Langsung ke konten utama

Postingan

[CERPEN] - Lucu

Kali ini, membukanya terasa begitu berat. Pintu kayu yang terpasang sebagai garda terdepan keamanan rumah. Sebuah kertas terlipat berwarna keemasan tampak terserak. Sumber decitan ketika persegi panjang tadi terbuka. Aku menundukkan tubuh dan perlahan mengambilnya. Sebuah undangan. Segenap perasaan aneh menyembul tiba-tiba tanpa kutahu asalnya. Undangan tersebut tidak mencantumkan nama di depan. Pun, untuk acara apa benda itu disebar. Aku sama sekali tak tahu apa dan mengapa, hanya saja ada kabut yang menyelimut. Kulepaskan ransel di kursi tamu. Lelahnya kerja hari ini dan beragam masalah yang menghadang tak lagi kurasa jelas. Semuanya digantikan segala rasa penasaran yang menendangi semua pegal dan linu. Sambil bersandar, mulai kubuka pelan plastik undangan itu. Tidak terlalu rekat. Warnanya bening seperti plastik pada umumnya. Garis merah di pelekatnya masih jelas. Kukeluarkan kertas keemasan itu. Jantungku semakin bergerak tak keruan. Halaman sampul hanya berisi nama da...

Biru

Aku kembali jatuh terulang dan berulang lagi tepat seperti kali pertama berbalik dan menukik lagi Biru langit Biru laut Tak lagi terlihat indah bagiku Ada warna lain yang memancar darimu

[RANDOM THOUGHT] - Memilih

Menjadi dewasa itu berat, butuh banyak persiapan sebelum akhirnya mampu.  Malam ini saya lihat  instagram stories  dari beberapa temen SMA yang temanya sama, melepas temen SMA lainnya yang akan pergi ke luar negeri. Tak terhitung berapa emosi yang ditampilkan. Terus, apa hubungannya dengan menjadi dewasa? Sederhananya, hal itu memicu sebuah ruang di pikiran saya untuk memikirkan banyak hal. Bahwa di usia dua puluhan ini sudah waktu menjadi dewasa dan bertanggung jawab pada pilihan-pilihan hidup yang sudah ditentukan entah sejak kapan. Entah pilihan untuk mengabdi kepada negara. Entah pilihan untuk mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Pilihan untuk mencapai derajat keilmuan yang menakjubkan. Atau bahkan mungkin pilihan untuk menambah populasi peradaban.                      Alias, menikah Dan tentu masih banyak lagi pilihan lainnya. Satu pilihan itu akan memiliki konsekuensi ke depannya. Ap...

[RANDOM THOUGHT] - Ternyata Aku Rindu

Sudah lebih dari empat bulan aku meninggalkan Jakarta. Bohong rasanya jika aku bilang "tidak terasa", karena bagiku segala waktu selalu kurasakan dengan jelas. Baik, buruk, seram, indah, semuanya selalu terpatri dalam pikiran. Meninggalkan Jakarta. Awalnya kukira itu adalah hal yang biasa. Aku kuliah di sana selama empat tahun, lengkap dengan keringat dan air mata yang melengkapi. Darah? Kurasa itu juga bisa dimasukkan. Tapi, tidak seperti kebanyakan teman yang memiliki " love-hate relationship " dengan Jakarta, hubungan yang aku miliki kebanyakan adalah " love ", meski masih memiliki beberapa " hate ". Tapi, secara keseluruhan, aku (sangat) menyukai Jakarta. Dulu, setiap waktu untuk pulang kampung adalah salah satu yang sangat kuinginkan. Sangat ditunggu-tunggu oleh kami, aku dan mayoritas teman kuliahku. Maklum, kebanyakan dari kami adalah perantau. Aku sendiri berasal dari Kabupaten Mojokerto, tak jauh dari Kota Surabaya. Tempatku tin...

Gunungan Lumpur

Manusia-manusia berlari dalam hujan yang tak kian berhenti satu-dua mulai menari tak sanggup lagi dan akhirnya berhenti dalam sebuah lelah tak terperi Aku di sini dikeliling lumpur yang menggenang bau-bau busuk tak berhenti menyerang orang-orang yang terlihat di sekitar hanya tidur dan mendengkur tak peduli pada segala keliling dalam genangan lumpur Rasa sesak menyelimuti, tak sanggup berdiri, ingin ikut berhenti, tapi aku belum ingin mati Untuk apa? Aku masih bisa Aku sanggup menyingkirkan lumpur-lumpur ini Aku kuat mewangikan busuk-busuk ini Tapi mengapa dengan begitu mudahnya kau menyerah? Ah, aku harus bergegas sebelum segala hal ini segera berubah menjadi gunungan lumpur

Lanjut

Warna merah telah memudar Bekas airmata telah mengering Pening kepala mulailah datang Mari lanjutkan kerja Noda hitam telah memudar Bulir keringat telah mengering Nyeri otot mulailah datang Mari lanjutkan kerja

Kali Ini Aku Tak Mau Senja

Mentari, jangan kau pergi Kali ini kuingin kau untuk tetap di sini Hadir dan temani Hancurkan gelisah dalam hati Mentari, jangan kau hilang Kali ini kunyatakan aku membenci malam Hitam kelam yang menyeruk legam Tak ingin ku berteman malam Mentari, kau di sini saja Kali ini aku tak mau senja Mega terlalu bingar bagiku yang remaja Jingga terlalu dingin untuk mengantar seorang raja dan raja, tak kan sanggup bertahan dalam rona Mentari, jangan kau pergi Aku tahu selama ini kubenci Aku ingat tak pernah kurelakan malam Aku paham dahulu senja adalah cinta Tapi kali ini aku tak mau semua Aku mau kau, mentari Setidaknya jangan pergi Hingga tlah sampai raga ini pada satu yang sempurna