Langsung ke konten utama

Postingan

[ARTIKEL] - The Summer Triangle

Taburan bintang di angkasa selalu memberi kesan misterius bagi sebagian besar orang. Bagaimana bintang-bintang tersebut berkumpul dan membentuk suatu gugus merupakan satu hal yang menakjubkan. Seperti rasi-rasi bintang yang membentuk zodiak yang selama ini kita kenal, bintang-bintang tersebut juga menciptakan hal lain yang menakjubkan. Salah satu fenomena alam yang menyangkut bintang-bintang tersebut adalah the summer triangle, segitiga musim panas. The summer triangle adalah fenomena dimana beberapa bintang dari tiga gugus bersinar paling terang, yang terjadi sebagai penanda musim panas yaitu sekitar bulan Juni. Segitiga tersebut dibentuk oleh bintang Altair, Deneb, dan Vega. Ketiga bintang tersebut adalah bintang-bintang paling terang dari konstelasinya masing-masing. Altair mewakili rasi Aquila, Deneb untuk Cygnus, dan Vega sebagai perwakilan untuk Lyra. Pada pertengahan hingga akhir abad ke-20, ketiga bintang tersebut diperlakukan oleh para militer dan peserta navigators train...

[CERPEN] - Ruang Tunggu

             Dia tidak datang. Sekali lagi. Suasana ini sama persis dengan empat tahun lalu, suasana ketika aku akan berangkat merantau yang jauhnya beberapa provinsi dari tempat asalku. Kali ini dia mengulanginya. Dia tak datang. Batang hidungnya tersembunyi. Entah dimana, namun aku tahu tidak di dekatku. ”Hati-hati di pulau orang ya, Zan,” kata Rere, teman, atau mungkin sahabat, yang kukenal sejak SMA. “Rencana lo aneh-aneh aja sih!” Aku tertawa sekilas mendengar nada bicara Rere yang seketika berubah dari sedih ke marah. Namun, pikiranku masih sama. Aku masih bertanya-tanya, kenapa dia masih tetap tidak mau melepasku pergi? “Ya elah, Re. Jadi seorang guru memang harus siap mengabdi dimana pun, kali,” jelasku. “Ini baru NTB, hanya beberapa jam dari sini.” “Ya tapi kan lo bisa memulai karir di Jawa dulu sebentar, Zan…” Gantian Ori, salah satu teman yang kukenal sejak SMA pula, yang sekarang melaksanakan ceramahnya. “Jadi PNS di Jawa susah, ...

[NEWS] - Fiksimini

Pernahkah terpikir di benak kalian tentang sebuah fiksi yang ditulis dalam 140 karakter? Mungkin yang pertama terlintas adalah kutipan-kutipan tweet 'salah gaul' yang pernah nge-trend di sekitar tahun 2011-2013. Namun ternyata ada hal lain tentang fiksi yang bisa dituangkan dalam 140 karakter, yang dimana angka 140 merupakan karakter maksimal yang diijinkan dalam satu kali tweet. Fiksimini adalah jawabannya! Sebuah fiksi yang tertuang dalam satu tweet dengan karakter maksimal 140, tidak lebih. Akun @fiksimini yang sudah bergabung dengan twitter sejak Maret 2010 tersebut masih konsisten menyajikan tantangan-tantangan baru sebagai #TopikFiksimini di hampir pada setiap harinya. Pada hari-harinya pun akan selalu tersaji fiksi-fiksi pedas, lucu, berpikir, dan bermacam ekspresi lain yang tertuang dalam 140 karakter kurang. Coba langsung saja melihat contoh-contoh fiksimini: (diantaranya dari karyaku hehe) Topik: Pisang " @ rexy_and : MUNGKIN DIA MENYIMPAN KU...

[OPINI] - Duality of the Sun

"Yeaaay, ada matahariii! Akhirnyaaa..." kata seseorang yang lari menerjang pantai. "Hei, pakai sunblock -mu, sinar matahari langsung gak baik buat kulit." Seseorang yang lain berucap. Penuh komplikasi. Matahari adalah sumber energi terbesar di dunia, karena satu lampu neon tak mungkin bisa menerangi bahkan untuk seluruh Jakarta  maka tentunya matahari merupakan satu hal yang diagungkan sebagai ciptaan yang indah. Mentari, Surya... tentu sudah banyak orang yang terbantu dengan kehadirannya. Cucian kering, aktivitas berjalan lancar, tak perlu menggunakan lampu dalam ruangan, dan beberapa keuntungan lainnya. Sebagian orang juga selalu merindukan matahari begitu musim hujan gelap datang. Tak terkecuali, ketika sedang mencuci kendaraan, tentu yang diharapkan muncul bukanlah awan gelap itu, namun mentari. Bahkan jika akhirnya hujan datang, kehadiran matahari setelahnya mempunyai kemungkinan untuk menciptakan pelangi si spektrum cahaya, satu hal yang disukai banyak o...

[CERPEN] - Hanya Kampung

            Klik. Angin khas sawah pedesaan menyambut langkah pertama yang kuciptakan setelah keluar dari mobil. Padi-padi masih belum menunjukkan kehadirannya, hanya hamparan hijau yang terlihat dari tempatku kini berdiri. Matahari sudah beranjak dari kasurnya sejak 3 jam lalu, hingga hanya hangat yang disisakannya kini. Biru pegunungan masih terlihat mengagumkan dari sini. Sebuah kesempurnaan alam yang tak pernah gagal membuatku takjub. “Mas Toni mau istirahat dulu? Rumah bapak sudah disiapkan kalau mas masih lelah,” kata Dani, anak dari Pak Pras yang sepertinya ditugaskan untuk menyambutku. “ Nggak usah repot-repot, Dan,” kataku menolak. “saya di sini cuma sehari kok, nanti sore sudah balik ke kota.” “Baik, Mas. Nanti siang makan di rumah ya,” kata Dani lagi. “Eh nggak usah nggak apa-apa, Dan, jangan terlalu ngerepotin !” responku, merasa tidak enak dengan semua perlakuan orang-orang ini. “ Ndak papa, Mas. Sudah kewajiban kami juga menerima ...

[OPINI] - Cabai

Cabai. Sejujurnya, apa yang menarik dari pohon kecil yang lemah itu? Ya, kukira normal jika semua orang berpikir seperti itu, karena itulah yang kupikirkan sebelumnya . Namun yang sekarang aku tangkap, pohon cabai adalah satu pohon yang menarik. Pohon apalagi yang tumbuh hanya dengan tinggi maksimal sekian sentimeter, namun mendadak menjadi barang paling dicari ketika musim dimana subur tidak lagi mengunjunginya? Menyenangkan ketika akhirnya melihat orang-orang mengeringkan buah-buah cabai untuk mendapatkan intinya. Menyenangkan ketika akhirnya semua orang seakan sadar bahwa bumi butuh lebih banyak tanaman untuk lebih hidup. Atau tidak? Mereka hanya egois ingin mendapatkan kepuasan diri sendiri dengan rasa pedas yang nantinya akan dihasilkan itu? Meski, sebuah kesedihan pula melihat pohon-pohon itu akhirnya layu, mengering, dan berubah cukup hanya menjadi pupuk kompos rumput lain ketika musim subur cabai datang kembali. Manusia-manusia itu menjengkelkan. Atau tidak? Setidaknya, ...

[PUISI] - Terdengarkah?

Terdengarkah, terdengarkah? Dedaunan kering itu kini terjatuh tanpa kasur empuk Kakek nenek itu mulai kelelahan mencari benih kapuk Kayu-kayu itu jatuh, termakan usia dan mulai lapuk Namun apakah ada satu yang mendengar? Terdengarkah, terdengarkah? Gegap gempita dari lampu jalan kota Para muda dengan terlinga tertutup benda Dentum musik dari ruangan penuh cahaya Tentu semua mendengar, tentu semua tersadar Dalam satu bumi, dalam satu dunia Satu, dua, tiga tak mendengar Satu, dua, tiga tak tersadar Namun apakah mendengar diperlukan? Apakah tersadar diperlukan? Ataukah hanya ketakacuhan yang dibutuhkan? Karena dunia semakin kejam... dengan dia sendiri yang mampu membunuh inangnya