribusi, sebuah ujian integritas untuk pekerjaanku nanti. Matahari tepat di atas kepala ketika aku berjalan menyusuri Jalan Raya Senggigi untuk mendaftar banyak bangunan fisik yang hampir tanpa rumah tangga satu pun. Peluh di pelipis kanan seakan berbalapan dengan peluh di punggung. Mungkin jika sekarang aku tak mengenakan seragam akademik dan jaket kedodoran namun panas, peluh-peluh itu tak akan sebegini protes.
Jalan raya tersebut masih meminta untuk aku susuri bahkan setelah aku beristirahat sholat. Sebuah pesan dari koordinator tim di sebuah grup aplikasi chatting menyuruh para Petugas Cacah Lapangan untuk beristirahat. Namun, sayangnya pesan itu tak kuindahkan. Bayang-bayang listing tak akan selesai satu hari jika terpotong waktu makan, membuatku terus lanjut berjalan. Meski akhirnya nasib berkata lain ketika pegawai PLN yang kutanyai tiba-tiba saja menawariku makan nasi bungkus yang kelebihan satu entah karena apa. Alhamdulillah. Aku simpan nasi bungkus itu dengan dalih bahwa aku harus buru-buru menyelesaikan satu blok. Dan ya, aku menyimpannya hingga nanti aku pulang, karena siang itu pada akhirnya perutku hanya terisi satu buah donat minimarket dan sekotak kopi instan rasa French Vanilla yang sudah lama menjadi favoritku.
Seusainya seluruh bangunan fisik di Blok Sensus 003B tercantum dalam daftar listing, aku masih harus lanjut ke dalam gang RT 001. Terangkum dari Arjuna 1 hingga Arjuna 3, di sanalah pengalaman listing yang sebenarnya dimulai. Aku bersyukur untuk batas blok yang sangat jelas berkat bantuan dari keterangan Pak RT dan mengeluh untuk masing-masing rumah yang jaraknya dempet. Terlalu banyak rumah kost dengan penghuni yang sedang tidak ada di rumah sedikit menyulitkanku dalam menentukan apakah orang tersebut termasuk ke dalam satu rumah tangga ataukah tidak. Kedatanganku yang masih berada dalam lingkup jam tidur juga sepertinya terasa cukup mengganggu bagi masyarakat sekitar. Ah, tapi semoga saja itu hanya perasaanku. Beberapa kali bingung dengan konsep dan definisi yang terhitung cukup baru, akhirnya aku lanjut dari Arjuna 1 ke Arjuna 2A, dimana lebih banyak lagi petanyaan dengan kondef dalam benakku.
Sekian kali aku menemukan masalah, beberapa kali itu pula ingin kuputuskan untuk menyerah ataupun melewati saja rumah yang tidak jelasnya rimbanya. Tapi sekali lagi, dan berkali-kali kemudian, hati kecilku mengingatkan. Tagline PKL 55 STIS, awal kontribusi mengabdi untuk negeri. Aku wajib melanjutkannya. Sampai akhirnya seluruh Arjuna 2A sudah selesai dilisting, kortim datang menemuiku.
“Gimana? Sudah berapa persen?” Tanyanya begitu menemukan aku yang sedang dalam posisi jongkok membetulkan papan jalan.
“Mungkin sekitar 60 sampai 70, masih kurang dua gang lagi.” jawabku. Oleh jawaban tersebut, akhirnya dia putuskan untuk membantu karena memang sudah terlalu sore. Minimal dengan menempel dan menulis isi stiker listing.
Arjuna 2B dan Arjuna 3 tidak seperti dua Arjuna sebelumnya. Cukup sedikit rumah tangga yang ada di kedua gang itu, sehingga kembali menerbitkan semangat bagiku untuk menyelesaikan listing yang sebelumnya sempat terpikir tak akan selesai hari itu juga. Hingga adzan maghrib berkumandang, hanya tinggal satu blok tempat kost di Arjuna 3 yang belum kulisting. Dan, karena waktu yang tidak pas untuk bertamu, akhirnya dicukupkan listing Senggigi untuk hari itu.

Senja sudah menjemput, memanggil jiwa yang sudah kelelahan. Gelap mulai perlahan menyelimuti, menyamarkan mega mentari yang entah sekian menit entah sekian jam telah menguasai angkasa. Tepat setelah melakukan sholat maghrib, kami yang bertugas di Senggigi 003B bergegas kembali ke tempat menginap. Mencoba menyiapkan energi untuk listing esok hari, dan pencacahan di hari-hari berikutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu