Langsung ke konten utama

[CERPEN] - Lelaki Berkemeja Hitam


Seorang laki-laki duduk di pojok ruangan. Dia sendirian. Tangan kanannya sedari tadi tak terlepas dari ponsel yang sudah menempel di telinganya lama. Sejak dia masuk restoran, atau bahkan lebih. Lelaki itu tak bernama. Atau mungkin hanya aku yang tak mengetahui namanya. Meski sangat ingin. Setahuku dia baru pertama kali bertandang ke tempat ini, setidaknya selama tiga bulan aku bekerja.
Laki-laki itu menamparku dengan tatapannya, lalu menyejukkan penglihatanku lagi dengan senyumannya. Dia menawan. Terlalu menawan, aku benci.
“Rida, tolong habis ini antar pesanan nomor 10 ya,” suara Mas Nino sedikit-banyak membuyarkan lamunanku. “Antarnya ke mas-mas yang pakai kemeja hitam, yang tadi pesan ke kamu.”
Laki-laki itu berkemeja hitam. Entah apa pekerjaannya, entah apa tujuannya. Dia terlihat sibuk. Sudah lima belas menit terhitung sejak dia masuk restoran dan belum ada tanda-tanda dia berniat mengakhiri panggilannya. Sempat aku berpikir itu dari istri atau pacarnya. Sangat mungkin, karena mana ada wanita yang tidak tertarik dengan orang seperti dia? Dan, bodohnya, kenapa aku juga termasuk wanita yang tersapu pesonanya. Pesonanya terlalu membius, aku benci.
Penampilan sungguh menunjukkan dia adalah orang yang paling rapi di kantornya. Jika saja dia pekerja kantoran. Atau mungkin tidak. Sangat mungkin jika penampilan seperti itu hampir dimiliki oleh semua orang di kantornya.
“Ini ya, Ri, yang ada nomor sepuluhnya, jangan salah!” Mas Nino menyerahkan senampan makanan yang berisi satu roti isi dan dua potong ayam goreng.
“Siap, Mas. Tenang aja, saya udah tiga bulan di sini, kok!” Balasku tersenyum. Oleh dua alasan. Yang pertama karena aku akan mengantarkan makanan ini ke dia. Yang kedua… entahlah. Hanya saja hatiku sedang mengisyaratkan agar aku tersenyum.
Laki-laki itu akhirnya menjauhkan jangkau jarak ponsel dari telinganya. Sekarang gantian matanya yang berinteraksi intens dengan ponsel itu. Sungguh beruntung. Adakah tukang sulap yang bisa merubahku jadi ponselnya? Atau jaman sudah terlalu modern untuk memikirkan hal semacam ini?
Sepatu pantovelnya mengetuk-ngetuk lantai ringan. Sudah sejak matanya menatap ponsel itu. Awalnya kukira dia tidak sabar dengan pesanannya yang tak kunjung datang. Namun, dengan jarak sedekat ini bisa kurasakan gelombang keceriaan yang melumer dari hentakan itu. Gelombang itu sayangnya malah menimbulkan getaran yang lain, aku benci.
“Permisi, Mas, satu cheese burger dan dua ayam goreng?” Tanyaku.
“Iya, Mbak,” balasnya dengan suara yang telah terekam di otakku sejak bermenit lalu. “Makasih.”
“Pesanannya sudah semua, ya.”
Laki-laki itu berkemerja hitam. Entah apa motivasinya, aku mencoba tidak peduli. Tapi aku nggak bisa. Apa karena dia takut kotor? Apa karena itu baju favoritnya? Atau karena dia ingin memakai warna yang kontras dengan warna kulitnya? Atau hanya kebetulan karena baju yang lain sedang dicuci? Mungkin dia baru selesai melayat? Mungkin juga itu seragam resmi kantornya?
Laki-laki itu masih dalam jarak perhatianku. Kali ini dia tampak menangkap aroma ayam goreng yang terpampang di hadapannya. Kemudian, dia tersenyum. Senyumannya terlalu terlihat seperti berusaha memikatku. Dan jika memang begitu, dia berhasil. Aku benci.
Dia seorang laki-laki yang aneh. Sore ini belum masuk jam pulang kantor, tapi dia sudah bersiap-sedia di sini. Atau jika mungkin dia tidak bekerja di sebuah kantor, adalah sebuah hal yang sangat aneh bagi seseorang untuk mampir di restoran cepat saji pada jam yang bukan jam makan siang dan masih terpaut jauh dari jam makan malam. Aku sangat ingin tidak peduli, tapi aku tak bisa. Dia sudah berhasil mengumpulkan seluruh pandangan mataku hanya agar tertuju padanya. Pada senyumannya. Pada kemeja hitamnya.
“Mbak, toilet sebelah mana, ya?” tanyanya ke arahku. Begitu tiba-tiba.
“Oh dari sini nanti lurus aja, Mas, belok kanan setelah ada tanda,” balasku, yang untungnya tidak terbata-bata.
“Makasih,” katanya. “Minta tolong jaga meja saya sebentar, ya, Mbak.”
Jaga hati Mas pun saya tak keberatan.
Tidak. Ini mulai berbahaya. Hanya beberapa menit aku bertemu dengan lelaki itu, tapi tingkahku mulai semakin tidak jelas. Aku kenapa?
Laki-laki itu tak sempat lama di kamar mandi. Tebakanku, dia hanya ingin membenarkan pakaiannya yang agak berantakan. Kini dia terlihat lebih rapi. Ya, aku terlalu lama memperhatikan hingga aku tahu tadi kancing kemejanya terbuka dua di paling atas sehingga tampak kaos putih yang dikenakannya. Aku ingin menjadi kaos itu. Memeluk dan mendekap tubuhnya dalam jarak yang tiada. Dia begitu memabukkan, aku benci.
Laki-laki itu akhirnya menyelesaikan makannya dalam rekor waktu yang… sebenarnya biasa saja. Lalu kenapa aku menceritakannya? Entah. Aku bahkan ingin menceritakan segala sesuatu tentangnya termasuk merek parfum yang dipakainya, yang kebetulan sama dengan parfum kakak sulungku. Lelaki itu sempat memainkan ponselnya sebentar tepat setelah dia usai mencuci tangan. Sepertinya dia sedang main game, raut mukanya berkata demikian. Tegang, melunak, lalu bahagia. Atau mungkin dia sedang chatting dengan pacarnya? Tegang karena mau diputusin, melunak ketika pacarnya bilang bercanda, lalu tersenyum bahagia karena mereka akan menghabiskan waktu berdua? Bisa jadi. Sangat mungkin.
“Mesin ATM di dekat sini ada dimana, ya?”
Lelaki itu menghampiriku yang sedang bersiap-sedia menjaga pintu masuk-keluar dan sesekali melirik ke arahnya.
“Ada di minimarket sebelah, Mas, deket kok dari sini,” jawabku.
Mau saya antar, Mas? Ah, andai saja aku benar bisa mengatakan itu.
“Mbak bisa antar saya sebentar?” tanyanya. “Saya ijinkan sebentar ke manajer Mbak … Rida?”
Aku mengangguk. Dia tahu namaku. Dia menyebut namaku. Aku tampak terlalu bahagia sepertinya, aku benci.
Laki-laki itu kembali lagi setelah sekian menit berbincang dengan Mas Hadi selaku manajer. Dan, karena kondisi restoran yang sedang berada di jam sepi, Mas Hadi mengijinkan lelaki itu untuk meminjamku sejenak.
Kami berjalan beriringan dalam perjalanan menuju mesin ATM. Kami berjalan seperti pasangan dengan warna baju yang sudah direncanakan. Hitam. Aku menyukai ketidaksengajaan ini. Aku mendadak ingin berterima kasih kepada pak kepala perusahaan yang memilihkan warna ini untuk seragam kerja, sehingga kini aku bisa sebegitu serasi berjalan dengan lelaki berkemeja hitam itu.
Lelaki itu tidak bertahan lama di mesin ATM. Entah berapa uang yang diambilnya, aku tidak peduli. Aku ingin peduli, dan sejatinya aku peduli. Tapi, sayangnya aku tidak diberi kesempatan untuk peduli. Tepat setelah mendapatkan uangnya, dia segera memasukannya ke dompet kulit berpola batik yang menawan. Seperti senyumnya. Aku selalu kepikiran senyumnya, aku benci.
Kami bercakap-cakap sejenak, sekadar tanya habis ini dia mau kemana dan dimana rumahnya. Hanya hal itu, lalu selesai. Dia segera pergi setelah mengucapkan beberapa patah kata padaku. Beberapa patah kata yang membuatku entah harus semakin menyukai atau berubah membencinya. Terlalu banyak yang aku sukai darinya, aku benci. Aku ingin lenyap dari sisi bumi bagian atas dimana dia masih akan berkeliaran. Senyumannya ditinggalkan untukku yang masih mematung, menatap lurus ke arahnya yang berjalan meninggalkanku.
Lelaki berkemeja hitam itu kini punya nama. Lelaki itu kini punya nomor telepon. Bahkan, lelaki itu kini punya alamat perusahaan.
Ramdani, 081726366562, marketing PT. Kur Sejahtera.

Lelaki berkemeja hitam itu kini tak lagi tak bernama. Sudah ada namanya terpatri di ingatanku. Sudah ada namanya tertoreh di hatiku. Tapi, dia tak mungkin melakukan hal sebaliknya. Baginya, aku hanya objek dagang, sumber segala penghasilannya. Aku ingin membencinya, tapi ku tak bisa. Aku benci.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Kaki Maju

 Tak perlu waktu lama, sedikit lagi akan kulangkahkan kaki Semua kini telah berbeda Pertama kali kuinjakkan kaki adalah ketika tanah ini kering kerontang tanpa bunga Hujan tidak turun sesering sekarang Rumahku bukanlah rumah untuk pulang Rumahku adalah tempat singgah Lalu kau datang dan mengubah segalanya Mendikteku dengan samar hingga tak dapat kulakukan apa saja

Pisau

Bola mata itu hangat Hitam dan putihnya menyatu lamat Memandang teduh bak malam kelam Menatap tegas bagai terang bulan Matamu adalah pisau Dan harus kulindungi perasaanku dari tatapan tajammu  yang mengiris pilu