Langsung ke konten utama

[RANDOM THOUGHT] - Sepersepuluh Dekade


Akhirnya, satu tahun.

Awal pertama datang ke kabupaten ini adalah 9 Maret 2018. Kala itu segalanya terasa mendebarkan. Pendaratan pertama pesawat ATR. Lambaian pertama mantan senior kampus. Udara panas dalam Phanter kantor. Sampai akhirnya kendaraan berhenti pada satu bangunan.

Abu-abu terang dan gelap saling menyilang. Bersanding tak mau kalah. Di atas Gedung terpatri logo berwana biru-hijau-oranye yang menandakan identitas. Berikut, tulisan Badan Pusat Statistik memperjelasnya. Pintu kaca terbuka dan sebuah logo yang sama terpampang di sebelah kiri. Logo dan kalimat yang sama. Hanya saja, ditambah keterangan nama kabupaten. Kabupaten Belu.

Jumat adalah hari pasti yang tercetak dalam kalender waktu itu. Azan telah berkumandang sejak tadi. Banyak yang kusesali pada hari itu. Sayangnya, tidak ada pilihan lain. Ini adalah kali pertama. Segalanya mendebarkan. Meskipun, saat itu tak ada orang. Ada, hanya saja tidak banyak. Maklum, sedang bertugas di lapangan.

Aku masih ingat apa yang terjadi di hari itu. Tidak semuanya, hanya sebagian besar. Siapa yang kusalami pertama. Siapa yang mengajakku ngobrol panjang pertama. Apa menu makan siangku. Siapa yang mentraktir. Terutama, wejangan dari petinggi tertinggi kantor abu-abu ini,

“Selamat datang”, dan “Semoga betah”. Ada banyak kalimat lain sebenarnya, namun seperti yang kukatakan, aku ingat sebagian besar saja.

Aku masih mengingat hari itu. Awal pertama datang ke Kabupaten Belu. Entah sampai kapan aku akan berada di sini. Lalu, entah apa yang akhirnya membuatku pindah dari sini. Aku hanya bisa menebak-nebak. Dan, berdoa. Semoga apapun alasannya, hal itu adalah baik dan yang terbaik.

Hari ini, 9 Maret 2019. Aku telah bertarung dengan waktu. Segalanya berat. Harus kuakui. Namun, setidaknya, sepersepuluh dekade telah terlaksana.

Atambua, 9 Maret 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu