Langsung ke konten utama

[FLASH FICTION] - Jaringan Komunikasi


Kategori: Flash Fiction


Hai, aku hidup di jaringan perpesanan. Aku dapat terpecah menjadi beberapa bagian ketika seseorang mengirimkan pesan ke banyak orang sekaligus, namun bagian-bagian itu tetaplah diriku. Kalian takkan dapat melihatku seleluasa penglihatanku ke kalian.
Seperti saat ini, seorang mahasiswa berusia dua puluh tahun bernama Rio baru saja mengirimkan pesan jarkom yang ditujukan kesembilan belas temannya. Dari yang aku tahu, sembilan belas orang itu pernah berada pada satu kelas yang sama ketika mereka masih menjalin ospek. Entahlah, aku tidak benar-benar ingat tepatnya. Yang jelas, aku menyukai orang ini. Dia pemimpin yang senantiasa mendekap anggotanya. Bahkan setelah tahun berganti, dia masih ingin menyempatkan pengadaan buka bersama dengan teman ospeknya.
Nanti sore kita mau ada buka bersama di tempat Rena, konfirmasi kehadiran ke nomor ini. Kehadiranmu ditunggu!
Seperti yang kubilang, aku dapat terpecah menjadi beberapa bagian. Kali ini sembilan belas. Pecahan pertamaku sampai pada orang bernama Rena, si tuan rumah. Dia hanya tersenyum kecil lalu membalas singkat. Pikirnya, ya kali bukber di rumahku tapi aku nggak datang?
Pecahan diriku yang lain berkelana sesuai dengan tujuan masing-masing. Sebelas orang menjawab akan datang, tiga orang belum tahu, dan lima orang tidak bisa. Oh, ya! Aku lupa bilang kalau sebenarnya membaca pikiran adalah sebuah hal yang mudah bagiku. Wajah yang terpampang di layar kaca sangat mudah sekali untuk terbaca ekspresinya, pun pikirannya.
Seperti ketika pecahan keduaku sampai pada Abdul, ketua kerohanian Islam di kampusnya. Aku bisa tahu jawaban tidak tahu yang dilontarkannya adalah karena dia menimbang apakah bukber kali ini akan mengganggu ibadahnya atau tidak. Dan untuk memutuskannya, dia butuh ketemu Rio dulu nanti siang.
Atau, ketika pecahan ketujuhku yang sampai pada cowok cuek bernama Ferry. Tentu tidak menambahkan kata maaf di pesan konfirmasinya yang menjawab tidak akan bisa ikut. Namun, kalian harus lihat ekspresinya. Uh, memuakkan! Dia sama sekali tidak menganggap penting kelompok ospeknya itu. Yang lalu biarlah berlalu, itu yang selalu dipikirnya.
Hal yang menarik lagi adalah ketika pecahan terakhirku sampai pada Gea, yang secara diam-diam menyimpan rasa pada Arza. Arza adalah anggota dari kelompok ini pula, namun dia lebih sering tidak datang. Pesan konfirmasi Gea menyebutkan bahwa dia akan datang jika Arza sudah mengonfirmasi akan ikut. Dan, tebak bagaimana ekspresinya ketika Rio membalas bahwa Arza nanti akan berangkat bareng Rio? Kalian tak akan menemukan wajah yang lebih bahagia dari itu!

Baiklah, tugas selesai, aku mau istirahat… ya, mungkin istirahat untuk waktu yang lama. pesan terakhir dari Yudha menandakan bahwa mereka akan segera membuat grup chatting yang memang sedang ngetren. Aku cukup berterima kasih pada Rio yang sampai sekarang masih memakai jasa SMS. Tapi, mungkin, ini akan berakhir. Ya. Lihatlah, ponsel Rio kini mulai ramai dengan pesan-pesan berekspresi yang seringkali ikut mmebuat Rio tersenyum.

Komentar

  1. Eitss, temanya lucu :)
    Judulnya aja yang kurang greget.
    Tokoh Yudha kok muncul antah-berantah gitu ya.
    Jadinya kebanyakan tokoh untuk ukuran flash fiction.

    Tetapi tulisan ini tetap menyenangkan, ternyata SMS masih ada serunya juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya juga mas, kebawa suasana jadinya malah kayak cerpen tapi belum mateng hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu